10 Desember 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Manajemen Amburadul, Penyaluran BBM ke SPBN Tanjung Limau Disetop


Manajemen Amburadul, Penyaluran BBM ke SPBN Tanjung Limau Disetop
SPBN Tanjung Limau yang menjadi lokasi penyaluran solar kepada nelayan.

KLIKBONTANG.COM- Penyaluran bahan bakar minyak untuk nelayan di Kota Bontang melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dihentikan sejak beberapa bulan lalu. Sebab PT Pertamina sebagai pemasok bahan bakar menolak mengirim kuota sebesar 70 Kilo Liter (KL) per bulan selama permasalahan internal SPBN belum rampung.

“Memang sejak beberapa bulan lalu, sudah dihentikan (penyaluran BBM ke SPBN, Red.). Untuk alasan pasti saya tidak tahu. Tapi kabarnya, selama masalah di internal manajemen Perusda ini belum selesai, PT Pertamina tidak mau ngirim,” jelas Idhamsyah, Kepala Seksi Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan Kelautan dan Pertanian (DPKP) Bontang kepada KLIKBONTANG.COM.

Ia mengisahkan, SPBN tersebut sejatinya berdiri atas usulan DPKP Bontang, sebagai sarana pendukung keberadaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Limau yang dibangun sekira 2004 lalu. Sebagai upaya memenuhi kebutuhan bahan bakar nelayan dengan nilai rendah usai disubsidi pemerintah.

Namun secara bertahap, pengelolaan SPBN akhirnya beralih ke tangan Perusahaan Daerah (Perusda) yang dibentuk Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang kala itu. Semua lantas berjalan mulus, dengan kuota awal 100 KL per bulan. Namun karena maraknya aktivitas perdagangan bahan bakar illegal di luar SPBN, akhirnya bisnis bahan bakar di SPBN sepi pembeli.

“Jadi dalam sebulan itu pasti tidak bisa habis yang 100 KL. Akhirnya, dikurangilah oleh PT Pertamina jadi 50 KL per bulan,” kenangnya.

Usai pengurangan tersebut, tiba-tiba penjualan bahan bakar meningkat drastis. Sebab kala itu, parat kepolisian juga gencar melakukan penindakan terhadap pedagang BBM illegal. Sehingga menyebabkan nelayan kesulitan mencari bahan bakar dan memilih SPBN sebagai solusi. Kondisi pun berbalik. SPBN yang semula kesulitan menjual BBM, kini malah kekurangan bahan baku.

“Akhirnya manajemen minta tambah kuota. Dan dikabulkanlah angka 70 KL per bulan, yang diterapkan sampai akhir penyaluran beberapa bulan lalu,” tuturnya.

Akibat penghentian penyaluran tersebut, Idham-sapaannya- pun menerima kabar kesulitan dari nelayan lokal. Sebab tidak bisa lagi menikmati BBM bersubsidi dari SPBN. Melainkan harus mengandalkan BBM yang dijual dengan nilai lebih tinggi.

“Biasanya mereka ada beli di wilayah mereka masing-masing. Seperti di Lok Tuan misalnya. Ada unit yang jual BBM, entah sumbernya dari mana saya tidak tahu pasti,” tukasnya. (*)

Reporter : Imran Ibnu    Editor : Imran Ibnu



Comments

comments


Komentar: 0