26 Juni 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Rawan Temuan Hukum, Dana Talangan BPD Tak Bisa Digunakan Bayar Utang


Rawan Temuan Hukum, Dana Talangan BPD Tak Bisa Digunakan Bayar Utang
Ilustrasi

KLIKBONTANG.COM- Tuntutan penggunaan dana talangan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) oleh sejumlah kontraktor lokal dianggap riskan pelanggaran hukum. Sebab, pembayaran bunga yang akan menjadi beban Pemkot, tak bisa diakomodir dalam pos anggaran mana pun.

Bahkan, menurut Amiludin, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bontang, mekanisme pemanfaatan dana tersebut, harus mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Kalau BPD sendiri, hari ini diminta, lusa sudah bisa cair. Tapi, proses untuk melegalkan itu, seperti apa? Bukan hal mudah,” jelas Amiludin kepada klikbontang.com 9 Januari 2017.

Terkait jumlah dana talangan, ia tidak bisa menjelaskan secara rinci. Namun, jumlah Rp60 miliar yang disebutkan salah seorang kontraktor dalam jumpa pers belum lama ini, bisa lebih besar. Bahkan, sebut dia, BPD bisa menyiapkan hingga tiga kali dari nilai tersebut.

Hanya saja, bunga yang ada dalam fasilitas tersebut tidak bisa diakomodir dalam pos anggaran yang ada.

“Kecuali tidak ada bunga bisa saja. Tapi ini kan perbankan, pasti ada. Dan pos untuk bayar bunga ini tidak ada, inilah yang berpotensi jadi temuan jika dipaksakan,” bebernya.

Ia juga menjamin upaya pembayaran piutang Rp195 miliar milik kontraktor lokal pada Januari 2017 ini tetap berlanjut.

KLIK JUGA: Rp 5 Miliar Belum Terbayar, Konsultan Ikut Protes

Sedangkan perihal pajak, katanya telah mendapat jaminan toleransi dari Kantor Pajak Pratama. Sehingga, keterlambatan pembayaran tidak akan berpengaruh pada penerbitan pajak tahunan.

“Kita tentu tidak bisa melarang kontraktor menuntut haknya. Tapi, kami imbau, pakai cara yang baik, tetap kondusiflah. Karena ini bukan kesalahan kita, ini karena transfer DBH (Dana Bagi Hasil) belum juga dilakukan pusat,” tuturnya. (*)

Reporter : Imran Ibnu    Editor : Nur Aisyah



Comments

comments


Komentar: 0