18 Juni 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Kisah Bos Kuliner asal Bontang; Gara-Gara Bertemu Pengusaha Ice Cream (2)


Kisah Bos Kuliner asal Bontang; Gara-Gara Bertemu Pengusaha Ice Cream (2)
Valdy Galih Saputra (kanan) saat mengikuti Duta Shell LiveWIRE BSA 2010. (Foto: Dok. pribadi)

KLIKBONTANG - Menggeluti satu bisnis, rupanya tak cukup memuaskan bagi Valdy Galih Saputra. Akhir medio 2009, Valdy --begitu ia disapa-- kembali mencoba peruntungan. Kali ini dengan membuka bisnis t-shirt. "Modalnya ya dari uang bisnis pertama," tuturnya kepada klikbontang.

Meski sempat banyak mendapatkan order, sayang bisnis ini hanya bertahan sekira 4 bulan. Musababnya apalagi kalau bukan mandeg ditengah jalan. "Ya memang sifatnya sembari nyambi kuliah. Saya merasa ini juga bukan passion saya," aku Valdy.

Tuntas dengan remeh-temeh bisnis t-shirt, Valdy tidak kapok untuk terjun ke bisnis lain; batik. Inspirasinya dari Sulais dan Chiva Sukmawati yang tak lain adalah orangtua Valdy. Dulu, ketika masih tinggal di Bontang, sang ayah dan bunda kerap menerima souvenir kain batik.

Di tangan Valdy, wajah batik diubah menjadi casual dan khas anak muda. Pilihannya jatuh pada jaket berbahan batik tenun dengan brand The Unique Culture. "Saya sempat survei di Jalan Malioboro dan di Pasar Beringharjo. Di sana belum ada yang jual," sebut Valdy.

Di fase ini, Valdy sempat menjajal sebuah business plan challenge tingkat nasional. Namanya Duta Shell LiveWIRE Business Start-up Awards (BSA) 2010 dengan hadiah utama Rp 20 juta. Informasi lomba itu diterima dari seorang kawan via jejaring sosial Facebook.

Valdy ikut kategori fashion dengan produk unggulan batik yang diaplikasikan menjadi jaket, helm, dan sepatu. Motif batik yang digunakan adalah citarasa Nusantara. Seperti batik Cirebon, batik Madura, batik Kaltim, batik Jawa, dan lain-lain.

Tanpa pikir panjang, Valdy memutuskan mengikuti kompetisi itu meski tak mengetahui soal apa itu business plan.
Menariknya, keikutsertaan Valdy boleh jadi serba dadakan. Untuk membuat proposal saja sebagai salah satu syarat, Valdy justu copy paste file dari kawannya itu. "Terus saya edit, disesuaikan sama core bisnis saya. Jarak waktu mendaftar sebenarnya sudah habis. Jadi saya kumpul proposal waktu injury time," ujar Valdy.

Jeda 1 bulan, Valdy tiba-tiba mendapat telepon. Ternyata, suara di ujung ponsel genggamnya adalah salahsatu juri Duta Shell LiveWIRE BSA 2010. "Katanya saya lolos ke penjurian tingkat regional Yogya. Singkat cerita proposal saya diterima dan saya lolos sampai 15 besar (dari 500 lebih peserta, Red.) dan maju ke penjurian di Jakarta," papar Valdy.

Hanya dengan modal semangat, Valdy bertolak ke ibukota. Tapi di sana justru ada momen yang bikin Valdy terkejut. Belum juga menjadi bos kuliner, Valdy diberi service laiknya pengusaha top Tanah Air.

Pihak penyelenggara menempatkan Valdy di hotel berbintang sekitar Senayan. Kemana-mana naik taxi Silver Bird yang kondang dengan merek Mercy dan Alphard.

"Belum pernah terbayang sebelumnya, anak umur 19 tahun sudah dapat fasilitas seperti itu. Apalagi dikompetisi itu yang masuk saya yang paling muda ketika masuk babak final. Di satu sisi minder, tapi di sisi lain jadi motivasi untuk membuktikan kalau yang muda juga bisa," ulas Valdy.



Reporter :     Editor : Dasrun Darwis



Comments

comments


Komentar: 0