20 November 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Osteoarthritis Bisa Serang Usia Muda


Osteoarthritis Bisa Serang Usia Muda
(Foto: Ilustrasi)

KLIKBONTANG - Keluhan nyeri sendi pada lutut tidak hanya dirasakan para lansia, usia muda pun bisa kena. Penyebabnya, di antaranya, olahraga berlebihan serta kelebihan berat badan. Selain itu, masih ada beberapa penyebab lainnya.

Lutut merupakan bagian tubuh yang selalu digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Untuk berjalan, berlari, melompat, dan berbagai gerakan lainnya. Sendi lutut merupakan sendi yang ’’beban kerjanya’’ cukup berat. Yakni, bisa menahan beban hingga 3–4 kali berat tubuh. Gangguan pada sendi lutut pasti mengganggu aktivitas fisik.

Keluhan nyeri pada sendi lutut atau osteoarthritis kerap dialami orang yang berusia lanjut. Namun, kaum muda juga memiliki faktor risiko mengalaminya lebih dini, jika ditunjang faktor-faktor berikut.

Pertama, kelainan bentuk kaki yang mengakibatkan tekanan pada lutut menjadi lebih besar. Misalnya, pada bentuk kaki flat yang diabaikan sejak kecil. Kedua, pemakaian alas kaki yang tidak tepat. Yang sering terjadi, perempuan kerap menggunakan sepatu tidak berdasar kenyamanan, tetapi sekadar mode. Akibatnya, posisi kaki menjadi tidak tepat dan memberikan beban yang lebih besar terhadap sendi lutut.

Ketiga, penggunaan berlebihan (overused). Berdasar tren saat ini, banyaknya ajang lari mulai 5K, 10K, half marathon, marathon, hingga ultramarathon. Banyak orang mengikuti ajang ini. Yang menjadi problem adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk mengikuti lari melebihi kemampuan tubuhnya.

Dokter Michael Triangto SpKO menuturkan, ketika berlari, ada entakan setiap kali melangkah dan mendaratkan kaki depan ke permukaan tanah. Tekanan pada kaki depan bisa mencapai empat kali berat tubuh. Tekanan itu harus ditahan sendi lutut. ’’Apabila terjadi terus-menerus dan dalam jangka panjang, berisiko menimbulkan kerusakan pada sendi lutut,’’ ujarnya.

Olahraga ekstrem yang menekankan pada keberanian dan tantangan seperti parkour, gerakan melompat, dan berputar secara ekstrem berisiko menimbulkan gangguan pada sendi lutut. Perempuan jauh lebih berisiko mengalami nyeri sendi dibandingkan dengan laki-laki. Sebab, laki-laki memiliki struktur tubuh lebih tinggi dan besar serta otot dan tulang yang juga lebih kuat.

’’Hal ini yang membuat daya tahan laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. Belum lagi faktor hormonal,’’ kata dokter dari Slim+Health Sports Therapy itu.

Faktor berikutnya adalah obesitas. Berat tubuh berlebih memberikan tekanan yang lebih besar terhadap lutut. Makin berat kerja sendi lutut mengakibatkan repetitive injury. Alhasil, masih muda sudah terkena osteoarthritis karena obesitas.

Bagaimana mencegahnya? Sendi perlu dilatih. Karena itu, sejak usia muda, biasakan berolahraga. ’’Namun, yang harus diwaspadai, olahraga jangan berlebihan. Harus terprogram, terukur, dilakukan teratur, dan berkesinambungan,’’ kata dr Michael. Olahraga yang praktis tidak melakukan gerakan eksplosif seperti golf juga bisa mengalami nyeri pada sendi lutut jika tidak dilakukan dengan tepat.

’’Saat posisi drive, apalagi berulang sampai ratusan kali, terjadi tekanan terus-menerus pada sendi lutut,’’ jelasnya.

Profesi tertentu, antara lain, atlet atletik, renang gaya tertentu (gaya katak karena ada hentakan pada lutut), panjat tebing, sepeda, angkat beban, serta aktivitas lain yang melakukan gerakan repetitif pada lutut memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoarthritis. Bagaimana treatment yang dilakukan? Bergantung faktor penyebabnya.

Dokter Michael menjelaskan, jika penyebabnya kelainan bentuk kaki, dilakukan koreksi lebih dulu. Penggunaan alas kaki disesuaikan dengan kebutuhan. Obesitas diatasi dengan menurunkan berat badan yang bisa dibantu pemberian obat pereda nyeri. Jika karena overused atau repetitive injury, sembuhkan cederanya. Kemudian, bisa mengganti olahraga atau latihan yang dilakukan.

Misalnya, dari lari menjadi joging atau joging ke bersepeda. Sebab, ketika bersepeda, sebagian berat tubuh ditahan sadel sepeda sehingga tekanan ke lutut lebih minimal. Bisa juga berenang. Namun, sekali lagi, jenis olahraga disesuaikan dengan kondisi fisik dan kebutuhan setiap orang. (jm13/jawapos)

 

Reporter :     Editor : Dasrun Darwis



Comments

comments


Komentar: 0