18 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Bocah asal Bontang Ini jadi Penghafal Alquran Termuda di MHQ 2017


Bocah asal Bontang Ini jadi Penghafal Alquran Termuda di MHQ 2017
Aisyah Putri Al Khonsa Salah satu peserta termuda dalam lomba musabaqoh hifdzil qur’an tingkat nasional antar pesantren se-Indonesia

KLIKBONTANG.COM- Usia Aisyah Putri Al Khonsa memang masih menginjak tujuh tahun. Namun, kemampuannya menghafal Alquran tak perlu diragukan. Gadis cilik berusia 7 tahun 9 bulan ini berasal dari Pesantren Baitul Qur’an, Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Anak pasangan Antoni-Ummu Khonsa itu juga mampu membaca tajwid dengan sangat baik. Keuletannya menghafal Alquran akhirnya membuahkan hasil. Kini, dia mengikuti Musabaqoh Hifdzil Qur’an ‘MHQ” tahun 2017 lomba kategori 10 juz di Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta.

Mulai menghafal al Qur’an pada usia 4,5 tahun saat melihat penghafal al Qur’an cilik yang benama Musa kemudian menginspirasinya, maka saat itulah Aisyah mulai bertekad menghafal Al Qur’an. Juz Amma’ menjadi hafalan pertamanya, yang dilanjutkan dengan juz satu dan seterusnya. Sedangkan untuk Teknik menghafal menurut ayahandanya sampai saat ini Aisyah sudah mampu menghafal sehari 8 ayat.

Aisyah Putri Al Khonsa Salah satu peserta termuda dalam lomba musabaqoh hifdzil qur’an tingkat nasional antar pesantren se-Indonesia. Musabaqoh Hifdzil Qur’an di Darunnajah menjadi yang pertama diikutinya untuk tingkat nasional.

Untuk mengikuti ajang ini Aisyah mempersiapkan diri dengan bangun jam 2 pagi tiap harinya untuk melakukan muroja’ah besama orang tuanya. Kadang bangun sendiri, kadang ayah bundanya yang membangunkan, dan tak jarang juga Aisyah sendiri yang membangunkan kedua orang tuanya.

Antony mengatakan, Aisyah sudah mulai dikenalkan hafalan Alquran sejak umur empat tahun. Setiap malam, Antony dan Ummu selalu membimbing Aisyah menghafal Alquran.

Hal itu dilanjutkan setiap subuh. Bacaan yang dihafal malam hari diulang saat subuh. “Setiap Senin-Jumat sepulang sekolah, kami juga selalu murojaah (mengulang) hafalannya. Meski begitu, waktu untuk bermain juga tetap ada. Hanya saja memang kami batasi. Begitu juga tontonannya,” ucap Antony.

Layaknya anak pada umumnya, semangat Aisyah untuk menghafal juga kerap kali naik-turun. Karena itu, Antony dan Ummu memasukkan Aisyah ke lingkungan para penghafal Alquran. “Saya masukkan dia di Baitul Quran Pisangan karena di sana banyak teman-temannya yang juga penghafal Alquran,” ujar Antony.

Dia menambahkan, kecintaan Aisyah terhadap hafalan Alquran makin tinggi. Itu terbukti ketika Aisyah sakit dan dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu. Saat itu, kata Antony, Aisyah mengaku khawatir kehilangan hafalan. Yang lebih hebat, prestasi Aisyah di sekolah juga sangat bagus.

“Kalau nanti bisa hafal 30 juz, dia minta hadiah umrah karena dia ingin sekali lihat kakbah. Jadi insyaallah kalau nanti kami ada rezeki, semoga saja bisa terwujud,” Kata Antony.

Dengan usaha dan perjuangan yang telah dilakukan, akhirnya Aisyah mendapatkan juara 3 pada kategori putri hafalan 10 Juz. Ditanya saat selesai pengumuman pemenang, hadiah apa yang akan diberikan orang tuanya jika masuk final, dengan mantap Aisyah menjawab ingin melaksanakan umrahh.

Menjadi pengajar di Masjid Nabawi menjadi cita-cita Aisyah selanjutnya, sebuah cita-cita yang jarang sekali terucap dari seorang anak kecil berusia 7 tahun ini, subhanallah! Semoga cita-citamu terkabul nak!.Untuk bisa menjadi seorang hafidz atau penghafal al Qur’an tidak hanya keturunan ustadz, kiai, atau bahkan wali, orang biasa seperti saya juga bisa menjadi seorang penghafal al Qur’an ucap ayahanda Aisyah.

"Yang penting adalah kemauan dan niat yang tulus untuk menghafal Al Qur’an, insya allah segala kemudahan akan didapat dengan keikhlasan tersebut," kata sang Ayahanda Aisyah.

Insya Allah tahun depan Aisyah akan kembali ke Darunnajah untuk mengikuti Musabaqoh Hifdzil Qur’an edisi selanjutnya dengan mengikuti kategori yang lebih tinggi. (*)




Comments

comments


Komentar: 0