18 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Cara Pemkot Minimalisir Kekerasan Perempuan dan Anak


Cara Pemkot Minimalisir Kekerasan Perempuan dan Anak
Pelatihan Pendampingan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan selama dua hari, 7 dan 8 November 2017 di Gedung Sekretariat Persatuan Istri Karyawan Pupuk Kaltim (PIKA-PKT). beberapa waktu lalu. (KLIKBONTANG/DOK)

KLIKBONTANG.COM- Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (DSP3M) Kota Bontang menggelar Pelatihan Pelayanan dan Pendampingan Perempuan dan Anak Korban Tindak Kekerasan di Kota Bontang, Kalimantan Timur, di Pendopo Rujab Walik Kota Bontang, Selasa (14/11/17) pagi tadi.

Acara ini dibuka Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni diwakili Reza Pahlevi selaku Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum. Hadir pula, Kepala DSP3M, Abdu Safa Muha, perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Camat, Lurah, Catur Udi Handayani, SH dan Reni Murni sebagai narasumber.

Dalam laporannya, Kepala DSP3M Bontang, Abdu Safa Muha menjelaskan pelantikan ini diikuti sebanyak 20 peserta dari P2TP2A Kota Bontang, kecamatan hingga sekolah. Hal ini sesuai implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

"Pelatihan ini bertujuan untuk melatih masyarakat agar mampu menjadi konsultan dan pendamping pada perempuan dan anak korban kekerasan," jelas Safa melansir laman PPID Bontang.

Sementara, Reza Pahlevi menjelaskan sebagai bentuk kepedulian Pemkot Bontang terhadap perempuan dan anak korban kekerasan. Bahkan, untuk menguatkan itu Pemkot membuat Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 9 Tahun 2012 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Tindak Kekerasan.

Selain itu, juga dibentuk beberapa organisasi dan lembaga yang menangani perlindungan perempuan dan anak seperti, P2TP2A Tingkat Kota, Kecamatan, 3PANG Laut, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), dan Perlindungan Anak Terpadu berbasis masyarakat (PATBM).

“Kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari jumlah data yang teridentifikasi Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat yakni, sebanyak 84 kasus pada tahun 2014, 103 kasus pada tahun 2015, 105 kasus pada tahun 2016 dan pada semester pertama tahun ini terdapat sebanyak 50 kasus,” beber Reza.

Di akhir sambutan, Reza berharap agar Pemkot Bontang melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat dapat terus mengakomodir kegiatan yang mendukung pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bontang. Dengan diakomodirnya kegiatan tersebut, pelayanan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan lebih optimal. (*)

Reporter : Aysah Idris    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0