11 Desember 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Bontang Butuh Penangkaran Buaya!


Bontang Butuh Penangkaran Buaya!
Buaya 2,7 meter berhasil diamankan Tim BKSDA Kaltim dari Kolam Pemancingan Arwana PT Pupuk Kalimantan Timur, April 2017 lalu.

KLIKBONTANG.COM- Wakil Ketua II DPRD Kota Bontang, Faisal meminta Pemkot Bontang tak memandang sebelah mata masalah buaya yang kian hari mengkhawatirkan bagi warga pesisir di Kota Bontang, terutama Kampung Selambai, Kelurahan Lok Tuan.

Berdasarkan data yang dibeber Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang, ada delapan kelurahan di Kota Bontang yang dianggap rawan dan menjadi habitat predator berdarah dingin itu. Diantaranya, Kelurahan Guntung, Lok Tuan, Bontang Kuala, Api-Api, Kanaan, Bontang Lestari, Berbas Pantai, dan Tanjung Laut Indah. Kendati, DLH belum memiliki data pasti terkait jumlah buaya yang ada di Kota Bontang.

Intensitas penampakan buaya di tengah pemukiman padat penduduk bukan hal dianggap sepele. Apalagi, kata Faisal, buaya-buaya ini pernah membuat ketar-ketir warga sekitar pada medio 2012 lalu.

"Buaya ini sudah sering muncul dan bikin khawatir. Seingat saya 2012 lalu juga pernah ada korban akibat digigit buaya. Apa harus menunggu korban lagi?" tegas legislator Nasional Demokrat ini.

Faisal juga menilai sudah saatnya Kota Bontang memiliki penangkaran buaya. Buaya itu bahaya. Tetapi, penangkaran buaya juga diperlukan agar satwa liar ini terpelihara dari kepunahan. Selain itu, jika ada penangkaran ini bisa menjadi objek pariwisata untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Kehadiran penangkaran buaya di Bontang juga bisa menyerap tenaga kerja dan menghidupkan sektor usaha kecil yang lain," katanya.

Disadarinya, untuk membuat penangkaran buaya perlu kajian dan dana besar. Namun, dia berharap perusahaan sekitar buffer zone ikut serius memerhatikan bahaya buaya ini. Apalagi, habitat asli buaya tersebut berada di dekat PT Pupuk Kaltim (PKT).

“Perusahaan juga harus ikut memikirkan ini lah, kerja sama dengan Pemkot untuk membuat penangkaran buaya," pintanya.

Sementata, DLH Bontang menganggap pemindahan buaya ke penangkaran khusus hanya sebagai solusi sementara saja. Sebab, hewan predator ini bakal kembali ke habitatnya yang dianggap nyaman.

Fakta ini diungkapkan Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam DLH Bontang, Pujo Kuncoro. Kejadian itu pernah terjadi sekira dua tahun lalu, 2015. Kala itu buaya yang berhasil ditangkap di Lok Tuan, Kota Bontang diberi tanda khusus dengan memotong sisiknya.

Usai diberi tanda, hewan karnivora itu lalu dipindahkan ke penangkaran telaga bening di Kutai Timur bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kutai. Baru berjalan 6 bulan, buaya yang sama kabur dan kembali ke habitat awal ditangkap.

"Di 2015 lalu air di telaga bening kering, semua buaya kabur. Buaya yang kemarin kami potong sisiknya sebagai tanda kami tangkap lagi di Lok Tuan,” ungkapnya saat ditemui usai rapat kordinasi DPRD dengan beberapa OPD terkait penanganan buaya beberapa hari lalu.

Trans lokasi buaya yang dilakukan pihaknya itu dinilai hanya bersifat sementara saja. Menurutnya hal ini terjadi karena reptil bertubuh besar ini selalu bergerak. “Saat musim kering buaya akan kembali ke muara namun saat musim huja akan ke hulu untuk mencari makan karena banyak ikan,” jelasnya.

"Kalau ada buaya lewat atau berjemur jangan diganggu dan jangan memancing kehadiran buaya datang ke darat,” imbaunya. (*)

Reporter : Zaenul Fanani    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0