24 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Neni Geram, 10 Hari sebelum Ditangkap Terima Kabar


Neni Geram, 10 Hari sebelum Ditangkap Terima Kabar
Walikota Bontang, Neni Moerniaeni.

KLIKBONTANG.COM- Walikota Bontang, Neni Moerniaeni geram dengan tindak asusila oknum pimpinan pondok pesantren (Ponpes) sekaligus panti asuhan Im (48) di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Neni pun mengutuk keras sikap tak terpuji oknum tersebut.

"Saya marah sekali dengar kasus ini. Saya enggak habis pikir. Apa oknum ini tidak merasakan tekanan psikis para korban. Kasihan anak-anak jadi korban, apalagi sampai ada yang hamil," tegas Neni menghubungi KlikBontang.com, Sabtu, 9 Desember 2017. KLIK JUGA: Orangtua Santri: Terduga Cabul Orangnya Baik

Sejatinya, wanita yang juga Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bontang ini sudah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait dugaan pelecehan seksual di ponpes sekaligus panti asuhan di Kecamatan Bontang Utara itu. 10 hari lalu sebelum ditangkap, Neni langsung bertindak cekatan dengan mengutus P2TPP2A ke lokasi dimaksud bersama Polres Bontang.

"Sebelumnya ditangkap, 10 hari lalu saya sudah dapat kabar ini dari masyarakat. Tapi, saya enggak mau buru-buru, karena perlu adanya investigasi dulu," tambah Neni.

Para korban sudah mendapatkan pendampingan dari P2TPP2A di lokasi yang dirahasiakan. Walikota Neni pun tak ingin masyarakat Kota Bontang mendiskriditkan ponpes sekaligus panti asuhan tersebut. Sebab, kejadian ini murni dilakukan oknum pendiri, bukan instansi.

"Ini murni oknum, jangan sampai mendiskriditkan ponpes tersebut. Kami akan mengawasi seluruh panti ataupun ponpes di Kota Bontang," lanjut Neni.

Kasus ini pun menjadi pembelajaran. Program Deteksi dan Edukasi Informasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak (Detektif Cekatan) menuju sekolah bebas kekerasan kian digiatkan. Terutama menyasar panti asuhan dan pondok pesantren.

Upaya Pemkot Bontang ialah mempersiapkan generasi cerdas, sehat, sehingga tidak ada kekerasan yang diderita anak-anak. Salah satunya melalui program Detektif Cekatan. Jika tidak mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas sejak dini, tentunya ke depan Bontang akan menjadi kota yang menyedihkan.

Melalui Detektif Cekatan ini, siswa diminta untuk dapat mendeteksi, mengedukasi, memberikan informasi kekerasan pada anak. Sebab, saat ini kekerasan pada anak cukup tinggi. Neni mencontohkan, anak di bawah umur dipaksa oleh orangtuanya untuk bekerja, dipukul, hingga memakai obat-obatan terlarang. KLIK JUGA: Pengasuh Ponpes Ragu Terduga Hamili Santriwati

"Jangan mau jika ada yang nawarin permen secara gratis ya. Enggak usah diterima. Saat ini hanyak modus untuk menghancurkan masa depan anak-anak kita. Jika ada yang raba-raba, laporkan," tegas Neni.

Dia pun menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengusut kasus tuntas ini. Sehingga tidak terulang lagi dengan anak-anak panti asuhan lainnya. "Cukup ini jadi yang terakhir, jangan sampai terulang," harapnya. (*)

Reporter : Said NR    Editor : Imran Ibnu



Comments

comments


Komentar: 0