17 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Bontang Pernah Dijajah Jepang dan Belanda; Penjara Berusia 1 Abad, Kantor Camat Berbau Mistis


Bontang Pernah Dijajah Jepang dan Belanda; Penjara Berusia 1 Abad, Kantor Camat Berbau Mistis
Ini dia bangunan peninggalan sejarah ini menjadi pusat kegiatan Jepang dan Belanda. (KLIKBONTANG)

KLIKBONTANG.COM - Jauh sebelum Kota Bontang, Kalimantan Timur berkembang pesat seperti saat ini, ternyata daya tarik Bontang juga telah diminati negara-negara penjajah sejak dulu. Terbukti, negara seperti Jepang dan Belanda pernah menjadikan Bontang sebagai pusat kegiatan hilir mudik negeri sakura dan kincir angin tersebut. Bangunan yang mirip toilet ini ternyata dulu adalah penjara yang digunakan Jepang dan Belanda.

Beberapa waktu lalu, KLIKBONTANG.COM berkesempatan mengunjungi salah satu rumah warga di Bontang Kuala yang ternyata masih banyak menyimpan situs-situs sejarah peninggalan zaman penjajahan. Yakni berupa bangunan bersejarah peninggalan Belanda, Jepang dan Nica Revolusi merdeka yang berusia lebih dari 100 tahun. Bangunan itu adalah kantor polisi pertama di Bontang.

Bangunan yang didirikan pada tahun 1916 itu dibuat dengan tiang kayu ulin yang besar dan kuat. Bangunan tersebut sampai saat ini masih berdiri kuat di tengah-tengah warga Bontang Kuala tanpa ada perubahan, kecuali warna bangunan telah diperbarui. Karena, bangunan itu sempat ditempati oleh salah satu warga yang mereka panggil dengan sebutan Damsek (petugas di Kepolisian pada waktu itu).

Halimah, warga RT 11 Kelurahan Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara, saat ditemui di rumahnya membenarkan bangunan tersebut yang berada di jalan utama masuk kawasan wisata Bontang Kuala itu dulunya adalah kantor polsek pertama di Bontang. Itu dibuktikan dengan catatan sejarah yang ia ketahui dan pengalaman yang Ia alami pada waktu itu.

Di dalam bangunan itu terdapat satu ruangan kecil yang berukran 2 x 0,5 meter yang dulunya dijadikan tempat menginap gratis atau kandang macan para pelaku kriminal. Seperti perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan tempat para warga yang tidak mau melakukan gotong royong bersama masyarakat lainnya. Tempat tersebut dulunya dinamakan Selperan atau penjara.

Bukan itu saja, apabila terdapat warga yang tidak ingin melakukan atau membantu warga lain melakukan gotong royong maka di ruangan inilah warga itu dimasukkan sebagai hukuman. Mereka akan ditenggelamkan di dalam air berulang-ulang kali dalam jangka lumayan cukup lama, sekitar 30 menit sampai mereka jera dan mau berjanji untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi.

Halima warga Bontang kuala kelahiran 1969 ini juga mengatakan bahwa penjara yang terbuat dari bahan papan kayu tersebut hanya memuat 4 hingga 6 orang saja. Ia pun membenarkan hal itu karena Ia bisa melihat para pelaku melalui sela dinding papan penjara karena dulunya ia berjualan di samping penjara dan terkadang tahanan tersebut pun meminta makanan yang ia jual.

"Dulu saya berjualan di samping papan tahanan yang ada di kantor polsek ini. Waktu itu saya berusia 7 tahun. Saya bisa melihat orang didalam melalui sela-sela papan dan mereka juga kadang meminta makanan yang saya jual. Tapi kadang saya juga takut memberikan kepada mereka karena kalau ketahuan sama polisi, saya akan dimarahi," urainya.

Selain penjara, ada beberapa bangunan lagi yang masih tersisa dan menjadi saksi Bontang pernah dikunjungi bangsa kompeni. Yakni, kantor kecamatan Bontang pertama di Bontang Kuala. Bangunan tersebut adalah peninggalan Belanda, Jepang dan Nica Revolusi Merdeka yang dibangun sejak 1916.

Abdul Manaf, warga RT 12 Bontang Kuala sekaligus saksi sejarah saat ditemui di rumahnya mengisahkan pada zaman itu, mereka yang menjabat disebut Penjawat atau Kiai. Camat yang pertama menjabat adalah Masporwo pada 1916-1919. Setelah masa pemerintahan Masporwo selama 4 tahun, lalu diganti oleh Penjawat lain. Dari data daftar nama-nama Penjawat yang Abd. Manaf perlihatkan ada 24 Penjawat/Kiai atau camat yang menjabat setelah Kiyai Masporwo.

Dari 24 Kiyai, ada satu Kiyai yang memecahkan rekor dimasa pemerintahannya yaitu Kiyai Abdul Samad Alias Ambo Tang. PS. Beliau berhasil memindahkan kantor camat yang baru pada masa jabatannya di tahun 1970-1972 di daerah Kelurahan Api-Api (depan Kantor PHM). Setelah masa Jabatan Kiyai Abdul Samad habis, kantor camat dipindahkan lagi di depan kantor walikota lama hingga saat ini.

Abdul Manaf berujar semenjak kantor camat dialihkan ke Kelurahan Api-Api. Bangunan ini kosong sejak 1970-2013. Warga pun membersihkan bangunan yang Berusia 100 Tahun lebih tersebut. Dalam membersihkan bangunan, warga menemukan selongsongan peluru dan selongsongan granat yang diduga peninggalan zaman dulu. Karena, pada zaman dulu, bangunan ini pernah dijadikan penjara oleh Polsek setempat.

Setelah lamanya kosong, bangunan ini juga banyak menyimpan cerita mistis. Salah satu warga menceritakan, kalau di tempat ini sering terdengar suara tangisan, ketawa dan langkah kaki seperti sedang melakukan aktivitas. Bahkan, pernah terjadi kepada seorang Pegawai yang bekerja di Kantor KB diangkat keluar sampai ke pinggir jalan dalam keadaan tertidur. Tahun 2013, bangunan ini pernah dipergunakan sebagai Kantor KB (1 Tahun), tempat belajar tari, posko KKN dan dijadikan perpustakaan pada awal 2014 hingga saat ini.

"Bangunan ini adalah Kantor Camat Pertama Peninggalan Penjajah yang Berusia lebih dari 100 Tahun. Di tempat ini sebelum-sebelumnya juga sering terdengar suara orang menangis, ketawa dan seperti ada orang berjalan. Padahal gak ada siapa-siapa. Mungkin pengaruh karena bangunan ini terlalu lama kosong. Dulu juga ada salah satu orangnya KB sementara tertidur diangkat keluar ke jalan," pungkasnya. (*)

Reporter : Said NR    Editor : Imran Ibnu



Comments

comments


Komentar: 0