18 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Lolos Tahap 1, Bontang Tak Mau Gagal Raih Adipura


Lolos Tahap 1, Bontang Tak Mau Gagal Raih Adipura
Walikota Neni Moerniaeni berfoto bersama usai menerima piala Adipura Kirana di Istana Siak, Riau (KLIKBONTANG/ IMRAN)

KLIKBONTANG.COM - Kegagalan menyabet Adipura tahun lalu, menjadi cambuk Kota Bontang berbenah. Tahun ini, penghargaan tertinggi supremasi kota bersih bisa kembali singgah di Kota Taman.

Rasa optimistis itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang, Agus Amir kepada wartawan. Apalagi, kata dia Bontang sudah lolos tahap penilaian pertama (P1) dan memasuki tahap kedua (P2).

“P1 sudah selesai dan lolos. Penilaiannya berupa verifikasi inovasi, serta presentasi bagi daerah yang masuk dalam nominasi,” jelas Agus Amir.

Menurut Agus Amir, kegagalan tahun lalu pun sudah dibenahi. Yakni pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih kurang maksimal, sehingga dampak gas metan dan karbondioksida sebagai emisi gas rumah kaca, dinilai mampu menyebabkan pemanasan global serta perubahan iklim.

Lanjut dia, tahun ini pihaknya pun sudah melakukan upaya menutup Top Soil terhadap sanitary landfill, di TPA Bontang Lestari. Dan pekan ini 8 zona aktif akan segera tertutup seluruhnya.

Disamping berbagai upaya tersebut, Agus Amir juga meminta kerja sama seluruh pihak. Sebab, penghargaan Adipura merupakan kerja kolektif, dan bukan hanya ditangani satu instansi ataupun hanya pemerintah semata. Namun seluruh lapisan masyarakat yang diharap mampu saling bersinergi dengan baik.

“Harapannya agar Bontang mampu kembali meraih Adipura, bahkan kalau bisa Adipura Paripurna,” harap Agus Amir. 

Sekadar informasi, mulai tahun ini, parameter penilaian Adipura tidak hanya faktor kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah, melainkan juga pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Saat ini, pengelolaan sampah merupakan perhatian yang besar dari Pemerintah. Dimana Pemerintah mentargetkan pada tahun 2025, timbulan sampah yang dibuang ke TPA hanya sebesar 30 persen, sisanya yang 70 persen harus dilakukan pengelolaan dan pengolahan. (*)

Reporter : Omar NR    Editor : Nur Aisyah



Comments

comments


Komentar: 0