17 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Pendidikan Perlu Berpihak pada Perspektif Anak


Pendidikan Perlu Berpihak pada Perspektif Anak
Akhmad Suharto.

KLIKBONTANG.COM - Sistem pendidikan di Indonesia selama ini lebih banyak memposisikan anak sebagai objek pembelajaran, bukan subjek pembelajaran. Hal ini layak dijadikan refleksi bersama mengingat di negara-negara maju seperti Finlandia justru menempatkan anak sebagai pusat pendidikan.

"Mari kita kembali berefleksi, pendidikan ini untuk siapa? Jika untuk anak, mari singkirkan ego orang dewasa di dalamnya. Mari kembalikan pendidikan kepada akarnya, pendidikan yang berpihak pada perspektif anak," ujar Akhmad Suharto, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebdayaan (Disdikbud) Kota Bontang.

Menurut Suharto, hal yang perlu ditekankan bagaimana kurikulum yang ada saat ini bisa mencakup perspektif anak. "Sesuai temuan kami di lapangan, yang jadi masalah adalah alasan anak-anak belajar adalah untuk menghadapi ujian. Belum ada pola pembelajaran yang menumbuhkembangkan kematangan anak," katanya.

Ini disebabkan dalam kurikulum sekarang yang menjadi sentral adalah perspektif orang dewasa. "Padahal pemerintah perlu memikirkan, seandainya seorang anak sudah nyaman saat belajar, maka nilainya pun juga akan bagus," terang dia.

Kedua, terkait dengan pengembangan guru. Menciptakan seorang guru yang profesional juga harus menggunakan perspektif anak.

"Menciptakan guru seperti ini juga harus dibangun lewat pengembangan di kurikulum. Ini mulai dari lembaga yang mencetak guru, sampai melalui sertifikasi. Dengan demikian akan terbentuk guru yang memiliki kapasitas menumbuhkembangkan, bukan guru yang berbasis kognitif semata," ujar Suharto.

"Pendidikan yang bukan untuk pembelajaran. Apa yang dipelajari anak sehari-hari tidak selaras dengan yang diujiankan, akibatnya seringkali anak-anak justru disuruh mengikuti bimbingan belajar untuk menghadapi ujian yang ketat," tambahnya.

Jika sistem pendidikan kita kembali berpihak pada perspektif anak maka hal itu akan memberi secercah harapan bagi masa depan bangsa ini. Ia mencontohkan kasus di Finlandia, anak-anak lebih banyak bermain di sekolah, namun skor Program for International Student Assessment (PISA) negara tersebut tetap tinggi.

"Ini disebabkan anak-anak melalui proses pembelajaran dengan senang, jadinya nilai mereka pun menjadi bagus juga," kata Suharto. (INFORIAL)

Reporter : Omar NR    Editor : Suriadi Said



Comments

comments


Komentar: 0