18 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Kasus Tumpahan Minyak, Karyawan Pertamina jadi Tersangka


Kasus Tumpahan Minyak, Karyawan Pertamina jadi Tersangka
Pertamina angkat pipa putus. (Foto: Dok. Pertamina)

KLIKBONTANG.COM - Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan akhir Maret akhirnya menyeret “korban” baru. Bila sebelumnya pada Kamis (26/4), penyidik Polda Kaltim menetapkan nakhoda kapal MV Ever Judger Zhang Deyi (ZD/50) sebagai tersangka dan dilakukan penahanan. Kini giliran dari internal Pertamina RU V Balikpapan yang menjadi tersangka.

Dari informasi yang dihimpun, penyidik Subdit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter), Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kaltim terus menggali informasi dan fakta dari hasil penyidikan pemeriksaan tersangka ZD. Dalam perkembangannya, karyawan Pertamina berinisial IS ditetapkan sebagai tersangka.

Direktur Reskrimsus Polda Kaltim, Kombes Yustan Alpiani turut membenarkan hal tersebut. Namun, Polda Kaltim belum menahan yang bersangkutan. “Selanjutnya kami akan lakukan pemanggilan untuk dimintai keterangan sebagai tersangka,” ucapnya.

Dia mengatakan, IS bertanggung jawab terhadap jalur pipa bawah laut. Yang bersangkutan pernah pula dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus pencemaran laut akibat patahnya pipa minyak milik Pertamina di Teluk Balikpapan. “Kami sudah menghimpun bukti-bukti,” kata mantan Wakapolres Balikpapan itu.

Apakah ada indikasi lain selain jangkar kapal sebagai penyebab putusnya pipa berukuran diameter 20 inci dan ketebalan 12 milimeter, di kedalaman antara 22–25 meter itu? “Indikasi belum ada, namun sejauh ini bukti kuat mengarah ke jangkar MV Ever Judger,” jawabnya.

Menurut penyidik, ZD diduga lalai karena salah menerima informasi dan memberikan arahan kepada mualim untuk melepas jangkar. “Imbasnya, jangkar sekitar 20 ton itu menimpa pipa kemudian memutusnya,” paparnya. Ini terlihat dari bentuk patahan yang membentuk kerucut.

Dari pemeriksaan tersangka berikut anak buah kapal (ABK) yang seluruhnya warga Tiongkok itu, penyidik menyiapkan penerjemah bahasa Mandarin. Dalam pengakuannya, ZD tak mengetahui bahwa kapalnya berada di daerah terlarang terbatas (DTT).

Khususnya untuk membuang sauh. “Baik nakhoda maupun kapal baru pertama kali datang ke Teluk Balikpapan,” ucap Yustan. ZD pun sekitar dua pekan mendekam di sel tahanan. Kondisinya sehat dan baik. Beberapa ABK dan agen kapal sesekali membesuk. “Baik saja, yang bersangkutan terus kami pantau, termasuk kesehatannya,” imbuhnya.

Jangkar di bagian haluan kiri kapal mengenai pipa pukul 22.05 Wita pada 30 Maret 2018. Kemudian, berlayar mundur dengan kecepatan 5 knot. Perlahan mengurangi kecepatan hingga 1,1 knot. Dengan total dari lepas sauh ke lokasi saat kapal terbakar sejauh 498 meter. Nah, diduga saat itu menggeser pipa sekitar 120 meter.

Kesimpulan diperoleh setelah 55 saksi dan empat ahli dimintai keterangan. Disertai alat bukti. Pada jangkar ditemukan bekas kawat besi cor yang identik dengan yang membungkus pada pipa di bawah laut. “Jadi, kalau ada penyebab lain selain jangkar, belum ada kami temukan bukti,” ungkapnya.

Bukti tak terbantahkan, ada goresan pada jangkar, patut diduga karena gesekan dengan pipa. Ini dikuatkan pula hasil penelitian dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri Cabang Surabaya, ditemukan kawat besi cor pada pipa dan jangkar akurat. “Bahan dan bentuk sama,” jelasnya lagi.

Oleh penyidik, ZD disangka Pasal 98 Ayat 1, 2, 3 juncto Pasal 99 Ayat 1, 2, 3 UU RI Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, Pasal 359 KUHP tentang Kelalaian mengakibatkan orang lain meninggal.

Berkas masih proses dilengkapi untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Samarinda. “Kapan dilimpahkan ke Kejati? Nanti setelah semua rampung, kemudian diperiksa, kalau lengkap tidak ada revisi, tentunya tinggal persidangan,” urainya.

Soal munculnya api, dia belum bisa memberikan jawaban. Sebab, masih diselidiki Puslabfor Polri. “Belum. Kesulitannya karena lokasinya di tengah laut. Jadi, sumber api masih belum diketahui,” ungkapnya. (*)

Reporter : Jie Ramadhan    Editor : Suriadi Said



Comments

comments


Komentar: 0