21 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Harga Telur Tembus Rp 54 Ribu


Harga Telur Tembus Rp 54 Ribu
Warga tetap membeli telur meski harga melambung tinggi. (OMAR/KLIKBONTANG)

KLIKBONTANG.COM - "Telur lagi mahal. Naik terus. Masak seminggu bisa naik tiga kali berturut-turut, Rp46 ribu, besoknya Rp48 ribu, naik lagi jadi Rp54 ribu per piring”

Keluhan tersebut keluar dari mulut Ijum (39), warga Kelurahan Lok Tuan, Kota Bontang kepada Klikbontang.com, Kamis (12/7/2018). Ia terakhir kali belanja telur di Pasar Rawa Indah, Bontang seharga Rp54 ribu per piring terdiri dari 30 butir telur.

Hal serupa dialami Masitah (59), warga Jalan Seruling, Kelurahan Bontang Baru, Kota Bontang. Ibu rumah tangga ini mengeluhkan harga telur yang naik drastis usai Lebaran. Sri mengaku dirinya terakhir kali membeli telur di Pasar Lok Tuan, Selasa (10/7/2018) seharga Rp46 ribu per piring.

Harga-harga yang disebut Ijum dan Masitah semakin menjauhi harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Berdasarkan Permendag Nomor 58 tahun 2018 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen [PDF], yakni Rp22 ribu per kg di tangan konsumen. Sementara itu, harga acuan pembelian di kalangan produsen terdiri dari batas bawah Rp17 ribu dan batas atas Rp19 ribu per kg.

Harga acuan itu kontras dengan data ihwal harga di lapangan. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, Rabu (11/7/2018) jauh di atas harga acuan. Lima daerah dengan rata-rata harga telur tertinggi misalnya, Maluku Utara Rp37.850 per Kg, Papua Rp35.500 per Kg, Papua Barat Rp30.700 per Kg, dan Nusa Tenggara Timur Rp30.600 per Kg, dan Banten Rp29.750 per Kg.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri mengonfirmasi hal itu. Berdasarkan data lembaganya, harga rata-rata nasional adalah Rp28 ribu per kg, tapi di beberapa daerah ada yang Rp29-30 ribu. Menurut Abdullah, tren kenaikan telur tersebut bisa saja bertahan lama apabila tidak ada terobosan kebijakan yang diambil oleh pemerintah, khsusunya Kementerian Perdagangan.

Untuk menurunkan harga telur, kata Abdullah, caranya sama dengan meningkatkan produktivitas ayam petelur. Ia berkata, beberapa bulan terakhir ini ketersediaan telur memang tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah menurutnya perlu melakukan kajian menyeluruh mengenai produksi telur, mulai dari pemeliharaan ayam petelurnya, ketersediaan pakan ayam, produktivitas ayam untuk menghasilkan telur, hingga tahap distribusinya.

“Itu perlu dievaluasi atau pemerintah berusaha membangun sendiri sistem produksi ayam dan telur,” kata Abdullah.

Pemerintah, kata dia, bisa mendirikan perusahaan BUMN yang menangani tata niaga telur dan ayam, seperti Bulog yang menangani beras. “Perlu ada intervensi langsung pemerintah berupa penyediaan kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam produksi telur dan ayam. Seperti pembuatan pabrik pakan ayam dan penggemukan-penggemukan ayam peternakan. Saat ini pemerintah tidak bisa intervensi ke pengusaha langsung,” kata Abdullah.

Pemerintah: Kenaikan Harga Hanya di Wilayah Tertentu

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui kenaikan harga telur di sejumlah wilayah beberapa waktu terakhir disebabkan melonjaknya harga pakan ayam petelur serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dalam konteks ini, Mendag Enggartiasto mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan pelaku industri dan perkumpulan pedagang telur untuk memetakan masalah kenaikan harga produksi tersebut. “Nanti akan terus kami intensifkan, berapa sih marginnya yang tertekan,” kata dia, seperti dikutip Antara, Rabu (11/7/2018).

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengatakan pihaknya berharap harga telur yang naik tinggi di sejumlah daerah kembali normal sesuai aturan Kementerian Perdagangan dalam Permendag 58/2018.

"Mudah-mudahan tidak lama lagi akan normal," kata Tjahya, Rabu (11/7/2018).

Sayangnya, Tjahya tidak menerangkan langkah yang akan diambil, kendati ia tahu kenaikan harga telur secara dominan dipengaruhi oleh kenaikan pakan ternak. “Saya sedang komunikasi dengan peternak, sepintas disampaikan [kenaikan harga telur] karena pakan,” kata Tjahya.

Alih-alih menjawab soal solusi yang akan diambil pemerintah, Tjahya mengklaim kenaikan harga telur saat ini tidak terlalu tinggi. “Di catatan saya, secara nasional harga tidak begitu naik. Mungkin hanya di beberapa wilayah saja,” kata Tjahya.

Saat disinggung soal data PIHPS Nasional yang menunjukkan harga rata-rata telur di sejumlah provinsi wilayah timur Indonesia, seperti Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur yang cukup tinggi, berkisar Rp30.600 hingga Rp37.850, Tjahya menyebut, hal itu bisa terjadi karena biaya transportasi dalam distribusi. (*)

Reporter : Ramadhan NR    Editor : Suriadi Said



Comments

comments


Komentar: 0