25 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Balikpapan, Pertempuran Akbar Penutup Perang Dunia Kedua


Balikpapan, Pertempuran Akbar Penutup Perang Dunia Kedua
Kehancuran kilang minyak di Balikpapan akibat Perang Dunia II, 1945. (net)

KLIKBONTANG.COM - Sudah seabad lebih usia Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Usia yang cukup senja bagi sebuah kota. Ada banyak kisah yang mengiringi perjalanannya. Tak terkecuali, di masa perang dunia kedua.

Kalau selama ini kita mengenal Bandung sebagai lautan api. Ternyata tidak berbeda dengan yang terjadi di Balikpapan. Dilansir dari blog Subiyakto, yang mengutip banyak sumber, sepertinya cukup menarik membawa ingatan kita ke masa Balikpapan zaman dulu kala.

Ketika perang dunia kedua meletus, salah satu daerah utama yang menjadi sasaran untuk dikuasai Jepang adalah daerah yang kaya minyak, Balikpapan. Daerah ini juga akan dijadikan batu loncatan menaklukan serangan ke Jawa.

Pada 23 Januari 1942, Armada Jepang di bawah pimpinan Shizuo Sakaguchi menyerbu Balikpapan dan merebutnya dari tangan Hindia Belanda. Pendudukan Jepang di Balikpapan dimulai sejak tanggal 24 Januari 1942, tujuannya: merebut persediaan minyak yang banyak di tempat itu dan melancarkan usaha penguasaan Hindia Belanda (Indonesia) selanjutnya.

Dalam melakukan penyerangan dan pendaratan di Balikpapan, Angkatan Laut Jepang harus menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan gabungan dari Angkatan Laut Belanda dan Armada Asia Amerika Serikat. Terjadilah perang laut pertama di sekitar perairan Balikpapan dan terbesar selama pecahnya Perang Pasifik (Hassan Basry, 1961: 1-2).

Keadaan Hindia Belanda ternyata benar-benar lemah. Sebelum bala tentara Jepang mendarat di Tarakan pada 11 Januari 1942, pihak Belanda terlebih dahulu meledakan tangki-tangki minyaknya. Hal yang serupa juga dilakukannya di Balikpapan meski sebelumnya telah diperingatkan Jepang untuk tidak melakukan penghancuran instalasi minyak.

Akibatnya pada 24 Februari 1942 tentara Jepang mengeksekusi 78 orang Belanda termasuk kaum perempuan sebagai balas dendam karena telah melakukan penghancuran tangki-tangki minyak yang ada di Balikpapan (J. Thomas Lindblad: 115).

Dengan jatuhnya Balikpapan, otomatis unit-unit bisnis Belanda di sana jatuh ke tangan Jepang. Pada masa ini BPM berhenti beroperasi. Namun demikian, kegiatan eksploitasi tetap dilanjutkan Jepang dengan menggunakan tenaga kerja lokal. Balikpapan tetap di bawah kendali Jepang hingga bulan Juli 1945 (http://nurindarto.blogspot.com/2011/06/la).

Pada tanggal 7 Juli 1945. Divisi VII Australia, terdiri atas Brigade Infantri XVIII, XXI, dan XXV, dengan pasukan cadangan yang mengadakan pendaratan dari darat dan laut. Pendaratan itu didahului pengeboman dan penembakan besar-besaran oleh AL dan AU Australia dan AS. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Balikpapan).

Pertempuran Jepang melawan Sekutu mengakibatkan Kota Balikpapan, terutama di antara daerah Kilang Minyak dan Klandasan benar-benar luluh lantak.

Tentara Jepang yang mendapat gempuran hebat berupaya bertahan dalam bunker-bunker yang telah mereka persiapkan dan bangun sebelumnya. Bunker-bunker pertahanan itu tampaknya cukup kuat sehingga sulit dihancurkan senjata biasa dari kapal Sekutu di Teluk Balikpapan.

Untuk mengatasi itu, pihak perwira Sekutu akhirnya memerintahkan untuk menggunakan bom Napalm. Akibatnya Balikpapan benar-benar menjadi lautan api dan peperangan itu hanya membuat rakyat semakin sengsara (http://kotabalikpapan.wordpress.com/).

Setelah Balikpapan dikuasai Sekutu pada 1 Juli 1945, tercatat 5.700 serdadu Jepang tewas, tetapi tidak diketahui berapa orang dari pihak Sekutu dan rakyat yang mungkin saja menjadi korban. Pertempuran antara Sekutu dan Jepang telah mengakibatkan hancurnya berbagai fasilitas kota Balikpapan.

Kilang minyak yang mereka temui juga tinggal puing saja. Instalasi minyak itu sebelum dibom Sekutu juga dibumihanguskan terlebih dahulu oleh Jepang. Peperangan itu seolah hendak mengatakan: kali ini minyak bisa diacuhkan, yang penting merebut Balikpapan yang menjadi kunci mengalahkan kekuatan Jepang di Indonesia, terutama pasukan Jepang di pulau Jawa. (http://kotabalikpapan.wordpress.com).

Di Balikpapan, kota minyak yang terkenal itu, penuh dengan puing-puing dan lobang-lobang besar dan kecil bekas pemboman Sekutu.

Di mana-mana terlihat reruntuhan dan tonggak-tonggak arang bekas sisa gedung-gedung dan rumah-rumah yang terbakar. Segera waktu itu bilik-bilik dan rumah-rumah darurat guna keperluan NICA mulai didirikan, tetapi rakyat tampak masih dalam keadaan menderita.

Kehidupan terasa sungguh sangat sulit karena sulitnya didapt barang-barang kebutuhan rumah tangga. Perhubungan darat juga sangat buruk keadaannya di Balikpapan dan beras harus pula didatangkan dari Makassar (Hassan Basry, 1961: 61)

Kini, Balikpapan cepat menjelma sebagai kota modern dengan pelbagai fasilitasnya berikut kompleksitas persoalannya. Di samping pelabuhan lautnya yang berperan penting, pelabuhan udara pun kemudian menjadi bagian yang bisa diabaikan. Seiring dengan perkembangannya, maka sejak 1936 pelabuhan udara Sepinggan dioperasikan menggantikan pelabuhan udara yang lama, Manggar.

Di kota ini juga telah sejak tahun 1914 mempunyai sekolah-sekolah dasar Eropa dan juga kemudian sekolah Belanda-pribumi, jenis sekolah tertinggi yang dapat diakses oleh orang non-Eropa. (*)

Reporter : Faiqa/Subiyakto     Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0