25 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Merenungi Kematian


Merenungi Kematian
Ustaz Muhammad Arifin Ilham.

DAN kita pun tergolek tak berdaya.Tubuh lemah, napas sesak, mata nanar, tulang dan sendi kaku, semua terasa sakit. Tak ada gairah.

Dan kita pun tinggal menghitung waktu. Tergeletak tak bergerak. Di sebuah ruang yang bernama ICU, yang terdengar hanya suara desah detak- detik mesin. Dokter dan perawat wara-wiri. Semua selang menjuluri dan melilit tubuh; memberi oksigen, mengasup cairan makan dan minum, memacu jantung dan mencipta napas buatan.

Akhirnya kita pun terbaring dikelilingi banyak pelayat; keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga, kerabat, sahabat, dan semua handai tolan.Mereka terisak dalam tangis duka mengulur doa, dan membaca tahlil dan Yaasiin.

Allahu Akbar. Air ini terasa beda.Begitu juga dengan sabun dan pewangi aroma lainnya. Di sebuah bilik kecil, tubuh ini digosok, dibasuh, dan diguyur.Lalu, diangkat dan kemudian digeletakkan di tengah-tengah ruangan. Dililitlah dengan berhelain- helai kain berwarna putih. Diikat dan dipocong.

Tak lama kemudian, sebuah keranda menjemput. Tubuh yang sudah terbungkus kafan ini dimasukkan. Dan kembali diletakkan saat orang-orang kini banyak sekali telah berjejer membentuk shaf dan barisan shalat. Di masjid atau mushala, telinga ini masih jelas mendengar empat kali suara takbir dan isyhad, "Persaksikanlah bahwa si mayit ini min ahlil khair, orang yang baik, orang yang baik, orang yang baik!"

Subhanallah.Tubuh ini akhirnya dibawa dan digotong. Di sebuah galian 2 x 2 meter, beberapa keluarga kemudian meletakkannya di paling bawah menghadap kiblat; pocong dibuka, pipi kanan menempel tanah. Lalu, di tempat yang gelap dan sempit ini, tubuh ini diuruk dan dikubur. Papan nisan pun ditancapkan. Tertulis nama, kelahiran, dan sekaligus kewafatan si pemilik tubuh ini.

Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun.Ternyata sangat singkat. Semua yang bernyawa dan bertubuh pasti akan merasakan proses kematian. Siapa pun kita. Pejabat atau rakyat, orang kaya atau dhuafa, TNI/Polri, jaksa, hakim, pengacara, ataupun juga ulama.

Ikhwah tercinta. Saat ini bersyukur kita masih hidup. Tubuh masih kuat bergerak. Hati dan pikiran masih bisa memberi respons kehidupan.

Ketahuilah. Hidup bukan untuk hidup. Hidup bukan untuk mati. Justru hidup untuk Mahahidup. Dan mati itulah untuk hidup. Jangan takut mati. Jangan cari mati. Jangan lupakan mati. Tapi rindukanlah mati

Mengapa? Karena mati bukanlah wafat. Jasmani mati, tetapi ruh wafat.Al-mautu roohatul lilmu`miniin, mati adalah istirahatnya hamba-hamba yang beriman. Dan mati satu-satunya pintu berjumpa Kekasihnya hamba beriman, yaitu berjumpa dengan Allah.

Tidaklah kulihat kematian kecuali pintu kebahagiaan, tutur Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Lalu, siapkah kini kita menjemput kematian. Menjemput sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan? Semoga pemilik tubuh ini dan kita semua wafat dalam keadaan terindah membawa iman, usnulkhatimah. Aamiin.

Jangan takut mati. Jangan cari mati. Jangan lupakan mati. Tapi rindukanlah mati. (PENULIS: Ustaz Muhammad Arifin Ilham)

Reporter :     Editor : Dasrun Darwis



Comments

comments


Komentar: 0