21 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sepak Terjang Anggi V Geonadi, Buka Lahan Kerja Bagi Disabilitas di Bontang


Sepak Terjang Anggi V Geonadi, Buka Lahan Kerja Bagi Disabilitas di Bontang
Anggi Valentino Geonadi menunjukan kaos karya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang telah menjangkau pasar mancanegara.(KLIKBONTANG/DARWIN)

KLIKBONTANG.COM - Anggi Valentino Geonadi, pria kelahiran Bontang, 25 Desember 1988 memiliki komitmen tinggi menciptakan peluang kerja dan kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau Disabilitas.

Sejak 2013 silam, sepak terjang suami dari Siti Marlina ini sangat gigih menata masa depan para ABK khususnya alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) Permata Bunda Bontang, Kalimantan Timur. Hal itu, diakui Anggi-sapaannya, ialah semangat dan motivasi pendidikan yang di wariskan ayahnya.

Anggi kala itu tak memahami berbagai proses pendidikan yang diterapkan oleh sekolah khusus bagi ABK. Rasa peduli dan ingin tahu yang begitu tinggi menjadi motivasinya. Hatinya tergerak dan ingin terus maju bersama ABK setelah terus mempertimbangkan pesan moral yang disampaikan ayahnya.

"Terus terang awalnya sama sekali enggak paham soal SLB, kemudian kecemplung dan terus fokus bersama istri sebagai teman sharing saya bagaimana menciptakan peluang kerja bagi ABK," ucap Founder Head of Inkubator Bisnis (Inbis) Permata Bunda itu saat ditemui Jumat, 12 Oktober 2018.

Anggi sangat sepakat jika tenaga pengajar yang mengabdi di Sekolah Luar Biasa sudah kehabisan waktu untuk memikirkan terkait peluang kerja yang bisa ditawarkan usai sekolah. Mendampingi para ABK saja sudah menguras energi. Perlu kesabaran lebih dan intensitas pemikiran yang banyak. Jika ditambah tanggung jawab membuat konsep untuk lini usaha, dipastikan para guru akan sangat kesulitan.

Atas dasar tersebut, Inbis Permata Bunda hadir menjawab persoalan masa depan ABK. Pun demikian, ragam lini usaha terlebih dahulu dijalankan oleh tim fasilitator yaitu para pendamping ABK. Setelah itu, mereka mengajarkan kepada alumni dan siswa bagaiamana kemandirian dalam berwirausaha.

Ayah dari Aransha, Shinjio, dan Asiga ini menuturkan, berbagai problem yang kerap dihadapi SLB ialah sekolah memiliki beban pembekalan keterampilan. Padahal, untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka saja sudah cukup kewalahan. 

Walaupun setelah itu bantuan demi bantuan datang dari Pemerintah, lanjut Anggi, program kemandirian masih belum terarah. Bantuan yang hanya berupa perlengkapan, peralatan, dan barang tersebut tidak memiliki konsep pemasaran yang tepat sasaran. Para ABK diajarkan cara berproduksi, tetapi mereka tidak mampu memasarkan produk.

Mantan HR & GA Manager PT Black Bear Resources itu menjelaskan uluran tangan tersebut tidak jauh dari sektor usaha salon dan jahit pakaian. Padahal, produk jasa dari usaha tersebut dapat dibilang susah-susah gampang diterima pasar di Bontang.

Ia mencontohkan para ABK yang dibantu mendirikan sebuah tempat pangkas rambut. Orang yang belum paham dan teredukasi tentang ABK, saat menggunakan jasa mereka untuk memotong rambut rata-rata para calon pengunjung pasti ragu. Dalam benak mereka dipastikan timbul kekawatiran jika terjadi kesalahan saat memangkas, karena pelaksanaan jasa tersebut tidak dapat diulang.

Sehingga, fokus pengembangan yang dilakukan Anggi ialah membuat lini usaha yang mudah dikuasai oleh para ABK serta didukung kebutuhan pasar. Sangat penting mengupayakan dan memperhatikan peluang market diamond

"Fokus pengembangan tersebut terinisiasi dari apa yang para ABK bisa kerjakan, pasarnya juga siap untuk menampung. Tidak perlu melihat mereka mampu atau tidak karena keterbatasannya," tutur dosen Communications Skill and Entrepreneurship Stitek Bontang itu.

Peluang usaha bagi ABK berawal dari lini usaha Pola, sebuah bisnis interior wallpaper untuk hunian. Kemudian berlanjut The Bota Project, Public Speaking dan Even Orginizer (EO) yang secara basic pekerjaannya pun sudah diajarkan ke ABK saat masih di bangku sekolah. 

Ada juga bidang jasa pencucian kendaraan yang bekerjasama dengan pihak penyedia tempat, usaha handycraft dan marchendesing, baju khusus ukuran big sizeberlabel Om Adut Clothing, jasa perawatan kecantikan, produk keripik pisang karamel, produk hidroponik atau agro bisnis berlabel Aren Farm, jasa pelayanan semicattering berlabel Inbreak, hingga penyedia jasa photograpy dan sablon kaos khusus karakter anime. Secara bertahap, Inkubator Bisnis melahirkan sekitar 12 lini usaha bagi ABK di Bontang. 

"Peluang kerja itu diperoleh saat kita melihat bentuk keterampilannya seperti apa, peluang pasar dan potensi para ABK. Namun tidak semua berjalan lancar. Pasar sudah mampu namun anak-anak tidak sanggup menjalankan. Begitu pun sebaliknya," tambahnya.

Berbicara pemasaran, karya ABK bahkan sudah merambah ke pasar manca negara. Produk kaos berukuran besar dari lini usaha bermerek Om Adut Clothing itu bahkan sangat jarang terjual di Kota Taman-sebutan Bontang.

Diakui peraih penghargaan Program Platinum Indonesia SDGs Award itu segmen pasar yang disasar ialah berbasis online. Berbagai platform seperti Bukalapak, Instagram, Belanja.com dan lainnya menjadi media promosi paling strategis. Berbeda halnya dengan pasar offline yang  hanya mengandalkan para pembeli lokal.

Para pelanggan produk tersebut berasal dari daerah-daerah di pulau Sumatra, Papua, dan terbanyak berasal dari Jawa. Ada pula permintaan dari Malaysia hingga Filipina. Sebab itu,  industri ekspedisi memiliki peran penting untuk memasarkan karya para ABK.

Para pemesan, masing-masing punya pilihan terbaik menggunakan perusahaan jasa industri. Salah satu jasa ekspedisi yang paling sering digunakan adalah JNE.

"Buat usaha seperti kita ini yang mengandalkan jasa ekspedisi, salah satu denyut nadinya ya dari ekspedisi. Bahan baku dari luar ke Bontang bahkan juga pakai jasa logistik," ungkapnya.

Alumnus Universitas Brawijaya ini sempat heran saat mengetahui ongkos kirim yang diberlakukan industri jasa ekspedisi. Tarif pengiriman barang dari Bontang ke luar daerah ternyata jauh lebih murah. Kemungkinan untuk membantu para penggiat usaha di Bontang agar harga mampu bersaing. Di sisi lain, ketika akan mengambil barang dari luar daerah pun menjadi kendala karena tarifnya cukup tinggi. (*)

Reporter : Darwin Tri    Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0