22 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Samarinda Masuk 20 Kota Rawan Banjir di Indonesia


Samarinda Masuk 20 Kota Rawan Banjir di Indonesia
Tim SAR dari Batalyon B Pelopor membantu proses evakuasi korban banjir di Loa Bakung Samarinda, Kamis, 7 Juni 2018 silam.

KLIKBONTANG.com -- Kota Samarinda, Kalimantan Timur menjadi salah satu dari 20 kota rawan banjir di Indonesia. Ini berdasarkan rilis dikeluarkan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR).

Ke-20 kota yang menjadi fokus atau rawan banjir itu adalah Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bandar Lampung, Pontianak, Samarinda, Makassar, Ambon, Manado, Gorontalo, Kendari, Palembang, Jayapura, Sorong, dan Palu.

Dirjen SDA Suprayogi berkata pihaknya sudah mengantisipasi fisik dan non fisik menghadapi banjir yang berpotensi terjadi akhir 2018 hingga 2019 mendatang. Pihaknya bersiap karena berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan mulai terjadi pada Oktober dan puncak musim hujan pada umumnya akan terjadi pada Januari-Februari 2019.

Bahkan, Kementerian PUPR menyiagakan Posko Siaga di 34 Balai/Balai Besar Wilayah Sungai dan 1 Posko Pusat. Seluruh balai/balai besar juga telah melakukan penelusuran terhadap sungai-sungai utama sepanjang 54,217 km dimana dari hasil penelusuran diketahui sepanjang 42,11 Km dalam kondisi kritis.

Disebutkan, Kementerian PUPR melakukan manajemen banjir secara tahun jamak yang masih berlanjut hingga sekarang. Puncak musim hujan yang akan datang juga diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2019.

Untuk mengantisipasi itu, Kementerian PUPR sejak tahun 2015-2018, menormalisasi sungai, tanggul banjir atau kanal sepanjang 142 kilometer di lokasi tertentu. Termasuk pembangunan pintu air 16 unit, kolam retensi 2 unit, dan pembangunan sistem pompa 2 unit. Total, biaya mencapai Rp4,4 triliun.

Sebagai antisipasi banjir, Kementerian PUPR memantau setiap hari mulai dari pencegahan hingga penanggulangan yang dikerjasamakan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Apabila terjadi banjir, penanggulangan ini adalah tugas BNPB, kami (Kementerian PUPR) sebagai pendukung. Kita beri bantuan, peralatan, termasuk bantuan komunikasi, posko-posko kita buka. Termasuk komunikasi, termasuk sarana prasarana secara darurat, termasuk akses terhadap air bersih,” ujarnya. (*)

Reporter : Omar NR     Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0