22 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sinetron Azab; Pundi-Pundi Uang TV dan Teguran


Sinetron Azab; Pundi-Pundi Uang TV dan Teguran
Poster publikasi sinetron azab yang ditayangkan MNC TV. Twitter/MNCTV

KLIKBONTANG.com -- Kilat menyambar-menyambar diiringi musik latar yang mencekam dan penampakan sebuah rumah yang dikelilingi bendera kuning tanda si pemilik rumah sedang berkabung. Di dalam rumah, perempuan duduk berkerudung putih, di depannya teronggok tubuh manusia terbujur kaku yang ditutup kain putih dan batik.

“Ya Allah Pak, kenapa Bapak harus meninggal dengan kondisi seperti ini?” ujar Ibu Dewi sambil terisak, ia merupakan isteri dari Pak Amir, yang baru saja meninggal.

Kerumunan orang nampak berkumpul masuk ke rumah yang penghuninya sedang berduka. “Rasain.. matinya juga karena azab!!!," kata seorang yang menggerutu.

Ini adalah penggambaran adegan pembuka sinetron ‘Penghina Pengemis Mulutnya Terinfeksi dan Jenazahnya Terbungkus Karung Goni’. Judul itu merupakan salah satu episode sinetron program Azab yang tayang di stasiun televisi Indosiar setiap hari pukul 17.00 WIB dan 18.30 WIB.

Episode yang tayang pada 15 Juli 2018 itu lantas mendapat peringatan tertulis dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sinetron ini dinilai tidak memperhatikan ketentuan tentang perlindungan anak-anak dan remaja serta larangan menampilkan kondisi mayat yang mengerikan sebagaimana diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012.

Menurut analisis KPI, terdapat potensi pelanggaran pada program siaran tersebut karena menampilkan mayat seorang pria dengan wajah hitam serta mayat seorang pria dengan bibir terbuka dan penuh luka. “KPI Pusat menilai hal tersebut berpotensi melanggar Pasal 15 Ayat (1) dan Pasal 30 Ayat (1) huruf d SPS KPI Tahun 2012 tentang perlindungan anak-anak dan remaja serta larangan menampilkan kondisi mayat yang mengerikan,” tulis KPI di laman resminya.

Peringatan tertulis tersebut, menurut KPI, merupakan bagian dari pengawasan KPI Pusat terhadap pelaksanaan peraturan serta P3 dan SPS oleh lembaga penyiaran. Ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran).

“Setelah mendapat teguran tertulis dari KPI, kami berharap stasiun televisi melakukan perbaikan setelah menerima surat teguran, “ ucap Nuning Rodiyah, Anggota Komisioner Bidang Pengawasan Isi Siaran.

KPI boleh saja menegur stasiun TV, tapi fenomena tayangan sinetron bertema azab banyak penggemar di masyarakat. Setidaknya ini tercermin dari kinerja perusahaan yang positif dengan adanya sinetron bertema azab. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) misalnya, termasuk yang terkerek dari tayangan bertema azab. Sinetron program Azab ini menurut hasil riset NH Korindo Sekuritas turut mendorong pertumbuhan kinerja perseroan.

“Usaha SCMA yang tetap gencar untuk menghadirkan konten-konten baru dan menarik seperti FTV Azab tercermin pada kesamaan angka gross margin secara tahunan,” ulas Michael Tjahjadi dari NH Korindo Sekuritas dalam risetnya (PDF).

PT Surya Citra Media Tbk (PDF), per 30 September 2018 berhasil mengantongi pendapatan Rp3,79 triliun. Lebih tinggi 10,82 persen dibanding pendapatan 2017 yang sebesar Rp3,42 triliun.

Laba usaha perseroan juga terdongkrak 4,7 persen dari Rp1,49 triliun periode sembilan bulan pertama 2017 menjadi Rp1,56 triliun di periode yang sama 2018. Berkat catatan positif itu, laba bersih yang dikempit perusahaan juga bertambah 9,17 persen dari Rp1,09 triliun di tahun lalu menjadi Rp1,19 triliun pada laporan keuangan per September 2018.

Pendapatan MNCTV (PDF) juga mengalami kenaikan sebesar 2,79 persen menjadi Rp5,53 triliun pada September 2018 dari Rp5,38 triliun periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satunya disokong oleh pendapatan dari konten senilai Rp1,09 triliun atau naik 6,86 persen dibanding September 2017 yang senilai Rp1,02 triliun.

AC Niesen dalam survei yang dilakukan pada 2015 mencatat, sampai dengan September, program serial masih populer. Di mana secara rata-rata harian, genre program serial ini meraih poin rating tertinggi yaitu 1,7 poin rating. Program serial masih populer karena meski jam tayang hanya 10 persen dari total waktu siaran televisi, namun penonton di 11 kota di Indonesia menghabiskan 20 persen waktu menontonnya untuk program tersebut.

“Terlebih lagi, sebagian besar program serial ditayangkan pada waktu prime time yang memiliki potensi jumlah penonton tertinggi yaitu pada pukul 18.00-21.59 WIB. Hal inilah yang membuat program serial masih meraih poin rating yang tinggi,” tulis Nielsen Indonesia. (*)

Reporter : Tirto    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0