22 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Lukisan Kuno 40 Ribu Tahun Lalu Ditemukan di Kutai Timur


Lukisan Kuno 40 Ribu Tahun Lalu Ditemukan di Kutai Timur
Penampakan salah satu lukisan figuratif tertua di dunia di pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. (Foto: Geomagz/esdm.go.id/Pindi Setiawan)

KLIKBONTANG.com -- Peneliti Indonesia dan Australia berhasil menemukan lukisan kuno bergambar binatang di gua Kalimantan Timur. Lukisan dari era 40.000 tahun lalu itu disebut-sebut sebagai gambar cadas figuratif tertua di dunia.

Kolaborasi tim Indonesia dan Australia yang terdiri dari 15 peneliti menemukan lukisan kuno itu di sebuah gua yang terletak di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur, provinsi Kalimantan Timur.

Proyek kolaborasi penelitian itu dilakukan sejak tahun 2015/2016 dan melibatkan para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Indonesia (Puslit Arkenas), Institut Teknologi Bandung (ITB), Griffith University, Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur, Queensland University, dan Australian Synchrotron Victoria.

Lukisan yang tergolong gambar cadas itu diketahui bergambar banteng. Gambar Cadas' adalah gambar yang dibuat oleh manusia prasejarah pada permukaan batu yang keras, yang diwujudkan dalam bentuk lukisan, goresan, maupun cukilan.

Lewat metode penanggalan uranium-series, lukisan banteng itu diperkirakan berasal dari era 40.000 tahun lalu yang, menurut para peneliti, tergolong zaman es.

"Temuan ini sangat luar biasa karena kita bisa berimajijasi ribuan tahun lalu nenek moyang kita sudah meninggalkan jejak peradaban. Buktinya torehan itu masih bisa dilacak 40.000 tahun kemudian," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy, dalam konferensi pers penemuan ini di Jakarta (8/11/2018).

Untuk menentukan tahun asal, para peneliti harus memotong sampel gambar dan dibawa ke laboratorium di Australia.

"Jadi, tonjolan kecil yang tumbuh di depan gambar terpaksa dipotong untuk dijadikan sampel. Di bagian yang ada warnanya juga sedikit dibor untuk mengetahui layer (lapisan) batu. Kemudian setelah itu diperiksa dengan metode uranium tadi," jelas Adhi Agus Oktaviana, peneliti dari Puslit Arkenas, melansir ABC.

Gambar cadas tertua sebelumnya ditemukan di Eropa dengan kisaran periode yang sama, yakni 40.000 tahun lalu.

"Bedanya, yang di sana gambar non-figuratif, artinya berbentuk abstrak, sementara yang di Sangkurilang ini figuratif. Gambarnya berwujud hewan," papar salah seorang peneliti dari ITB, Pindi Setiawan, kepada ABC (8/11/2018).

Menurut Kepala Puslit Arkenas, I Made Geria, penemuan ini merupakan kabar gembira untuk Indonesia.

"Ini kesimpulannya apa? antara masyarakat Eropa dengan kita itu ada kesetaraan, bahkan lebih tua. Nah ini kan suatu kebanggaan nasional," sebutnya.

Gambar cadas di Indonesia juga ditemukan di beberapa daerah lain seperti di Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua. Sebagian besar ditemukan di lokasi yang cukup terpencil. Bahkan di wilayah tertentu, para peneliti menemui kendala lapangan.

"Yang jadi permasalahan adalah para peneliti yang bekerja di Pangkep (Sulawesi Selatan) berkejaran dengan pabrik semen karena cadas itu bahan yang bagus," sebut Made.

Persoalan lingkungan juga dibenarkan oleh Menteri Muhadjir. Ditemui setelah konferensi pers, ia memaparkan bahwa pihaknya tengah mengupayakan langkah perlindungan.

"Kita mungkin belum memiliki kepedulian terhadap situs-situs peninggalan yang sangat mahal sebetulnya, oleh karena itu Kemendikbud sekarang sedang memperkuat afirmasi terhadap hal itu, terutama sejak disahkannya Undang-Undang budaya."

Lagi-lagi penambangan batu kapur untuk bahan baku semen disebut sebagai kendala dari penelitian gambar cadas semacam ini.

"Yang di Maros (Sulawesi Selatan) itu juga jadi problem karena ada penambangan untuk keperluan bahan semen ya," kata Muhadjir.

"Kebetulan (yang di Kalimantan) ini areanya jauh, jadi InsyaAllah masih aman, tapi harus segera kita konservasi nanti. Dan grafiti ini kan menggambarkan apa yang ada di balik itu, kompleksitas peradabannya seperti apa," pungkasnya. (*)

Reporter : Abc | Inara    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0