22 Maret 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Mendorong UMKM Hijrah ke Bisnis Online


Mendorong UMKM Hijrah ke Bisnis Online
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky (kiri) meninjau stan warung mitra Bukalapak saat Perayaan HUT ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/2019). | Puspa Perwitasari /AntaraFoto

KLIKBONTANG.com -- Pemerintah terus mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk melebarkan bisnisnya melalui jalur online (daring).

Berdasarkan data yang dimiliki Presiden Joko "Jokowi" Widodo, saat ini terdapat 56 juta UMKM di Indonesia, namun hanya 4 juta saja yang sudah memasarkan produknya di lapak online.

Pemerintah mengakui, tak mudah membangun ekosistem bisnis online yang mudah diikuti pelaku UMKM. Para pelaku usaha masih banyak yang menghadapi kendala seperti membangun brand, membuat desain, hingga mendapatkan modal.

Satu hal, jika metode penjualan dalam sistem offline-nya belum dibenahi, maka akan sulit untuk berhijrah ke bisnis online. Hal ini dikarenakan target pasar pada bisnis online tidak bisa terukur dan kerap menimbulkan ketidakpastian dalam hal penyediaan barang berikut dengan pengemasan serta pengirimannya.

"Ini tidak segampang yang kita bayangkan..masih ada sisa 52 juta, dan itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang belum siap untuk masuk (online)," ucap Jokowi saat menghadiri ulang tahun ke-9 Bukalapak, di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (10/1/2019) malam.

Di sisi lain, kesempatan UMKM untuk masuk ke jalur online saat ini dipandang lebih mudah. Pelaku usaha bisa bergabung dengan marketplace (lapak jual beli) digital yang saat ini banyak dikuasai oleh perusahaan Indonesia.

Bukalapak boleh menjadi contoh. CEO dan pendiri Bukalapak, Achmad Zaky, mengklaim pelapak UMKM online yang bergabung dalam serambinya mencapai sekitar 70 sampai 80 persen.

Tak ayal, pemerintah saat ini tengah mempertimbangkan situs yang dibangun sejak tahun 2000 ini untuk menjadi penyalur kredit ke UMKM, yakni melalui Kredit Ultra Mikro (Umi).

"Artinya, nanti pihak perbankan akan memberikan suntikan kredit ke warung-warung (UMKM) yang ditujukan untuk memperbaiki sistem dan penataan serta memperbaiki brand," sambung Jokowi.

Belum dijelaskan lebih lanjut kapan dan bagaimana sistem dari penyaluran kredit melalui marketplace ini akan dilaksanakan.

Kendati begitu, Jokowi mengakui sampai saat ini pemerintah belum mampu memberikan insentif lebih kepada marketplace lokal yang menampung bisnis-bisnis UMKM. Hal ini dikarenakan pemerintah belum memiliki regulasinya. "Regulasi selalu terlambat, teknologi selalu mendahului," sambungnya.

Menyisir data Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2015, Bukalapak berada pada posisi kelima situs yang paling banyak dikunjungi konsumen Indonesia untuk berbelanja. Nomor wahidnya kala itu adalah situs jual beli asal Amerika Serikat (AS), OLX.co.id.

Merujuk riset yang dilakukan Google dan Temasek (November 2018) yang bertajuk 'e-Conomy SEA 2018', menghitung potensi gross merchandise value (GMV) e-commerce di kawasan Asia Tenggara mencapai $23 miliar AS (sekitar Rp323,4 triliun) pada 2018, naik nyaris lima kali lipat dari 2015 yang berada pada posisi $5 miliar AS (sekitar Rp70 triliun). 

Potensi itu diprediksi akan kembali tumbuh pada 2025 menjadi $102 miliar AS (sekitar Rp1.434,2 triliun).

Indonesia memimpin GMV tertinggi untuk bisnis e-commerce. Pada 2018, Indonesia berhasil memperoleh kenaikan hingga 94 persen GMV, yakni dari $1,7 miliar AS menjadi $12,2 miliar AS. Pada 2025, Indonesia diprediksi bisa mendapatkan sekitar $53 miliar AS dari bisnis e-commerce. Nilai itu setara dengan Rp745,2 triliun (sesuai nilai dolar AS pada 11 Januari 2019).

Pertumbuhan itu bakal disumbangkan oleh marketplace berstatus unicorn yang kini jumlahnya sudah mencapai tujuh perusahaan. Ada tiga perusahaan teratas yang menyumbangkan GMV tertinggi. Mereka adalah Lazada, Shopee, dan Tokopedia. 

Sejauh ini Indonesia adalah negara dengan jumlah unicorn tertinggi di kawasan. Dari tujuh perusahaan unicorn di Asia Tenggara, empat di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara bahkan sesumbar mengatakan Indonesia bakal memiliki setidaknya dua perusahaan rintisan berstatus decacorn pada 2019.

Decacorn adalah sebutan untuk perusahaan teknologi dengan valuasi di atas $10 miliar AS. Sementara unicorn memiliki valuasi di atas $1 miliar AS. Di Asia Tenggara baru ada satu perusahaan yang masuk kategori decacorn. Perusahaan tersebut adalah Grab Holdings. ***

Reporter : Inara Dafina    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0