22 Maret 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Syahid di Usia Senja


Syahid di Usia Senja
Ilustrasi.

KLIKBONTANG.com -- Amr bin al-Jamuh merupakan figur pemimpin Bani Salimah. Pada zaman jahiliyah atau sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, ia telah dikenal luas sebagai tokoh yang dihormati. Dalam masa itu, ia membuat berhala dari kayu bernama Manaf yang disembah kaumnya di Makkah.

Seperti dinarasikan dalam kitab Shuwar min Siyar ash-Shahabiyyat tulisan Abdul Hamid as-Suhaibani, istri Amr bin al-Jamuh yakni Hindun binti Abdullah lebih dahulu masuk Islam. Beberapa anak muda dari Bani Salimah juga telah memeluk mengimani risalah Rasulullah SAW. Termasuk di antaranya salah seorang anak kandung Amr bin al-Jamuh sendiri, yakni Mu'adz.

Kisah masuk Islamnya Amr bin al-Jamuh merupakan buah ikhtiar dari putranya tersebut. Suatu kali, Amr bin al-Jamuh diajak mengucapkan dua kalimat syahadat oleh kawannya, Mush'ab bin Umair, yang membacakan awal surah Yusuf kepadanya. Amr menolaknya secara sopan.

Lantas, ia kembali ke rumahnya dengan bermuka masam dan menjumpai berhala Manaf. Demi Allah, kamu (Manaf) tahu orang-orang itu tidak menginginkan selainmu. Adakah kamu punya usaha? kata Amr kepada berhala sesembahan sekaligus ciptaannya sendiri itu. Tentu saja, lawan bicaranya itu hanyalah benda sunyi membisu.

Pada malam harinya, Amr tidur seperti biasa. Namun, diam-diam Mu'adz bin Amr  menyusup ke ruangan ayahnya dan membuang berhala tersebut ke lubang kakus. Keesokan pagi, Amr bin al-Jamuh yang hendak berdoa tidak mendapati berhalanya. Setelah dicari-cari, betapa terkejutnya Amr lantaran Manaf sudah terperosok ke dalam tempat kotoran.

Demi Allah, seandainya aku tahu siapa yang melakukan ini terhadapmu (Manaf), niscaya aku akan menghinakannya! seru Amr sambil membersihkan Manaf dan mengembalikannya ke tempat semula.

Upaya membuang berhala Manaf dilakukan secara berulang-ulang oleh Mu'adz bin Amr. Setiap malam, Mu'adz menunggu ayahnya hingga tertidur pulas, baru kemudian ia masuk ke dalam ruangannya, mengambil berhala Manaf, dan mencampakkan benda sesembahan itu ke kubangan.

Karena berang dan tidak tahu siapa pelakunya, Amr bin al-Jamuh menggantungkan sebilah pedang miliknya di dekat berhala Manaf. Sebelum beranjak tidur, ia berkata, Bila kamu (Manaf) memiliki kebaikan, maka bela dirimu, karena pedang ini akan bersamamu.

Seperti biasa, Mu'adz menyusup ke ruangan berhala begitu yakin ayahnya sudah tidur lelap. Ia kaget lantaran mendapati pedang ayahnya tersangkur di leher Manaf. Kali ini, Mu'adz tidak sekadar membuang Manaf ke kubangan, melainkan juga mengambil bangkai anjing yang ia lihat di sekitar rumahnya. Mu'adz lantas mengikatkan bangkai busuk itu dengan tali pada berhala tersebut. Kemudian, ia membuangnya ke sumur umum pembuangan kotoran Bani Salimah.

Pagi tiba, Amr bin al-Jamuh murka dan semakin kesulitan mencari-cari keberadaan Manaf. Setelah susah payah, ia menemukan berhala tersebut telah tercampak dan diikat dengan bangkai anjing menjijikkan. Sekarang, Amr memilih membiarkan benda tersebut dan tidak melakukan apa-apa.

Saat itulah, beberapa orang dari kaumnya, yang telah menjadi Muslim, mendekati, menenangkan, dan berbicara baik-baik dengan Amr. Sebab, bagaimanapun, Amr bin al-Jamuh merupakan pemimpin Bani Salimah yang terhormat.

Di hadapan onggokan berhala ciptaannya, sosok sepuh ini akhirnya mengumumkan masuk Islam. Dalam mengenang proses hijrahnya itu, Amr bin al-Jamuh belakangan merasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah menyelamatkannya dari kesesatan.

Setelah masuk Islam, ia menjadi figur yang begitu mencintai Nabi SAW. Sebelum Perang Badar, Amr bin al-Jamuh bersikeras ikut dalam pasukan Muslimin. Namun, anak-anaknya mengimbau agar ia tidak perlu berangkat lantaran faktor kesehatan. Mereka pun meminta hal yang sama kepada Rasulullah SAW.

Sebab, Amr bin al-Jamuh saat itu telah berusia uzur, tubuhnya mulai lemah, dan kakinya pun pincang. Nabi SAW memerintahkan Amr bin al-Jamuh agar tetap di Madinah. Betapa sedih hati Amr, namun ia tetap melaksanakan perintah itu. Ia melepas kepergian anak-anaknya dengan haru ke medan Perang Badar. Dalam pertempuran itu, Mu'adz bin Amr berhasil melumpuhkan pentolan kafir Quraisy, Abu Jahal.

Jauh kemudian, menjelang pecahnya Perang Uhud, Amr bin al-Jamuh memohon kepada Rasulullah SAW agar kali ini diperkenankan ikut. Anak-anak Amr pun membujuk ayahnya itu agar tetap di rumah lantaran kondisi fisiknya yang renta.

Nabi SAW menjawab,  Allah telah memberimu keringanan. Tidak mengapa bagi kalian (anak-anak Amr) bila kalian membiarkannya berangkat, semoga Allah memberinya mati syahid. Mendengarnya, Amr begitu bersuka cita. Demi Allah, aku ingin menginjakkan kaki pincangku ini di surga, serunya dengan suara bergetar.

Maka berangkatlah Amr bin al-Jamuh bersama istri dan anak-anaknya serta seorang hamba sahaya ke medan Perang Uhud. Dalam kecamuk perang itu, Amr bin al-Jamuh tewas di tangan tokoh kafir Quraisy, al-Aswad bin Ja'wanah. Demikian pula dengan putra Amr, yakni Khallad bin Amr bin al-Jamuh. Ketika akhirnya peperangan usai, Hindun, istri Amr bin al-Jamuh datang mendekati jasad suami dan anaknya itu. Lantas, perempuan pejuang ini mengangkat dua jasad tersebut dan jasad seorang saudaranya ke atas untanya. Kemudian, ia ikut rombongan kembali ke Madinah.

Sesampainya di sana, Hindun bertemu dengan istri Nabi SAW, 'Aisyah RA, yang bertanya, Adakah berita yang engkau bawa? Hindun menjawab tenang, Kabar baik. Rasulullah SAW selamat. Semua musibah selama bukan menimpa Rasulullah SAW adalah ringan dan Allah mengangkat para syuhada dari kalangan orang-orang beriman. Demikianlah akhir kisah sosok lansia yang teguh mencintai agama Allah.

Jasad Amr bin al-Jamuh dimakamkan di kompleks Syuhada Uhud dalam satu liang bersama jasad sahabatnya, Abdullah bin Amr. Imam Ahmad meriwayatkan dari hadis Abu Qatadah, ia berkata, Amr bin al-Jamuh datang kepada Rasulullah SAW dan ia berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku berperang di jalan Allah hingga aku terbunuh, apakah aku akan berjalan dengan kakiku dalam keadaan sehat di surga?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ya.'

Maka (setelah) dia (Amr bin al-Jamuh) gugur di Perang Uhud bersama keponakannya dan hamba sahayanya, Rasulullah SAW lewat dan bersabda, 'Seolah-olah aku bisa melihatmu berjalan dengan kakimu ini dalam keadaan sehat di surga.' 

 
 
 
Sumber : Dialog Jumat Republika
Reporter : Redaksi Klik Bontang    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0