19 Juni 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

300 Hektare Lahan Mangrove Teluk Balikpapan Terancam Rusak


300 Hektare Lahan Mangrove Teluk Balikpapan Terancam Rusak
Majelis hakim ketua Kayat dan anggota Verra Lynda Lihawa menyidangkan terdakwa Zong Deyi. Foto Sri Gunawan Wibisono.

KLIKBONTANG.com -- Sekira 300 hektare hutan mangrove di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, terancam rusak akibat tumpahan minyak. Demikian disampaikan saksi ahli dalam persidangan dugaan pencemaran lingkungan dengan terdakwa Zong Deyi di Pengadilan Negeri Balikpapan, Kamis (10/1/2019).

Zong, lelaki berkebangsaan Tiongkok, adalah nahkoda kapal kapal tanker berbendera Panama, MV Ever Judger, yang diduga mematahkan pipa minyak dasar laut Pertamina pada April 2018 sehingga mencemari area seluas 13 ribu hektare di perairan Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kutai Kartanegara.

Pada persidangan lanjutan tersebut, majelis hakim yang diketuai Kayat dan anggota Verra Lynda Lihawa, memeriksa tiga saksi ahli yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Kaltim, Rudy Talanipa.

Salah satu saksi ahli dari Universitas Mulawarman, Deddy Hadriyanto, memaparkan dampak negatif tumpahan 5 ribu ton minyak terhadap lingkungan.

“Ada 300 hektare tanaman mangrove (di sekitar perairan Teluk Balikpapan, red.) yang akan mati tergenang limbah minyak ini,” kata dosen Fakultas Kehutanan tersebut.

Deddy mengatakan, hampir seluruh tanaman rentan terhadap limbah minyak. Demikian pula mangrove yang sulit bertahan saat lingkungannya tercemar adanya limbah minyak.

“Limbah minyaknya sudah merembes dalam tanah dan menutupi akar-akarnya. Padahal akar ini untuk menyerap mineral dan udara di atasnya,” ungkapnya.

Dalam kajiannya, Deddy mendapati kerusakan terparah terjadi di Kelurahan Margasari, Balikpapan Barat. Mangrove yang tumbuh di area seluas 3 hektare di daerah itu kedapatan mati. Kondisi serupa pun ditemui di hutan mangrove Kelurahan Margomulyo, juga di Balikpapan Barat.

"Saya melakukan kajian dua hari pasca-tumpahan dan tanamannya sudah mengering semua," sebutnya.

Oleh karena itu, sang saksi ahli memperkirakan ancaman kerusakan lingkungan bertahap akan terjadi di perairan Teluk Balikpapan. Ia menyebutkan sejumlah area rentan terdampak diantaranya Sungai Lundo, Wain, Baru, Barangan, Tepadung, Balong, Riko, dan Perayan.

"Kerusakan mangrove belum terlihat di wilayah ini, namun tanda tandanya sudah ada. Seperti menguning dan ada tanda sisa limbah minyak," ungkap Deddy.

Meskipun tanamannya masih bertahan, Deddy memastikan hal tersebut tidak berlangsung lama. Ia memperkirakan dampak kerusakan mangrove akan dirasakan kurun waktu 1 hingga 2 tahun mendatang.

Menurut Deddy, bukan perkara mudah menanam kembali hutan mangrove di Balikpapan yang usianya sudah tahunan. Mereka harus terlebih dahulu memastikan seluruh tanah di kawasan itu telah bersih dari limbah minyak.

“Butuh kerja keras dan komitmen bersama. Selain itu juga butuh biaya yang besar mengembalikan hutan mangrove ini. Apalagi kita tahu fungsi mangrove bagi lingkungan,” ujarnya.

Dampak negatif pada mangrove alami

Penggiat Mangrove Centre Balikpapan, Agus Bei, punya teori sendiri soal dampak pencemaran minyak perairan teluk. Pencemaran limbah minyak, menurutnya hanya berdampak negatif terhadap tanaman mangrove yang tumbuh alami.

“Pencemaran minyak ini hanya berdampak tanaman tumbuh alami,” papar lelaki yang menerima penghargaan Kalpataru 2017 kategori Perintis Lingkungan itu saat ditemui Beritagar.id, Kamis (10/1).

Sebagai orang yang mengurusi Mangrove Center Balikpapan, Agus tahu betul beragam jenis mangove ada di tempatnya. Jenisnya ada dua; mangrove alami dan sengaja ditanam.

“Tanaman mangrove sengaja ditanam memiliki ketahanan luar biasa terhadap abrasi, limbah, pasir, polusi. Fungsi utamanya kan sebagai penahan gelombang dan abrasi pantai,” paparnya.

Tanaman mangrove ditanam, otomatis memperoleh perlakuan istimewa dari penanamnya. Seperti dalam pemilihan bibit unggul, perawatan intensif, hingga kajian detail soal level ketinggian air laut.

Agus menyatakan, tanaman mangrove idealnya memiliki kelengkapan alamiah akarnya, seperti tunjang, napas, serabut, udara, lutut dan papan. Enam akar yang dimiliki ini berguna sebagai benteng pertahanan terhadap permasalahan lingkungan terjadi.

“Sebaliknya mangrove alami hanya memiliki akar serabut untuk bernapas dan menyerap mineral. Saat akar serabutnya tergenang minyak, ia akan mati,” sebutnya.

Di kawasannya, Agus mengaku hanya mendapati 25 persen tanamannya yang terancam mati tercemar limbah minyak. Namun demikian, ia berani memastikan diantaranya adalah tanaman alami yang berada di Mangrove Centre Balikpapan.

“Saya harus akui, area kami juga terdampak. Tapi itu hanya 25 persen dari total 150 hektare luasan Mangrove Centre Balikpapan,” tegasnya.

Nelayan sulit mencari ikan

Di sisi lain, dampak pencemaran minyak diakui berdampak langsung terhadap keberlangsungan nelayan tradisional setempat. Nelayan Balikpapan terpaksa berlayar lebih jauh memasuki Selat Makassar dalam mencari ikan.

“Sudah tidak bisa lagi mencari ikan di Teluk Balikpapan. Terpaksa berlayar lebih jauh,” sesal nelayan lokal, Husein.

Masalahnya, kata Husein, nelayan tradisional hanya bermodalkan kapal kapal kecil yang tidak sanggup mengarungi Selat Makassar. Mereka pun kini hanya bisa mencari udang dan kepiting di pesisir pantai Balikpapan.

“Dulu bisa memperoleh ikan kecil sebanyak 5 kilogram setiap kali berlayar. Sekarang hanya bisa mencari udang dan kepiting saat air pasang,” ungkapnya.

Saat kawasan mangrove terancam, Husein mengaku tidak tahu lagi dalam menyambung hidup ke depan. “Entah lah kalau mangrovenya juga rusak. Disitu biasanya mencari udang dan kepiting,” sesalnya.

Kasus pencemaran lingkungan tersebut berawal dari patahnya pipa minyak Pertamina di dasar laut Teluk Balikpapan pada 31 Maret 2018. Jangkar kapal MV Ever Judger, yang tengah membawa batu bara masuk perairan tersebut, diduga menjadi penyebabnya.

Akibatnya, minyak mentah mencemari kawasan tersebut, bahkan sempat terbakar dan menyebabkan tewasnya tiga nelayan.

Setelah melakukan penyelidikan, Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur menetapkan nahkoda kapal sebagai tersangka pada 26 April 2018 dan menyita kapal tersebut. Polisi menduga nahkoda ceroboh melego jangkar sehingga mematahkan pipa minyak. ***

Reporter : Inara Dafina    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0