24 Juni 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Densus 88 Tangkap Aktor Penting Dunia Teror Indonesia


Densus 88 Tangkap Aktor Penting Dunia Teror Indonesia
Densus 88 saat beraksi menangkap terduga teroris di Kendal, Jawa Tengah, pada Selasa (24/10/2017). | Mohammad Ayudha /Antara Foto

KLIKBONTANG.com -- Tim Detesemen Khusus Antiteror 88 (Densus 88) menangkap salah satu sosok penting dalam dunia terorisme di Indonesia. Dia adalah Harry Kuncoro alias Wahyu Nugroho alias Uceng yang disebut kaya pengalaman dalam tubuh teroris tanah air.

"Tersangka (Harry) ditangkap di Bandara Soekarno Hatta 3 Januari 2019 lalu," ujar Karopenmas Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Senin, (11/2/2019) siang seperti dikutip dari Medcom.id.

Rekam jejak Harry di dunia teror Indonesia cukup panjang. Dia terlibat dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) saat membantu dua teroris Nurdin M. Top dan Azhari Husin (biasa disebut dokter Azhari) beberapa tahun lalu.

Atas dasar dua hal itu, ia pun sempat mendekam tiga kali di balik sel jeruji, salah satunya di lembaga pemasyarakatan Kali Putih, Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah --penjara maximum security di Indonesia.

Terakhir, ia dihukum karena terbukti menyembunyikan Dulmatin serta memasok senjata api dan amunisi ke ke­lompok tersebut. Divonis pada 2012, Harry pun menjalani hukuman hingga 2016 di Nusa Kambangan.

"Setelah dikeluarkan (dari lapas Kali Putih), Harry merupakan ak­tor penting (teror) di Indonesia saat ini," kata Dedi dalam Koranjakarta.com. "Sebab, tersangka punya hubungan langsung ke (ke­lompok teroris) luar negeri."

Salah satu jaringan berbahaya yang dimiliki oleh Harry adalah hubungannya dengan ISIS. Lelaki berusia 41 tahun tersebut diketahui sering berhubungan dengan salah satu pentolan ISIS asal Indonesia, Abu Walid.

Bukan hanya aksinya di lapangan yang berhasil memasukkan nama Harry sebagai salah satu teroris paling dicari di Indonesia. Demikian juga dengan perannya sebagai penyandang dana bagi sel tidur (sleeping cell) di tanah air.

Dalam catatan Kepolisian, Harry diketahui aktif memberikan uang kepada kelompok-kelompok yang berada dalam sel tidur di Indonesia. Dari situlah, diduga, berbagai aksi teror di Indonesia didanai.

"Namun demikian sel tidur dalam pantauan ketat Densus 88 maupun satgas antiterorisme dam radikal yang ada di Polda," kata Dedi dalam CNN Indonesia.

Lantas mengapa pihak kepolisian baru memberi pernyataan mengenai penangkapan Harry ini kemarin, padahal dia ditangkap awal Januari? Menurut Kadiv Hu­mas Polri, Irjen Pol M. Iqbal, langkah ini diambil agar tidak meng­ganggu proses penyelidikan.

"(Kini) sudah ditetapkan sebagai tersangka," kata Iqbal.

Jaringan luar negeri
Saat ini, Harry mungkin menjadi salah satu sosok penebar teror di Indonesia yang memiliki jaringan paling luas ke luar negeri. Ia bahkan diketahui sudah cukup dekat berhubungan dengan kelompok jaringan teror di Suriah.

Hal ini diketahui dalam percakapan Harry dengan Abu Walid, algojo ISIS yang diketahui sudah tewas pada akhir Januari kemarin. Nama terakhir inilah yang menyarankan Harry berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

"Dari hasil komunikasi intens antara Abu Walid dengan HK (Harry), yang bersangkutan memberikan saran kepada tersangka untuk segera bergabung ke Suriah dengan mentransfer duit 30 juta untuk dokumen keberangkatan, termasuk tiket," kata Dedi.

Saat hendak berangkat ke Suriah melalui jalur Iran inilah, Harry dicokok oleh Densus 88. Sangkaannya adalah pemalsuan dokumen.

Hanya di situ sajakah rekam jejak Harry dengan jaringan teror di luar negeri? Tidak. Dedi menyebut bahwa Harry memiliki afiliasi langsung dengan teroris dunia dan memiliki jaringan di luar negeri.

"Dia menguasai wilayah Indonesia dan Asia, melakukan aksi di Afghanistan," ujar Dedi. Selain itu, diketahui pula, Harry pernah belajar di Arab Saudi dan Afghanistan.

Atas perbuatannya ini, Harry bakal disangkakan Pasal 12 a ayat 1 Undang-undang No. 5 Tahun 2018 tentang perubahan UU No. 15 Tahun 2003 tentang perubahan UU No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Selain itu, ia juga akan dikenakan Pasal 15 jo Pasal 7 UU No. 15 Tahun 2003 perubahan UU No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme serta Pasal 13 huruf c UU No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme, selain juga Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen.

Untuk saat ini, Harry telah ditahan oleh pihak kepolisian untuk terus didalami keterangannya guna mengungkapkan jaringan terorisme lainnya.

Profil Abu Walid
Hubungan antara Harry dengan Abu Walid disebut pihak Kepolisian sudah sangat intens. Abu Walid adalah salah satu pintu masuk utama bagi Harry ke Suriah.

Lalu, siapakah sosok Abu Walid? Menurut Dedi, Abu Walid merupakan algojo ISIS yang memiliki pengaruh dan peran besar di kelompoknya. Ia mulai dikenal dari peristiwa kerusuhan Ambon pada 1999. Disebut-sebut, Abu Walid bersama saudara kembarnya disebut ikut dalam kerusuhan tersebut.

"Setelah itu, dia sekolah ke Arab Saudi. Pada awal 2000-an, dia terlihat di jaringan Jamaah Islamiyiah. Dia dekat dengan Noordin M. Top (tersangka kasus Bom Hotel JW Marriott, Kedubes Australia dan Bom Bali II)," jelas Dedi dalam detikcom.

Abu Walid, dalam keterangan Dedi kepada wartawan, juga diketahui sebagai penyalur dana dari Timur Tengah kepada Noordin M. Top. Ia juga kerap bepergian ke Filipina bagian Selatan.

"Abu Walid pernah ditangkap pemerintah Filipina karena tidak memiliki dokumen yang lengkap. Dia juga membawa senjata dan bahan peledak tahun 2004. Dia divonis 9 tahun penjara. Setelah itu, (dia) dikembalikan ke Indonesia," tutur Dedi.

Setelah lama tak terdengar kabarnya, Abu Walid muncul dalam salah satu video rilisan ISIS. "Dalam video itu, dia sebagai algojo dan melakukan eksekusi terhadap korbannya. Dia di Suriah dan akhir bulan kemarin tewas," kata Dedi.

Sama seperti teroris lainnya, Abu Walid juga memiliki sejumlah nama samaran. Nama lainnya, di antaranya, adalah Muhammad Syaifudin alias Muhammad Yusuf Karim Faiz. ***

Reporter : Inara Dafina    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0