22 November 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

IPM Bontang Tinggi, Penderita Stunting Kok Tinggi?


IPM Bontang Tinggi, Penderita Stunting Kok Tinggi?
Ilustrasi.

KLIKBONTANG.com – Angka penderita stunting di Kota Bontang, Kalimantan Timur cukup tinggi. Berdasar hasil pemantauan gizi balita tahun 2017. Tercatat, 34,2 persen balita di Bontang alami stunting. Sedang berdasar aplikasi e-PPGM pada 2018. Stunting di Bontang turun menjadi 31,8 persen.

Informasi tambahan, stunting sendiri merupakan sebuah masalah kesehatan dimana seorang bayi atau anak-anak mengalami hambatan dalam pertumbuhan tubuhnya, sehingga gagal memiliki tinggi yang ideal pada usianya.

Angka diatas diambil berdasar populasi balita usia 0-59 bulan. Seluruh balita disasar,  dilakukan pemantauan, dan pengukuran tinggi badan. “Iya cukup tinggi, banyak penyebabnya,” jelas Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Nur Asmah di sela acara diseminasi stunting di auditorium 3 dimensi, Kamis (28/2/2019) pagi

Faktor terjadinya stunting diantaranya ialah miskonsepsi di masyarakat. Yakni menganggap kondisi tubuh anak kerdil adalah faktor keturunan (Genetik). Dari kedua orang tuanya. Masyarakat lantas berpikir, itu dalah hal lumrah. Pada akhirnya. Tak ada upaya pencegahan dilakukan. 

Padahal, tak demikian faktanya. Tumbuh kembang manusia sehat dipengaruhi setidaknya oleh tiga hal. Yakni pola makan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan; terutama sanitasi dan air bersih.

Beberapa upaya pun telah diambil Diskes Bontang. Untuk mengenalkan, dan diharap mencegah stunting masa mendatang. Diantaranya dengan memberikan makanan tambahan untuk mencukupi kebutuhan 1000 hari kehidupan awal.  Pemberian tablet zat besi (FE) untuk remaja putri (Calon ibu) dan Ibu. Serta menggencarkan sosialisasi, dan konseling untuk pojok gizi balita.

''Memang masih cukup tinggi. Tapi alhamdulliah, tahun 2017 ke 2018 kita berhasil turunkan dua digit,'' terang Nur Asmah. 

Adapun jika melihat per wilayah. Kasus stunting tertinggi terjadi di Bontang Selatan. Utamanya di wilayah kerja Puskesmas Bontang Selatan I dan Bontang Lestari.

Pemerintah pusat menjadikan pencegahan stunting sebagai prioritas nasional dalam rencana kerja pemerintah (RKP) 2018 dan 2019. Oleh sebab itu. Diskes gencar lakukan sosialisasi dan pemantauan balita. 

Kendati demikian. Masalah gizi akan terus ada. Hal yang dilakukan pemerintah ialah menekannya seminimal mungkin. Khusus untuk stunting. Pemerintah menargetkan angka stunting tidak lebih dari 20% dari total balita yang ada di Indonesia. ''Pemerintah mengikuti targetnya WTO. Yaitu 20 persen,'' imbuh Asmah. 

Angka stunting di Bontang sempat disinggung Wali Kota Neni dalam sambutannya. Ia terheran. Indeks pembangunan manusia (IPM) Bontang yang tinggi, tak berpengaruh singnifikan pada penurunan angka stunting. IPM Bontang sendiri berada di angka 79,47. Lebih tinggi dari rata-rata nasional. 

Berdasar survei penentuan status gizi yang dilakukan Diskes Kaltim pada 2017. Prevelansi stunting Bontang adalah 34,2 persen. Berada di peringkat terakhir dari 10 kabupaten/kota di Kaltim. Ini menunjukkan. Meski IPM Bontang tertinggi di Kaltim. Namun masalah kesehatan lain seperti stunting masih cukup tinggi. ***

Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0