27 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Membangun Tol, Menemukan Harta Karun


Membangun Tol, Menemukan Harta Karun
Petugas Badan Pelestarian Cagar Budaya(BPCB) Trowulan melakukan eskavasi di situs purbakala yang ditemukan saat pembangunan proyek jalan tol Malang-Pandaan di kilometer 35, Sekaran, Pakis, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/3/2019). | Ari Bowo Sucipto /Antara Foto

KLIKBONTANG.com -- Maksud hati membangun jalan tol, malah harta yang didapat. Itulah yang terjadi di daerah Sekarpuro, Kecamataan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penggalian tanah untuk pembangunan tol Pandaan-Malang mengungkap keberadaan sebuah situs kuno dan beragam harta di dalamnya.

Situs tersebut terletak di Seksi 5 kilometer 37 proyek jalan tol sepanjang 38,48 km yang menghubungkan Kota Malang dengan Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Menurut keterangan warga yang diwawancarai Kompas.com, BBC Indonesia, dan Suara.com, situs kuno dan beragam benda di dalamnya itu sebenarnya telah ditemukan mereka sekitar empat bulan lalu. Namun baru menjadi ramai oleh para pemburu harta karun sejak media mulai memberitakannya pada pekan lalu.

Pecahan gerabah, patahan keris, peralatan kuno, serta koin yang terbuat dari emas dan perunggu, termasuk koin yang diduga berasal dari Tiongkok, menurut Muhammad Arifin, Ketua RT15/RW 8 Dusun Sekaran, Kelurahan Sekarpuro, dengan mudah mereka temukan pada radius 300 meter dari sisa bangunan kuno itu.

Bahkan, tuturnya, salah satu alat berat yang melakukan penggalian tanah untuk pembangunan jalan tol sempat mengangkat sebuah peti berbahan perunggu yang penuh berisi koin. Jumlahnya mungkin ribuan, kata Arifin.

Limpahan harta karun tersebut, tentu saja, menarik semakin banyak orang datang. Bahkan banyak dari mereka yang sejenak meninggalkan pekerjaan sebagai petani untuk ikut mengadu nasib di situs tersebut.

Harta karun tersebut ada yang langsung dijual oleh warga yang menemukan. Harganya antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur, pun segera menyisir dan melakukan penelitian di kawasan tersebut. Bekerja sama dengan polisi setempat, mereka berupaya untuk menyelamatkan harta peninggalan bersejarah itu.

Koordinator Juru Kunci Candi Malang Raya pada BPCB Jawa Timur, Haryoto, meminta warga untuk mengembalikan benda-benda yang diambil dari situs. Ia menjanjikan uang ganti rugi kepada warga yang mau mengembalikan.

Arifin menyatakan beberapa warga memang berniat untuk menyerahkan temuan mereka kepada BPCB, tetapi mereka meminta imbalan yang sesuai. Selain itu, warga juga ingin tahu di museum mana benda tersebut nantinya disimpan.

Kawasan permukiman elit

Sementara itu, dikabarkan Tempo.co, BPCB telah menurunkan tim ekskavasi yang terdiri dari 11 orang. Mereka adalah gabungan dari arkeolog, teknisi pemetaan, juru gambar dan tukang gali.

Ekskavasi dilakukan untuk mengetahui luas situs dan masa pembuatan struktur bangunan dari batu bata yang ditemukan tersebut. Hasilnya nanti akan dijadikan dasar dalam pelestarian situs tersebut.

Arkeolog Wicaksono Dwi Negoro, anggota tim tersebut, berdasarkan pengamatan awal terhadap struktur batu bata yang berserakan, menyatakan situs tersebut kemungkinan berasal dari zaman pra-Majapahit.

Majapahit adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara yang berdiri antara tahun 1293 hingga 1500. Puncak kejayaan mereka terjadi saat diperintah Raja Hayam Wuruk pada periode 1350-1389. Ibu Kotanya berada di Trowulan (saat ini bagian dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur).

Oleh karena itu, sisa-sisa kerajaan tersebut kerap ditemukan di kawasan sekitar Mojokerto dan Malang.

Mudzakir Dwi Cahyono, ahli arkeologi lain yang mengaku sudah datang ke situs di Pakis, yakin bahwa situs tersebut merupakan peninggalan zaman Majapahit dan bukan situs keagamaan. Ia meyakini Desa Sekarpuro merupakan wilayah penting pada zaman Majapahit yang dulu disebut sebagai Nagari Kabalan.

"Kalau dilihat temuan ukuran bata, penataan bata, ini merupakan situs permukiman Majapahit, bukan situs keagamaan," ujarnya kepada JawaPos.com (9/3).

Dia menjelaskan, dilihat dari barang-barang yang ditemukan, situs ini merupakan permukiman elit, kelas menengah ke atas. "Ada temuan cermin, koin uang gobog (mata uang Tiongkok), keramik Tiongkok. Biasanya yang tradisi berhias itu orang menengah ke atas," tuturnya.

Jasa Marga siap geser jalur tol

Temuan bersejarah itu membuat BPCB meminta kepada PT Jasa Marga untuk memindahkan jalur tol, atau setidaknya berhati-hati saat melakukan pembangunan agar situs yang ditemukan tak rusak karenanya.

General Manager Teknik PT Jasa Marga tol Malang-Pandaan, M. Jajuli, kepada Tempo.co (12/3) mengatakan mereka telah menghentikan sementara pembangunan jalan tol di kawasan tersebut, menunggu keputusan para arkeolog.

Jika situs tersebut dinyatakan sebagai cagar budaya oleh BPCB, Jasa Marga, menurut Jajuli, akan segera membelokkan jalur tol menjauh dari kawasan itu. Jalur akan digeser ke sisi timur atau tepat di bantaran Sungai Amprong. Untuk memperkuat struktur jalan, nantinya, akan dipasang turap dengan panjang 100 meter dan lebar 10 meter.

"Memungkinkan kok jika kita geser karena itu masih di bantaran. Jadi nanti tebingnya kita lebih tinggi dan ada penguatan dinding penahan," kata Jajuli kepada Surya.co.id.

Penghentian sementara pembangunan itu, menurut Jajuli, tak terlalu merugikan pihaknya. Namun, pengubahan jalur akan membuat waktu penyelesaian tol tersebut menjadi molor. Jalan tol itu sebelumnya dijadwalkan selesai pada Juli 2019. ***

Reporter : Inara Dafina    Editor : Suriadi Said



Comments

comments


Komentar: 0