27 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Wahyu Juli Hastuti; Cipta Inovasi, Guru SMKN 1 Ini Raih Penghargaan dari Jepang


Wahyu Juli Hastuti; Cipta Inovasi, Guru SMKN 1 Ini Raih Penghargaan dari Jepang
Wahyu Juli Hastuti, guru SMKN 1 Bontang menunjukan penghargaan yang berhasil diraih berkat alat ciptaan dirinya. (KLIKBONTANG/FITRI)

KLIKBONTAG.com -- Sedikit peluh membasahi keningnya. Wahyu Juli Hastuti – Selanjutnya Ibu Juli -- tertatih menuju lobi SMKN 1 Bontang, Jalan Pupuk Raya. Di punggung kirinya menggantung tas selempang. Tangan kanannya menenteng kantung plastik. Dari sana mencuat aneka minuman: susu kotak, teh kotak, dan air mineral. Masing-masing 3 buah.

‘’Maaf yah, Mbak, Mas. Saya telat. Soalnya tadi abis ngawas,’’ sapa Ibu Juli ramah kala menemui awak KlikBontang, Selasa (12/3/2019) pagi.

Melihat kondisi lobi dipenuhi manusia hilir mudik: Guru, murid, dan tamu sekolah. Ibu Juli mengarahkan redaksi KlikBontang beralih ke ruang humas. Tepat di sisi bawah lobi sekolah. ‘’Ke bawah aja kali yah. Disini kayaknya kurang kondusif,’’ tutur dia sembari mengulas senyum.

Ruang humas. Tak terlalu luas. Hanya ruang berukuran 7 x 3 meter. Didalamnya tak banyak isi. Satu lemari kaca berdiri dekat ambang pintu. Di dalam lemari itu. Terlihat berkas dihimpun dalam kotak biru. Di ruangan itu pula. Terdapat tiga unit meja. Dua diantaranya dilengkapi komputer pribadi. Namun benar. Ruangan ini cukup tenang. Kedap dari kebisingan luar.

Dari sini. Kepada KlikBontang, Ibu Juli menceritakan perjuangannya mencetak prestasi gemilang. Yakni menerima penghargaan dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) di Hotel Mulia Jakarta awal Maret 2019 lalu. Adapun ITSF merupakan organisasi nirlaba yang bermarkas di Jepang.

Setiap tahun, organisasi ini rutin menganugrahi. Para pendidik dan peneliti yang fokus melakukan penelitian terkait sains di Indonesia. Penghargaan dari ITSF Ibu Juli terima berkat dedikasinya dalam memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Agar lebih aplikatif, menantang, dan melatih kejujuran murid.

Dengan menciptakan sebuah alat yang dinamai alat absorpsi. Yakni alat yang mengkombinasikan aplikasi absorpsi dan amoniak menggunakan sebuah detektor. Ide membuat alat absorpsi sebenarnya bermula dari rasa tak puas.

Selama ini Ibu Juli mengajar mata pelajaran Kimia Produktif untuk kelas 11 dan 12. Dalam mata pelajaran itu, ada pembahasan dan praktik tentang absorpsi. Ia tak puas. Sebab selama ini muridnya semata mengabsoprsi air kotor menjadi air jernih. Itu dirasa sangat monon.

Padahal absorpsi dapat diaplikasikan pada elemen lain. Seperti gas. Dari sana timbul lah ide. Membuat alat yang mampu mengabsorpsi elemen lain selain air. ‘’Kalau cuma absorpsi air. Kok rasanya biasa saja,’’ terang Ibu dari 3 anak ini.

Secara ringkas. Absorpsi dapat dipahami sebagai proses suatu bahan (absorbat) diretensi oleh bahan lain (absorben). Ini dapat berupa larutan fisik gas, cairan, atau padatan dalam cairan, pengikatan molekul suatu gas, uap, cairan, atau pelarutan bahan pada permukaan padatan melalui gaya fisika, dan lain sebagainya.

Tahun 2017, dimulai lah proyek pembuatan alat absorpsi. Lantaran ini datang dari rasa tak puasnya melihat pembelajaran dikelas monoton. Maka seluruh dana pengembangan berasal dari dana pribadi. ‘’Lumayan juga sih yang saya keluarkan. Tapi agar pembelajaran lebih menarik. Saya kira tidak masalah,’’ jelasnya.

Di awal pengembangan, alat itu tak langsung sempurna. Masih banyak kekurangan. Melalui proses trial dan error (coba dan gagal) menjadi hal lumrah baginya. ‘’Trial and error itu uda biasa Mbak. Tapi saya coba terus sampai bisa,’’ katanya.

Perbedaan alat absorpsi milik Ibu Juli dengan alat serupa ialah keberadaan sensor, dan indikator digital. Itu membuat hasil absorpsi nantinya tak bisa dimanipulasi. Sensor bakal menunjukkan hasil ppm. Juga indikator bakal memperlihatkan kualitas absorbain. ‘’Nanti hasilnya otomatis terkirim ke hp melalui SMS. Jadi hasilnya tidak bisa dimanipulasi,’’ jelas Ibu Juli.

Dari situ. Murid-murid justru tertantang menghasilkan hasil absorbain terbaik. Juga melatih kejujuran mereka. Inilah hal positif dihasilkan alat absorbain rakitan Ibu Juli terhadap pembelajaran. Melihat dampak positif dari alat rakitannya bagi pembelanjaran. Ibu Juli berinisiatif mengirim prosposal proyek penelitian mengenai alat itu ke ITSF pada 2018.

Sejatinya ini merupakan upaya keduanya di ITSF. Sebelumnya, pada 2017. Ibu Juli pernah mengirim proposal ke ITSF. Namun apa daya. Langkahnya terhenti begitu cepat. Baru sampai di tahap seleksi pemaparan proposal penelitian. Dirinya sudah ditolak.

‘’Proyek penelitian tahun 2017 sama 2018 beda. Waktu di 2017. Jangankan ikut wawancara. Di tahap seleksi proposal aja saya tidak lolos,’’ beber dia.

Kendati demikian. Gagal nyatanya tak meruntuhkan semangatnya. Dirinya justru makin terpacu. Trus bereksperimen, dan terus belajar. "Pendaftaran dibuka sekitaran Mei 2018. Kalauul enggak salah. Waktu itu saya kirim proposal bulan delapan (Agustus)," beber guru mata pelajaran kimia produktif ini.

Pada 2018. Ada sekirar 116 proposal penelitian diterima ITSF. Seluruh proposal itu berasal dari guru sains se-Indonesia. Dari ratusan proposal itu. Pihak ITSF hanya menyeleksi 15 proposal terbaik untuk maju ke tahap berikutnya. Yakni wawancara dan pemaparan. Tepat pada November 2018. Proposal Ibu Juli dinyatakan termasuk dalam 15 besar itu.

‘’Senang banget waktu itu. Soalnya tahun sebelumnya kan saya enggak sampai wawancara,’’ terang Ibu Juli dengan girang.

Pada bulan itu jua. Ibu Juli diterbangkan ke Jakarta. Untuk lakukan wawancara dan memparkan alat absorbain rakitannya. Seperti bagaimana aplikasinya, dan apa dampak positifnya terhadap pembelajaran di kelas. Pemaparan itu ia lakukan di hadapan tiga orang dewan juri yang berasal dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Serta 80 guru yang diundang khusus oleh ITSF.

Sebulan usai wawancara dan persentasi. Pada Desember 2018. Ibu Juli berikut alat rakitannya itu dinyatakan berhak atas penghargaan Science Education Awards (SEA) tahun 2018. Anugrah itu ia terima bersama 9 guru sains lainnya.

‘’Di Kalimantan cuma ada 2 yang terima (SEA). Satu Bontang (SMKN 1), satu lagi SMA 6 Samarinda. Yang jelas paling banyak Jawa,’’ ujarnya.

Lebih jauh Ibu Juli menerangkan. Menerima penghargaan bukanlah hal baru baginya. Hanya saja, kali ini terasa lebih spesial. Ia bahkan mengaku. Boleh dikata ini merupakan puncak prestasinya. Sebab, penghargaan itu ia terima dari organisasi nirlaba dari luar negeri.

Berikut daftar pengharagaan pribadi yang pernah dicetak Ibu Juli:

1. Juara 2 guru berprestasi tingkat provinsi tahun 2015;
2. Juara 2 inobel tingkat nasional tahun 2016;
3. Finalis pendidikan karakter bangsa tahun 2017;

Ada pula prestasi yang ia cetak bersama siswa, diantaranya:
1. Finalis Young Inventor Award 2015;
2. Special Award LKIR Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) tahun 2016;
3. Juara tiga karya inovasi.

Inilah deretan prestasi yang pernah dicetak Ibu Juli. Masih ada prestasi lainnya dari universitas di Kaltim. Seperti dari Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Samarinda, dan Insitut Teknologi Kalimantan. ‘’Itu aja yang saya ingat. Yang tingkat provinsi lain sebenarnya juga ada. Paling berkesan yang ini (Dari ITSF). Karena baru pertama kali dapat dari pemerintah negara luar,’’ lanjutnya.

Sebelum akhiri percakapan. Ibu Juli menegaskan penghargaan ini bukan untuk dipamer. Atau menunjukkan dirinya lah orang paling hebat. Bukan. Kata dia, ini justru jadi cambuk bagi dirinya. Agar keluar dari zona nyaman. Tak merasa puas dan tak henti belajar. Serta terus berinovasi dalam memberikan pembelajaran kepada anak didiknya.

"Jangan bertahan di zona nyaman. Kita harus terus berinovasi dan kerja keras. Saya percaya. Kerja keras tak akan mengkhianati hasil," tandasnya. ***

Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Suriadi Said



Comments

comments


Komentar: 0