23 Agustus 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Banjir Samarinda Akibat Alih Fungsi Rawa


Banjir Samarinda Akibat Alih Fungsi Rawa
Banjir yang melanda sejumlah ruas jalan utama dan beberapa kawasan di Kota Samarinda sejak hari ketiga lebaran akibat tingginya curah hujan tersebut telah melumpuhkan aktivitas masyarakat.

KLIKBONTANG.com -- Pemerhati Sungai di Samarinda, Kalimantan Timur, menilai bahwa banjir yang terjadi di Samarinda dalam beberapa hari terakhir antara lain karena sejumlah rawa di sekitar sungai sudah beralih fungsi menjadi perumahan.

"Hukum alam paling dasar adalah air selalu menempati kawasan paling rendah, jika kawasan rendah hilang, maka ia akan meluber liar yang kemudian menjadi banjir," ujar Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Misman di Samarinda, Senin (10/6/2019).

Selama ini, lanjutnya, rawa merupakan tempat paling potensial sebagai wadah parkir air hujan sebelum dialirkan ke sungai secara perlahan, namun rawa tersebut makin lama makin habis karena dialihfungsikan, terutama untuk perumahan oleh pengembang dan untuk pemukiman pribadi secara tidak ramah lingkungan.

Akibatnya, ketika hujan turun maupun sungai pasang, air tidak bisa lagi masuk ke areal rawa sehingga air akan menempati ruangannya sendiri atau yang disebut daerah aliran sungai (DAS) meski rawa tersebut telah diuruk, karena dulunya lokasi itu adalah ruang sungai, bukan lahan masyarakat seperti sekarang.

Ia juga mengatakan bahwa ketika ada banjir, Sungai Karang Mumus (SKM) jangan dikambinghitamkan karena airnya meluap tetapi yang perlu disalahkan adalah oknum yang telah menimbun rawa .

Parahnya lagi, lanjut, Misman, sekarang pemerintah membuat taman di bantaran SKM dan taman tersebut disemen, sehingga hal ini tentu saja menghilangkan daerah resapan air. Semestinya taman yang dibuat harus ramah lingkungan.

“Kalau sudah begini, lantas apa yang dilakukan? Samarinda ini masih bisa kok diselamatkan dari bencana banjir yang lebih besar lagi. Banyak cara yang bisa dilakukan, jangan membangun hanya memasang slogan smart city, tapi nyatanya tidak ramah lingkungan,” katanya.

Ia meminta agar jangan lagi memberi izin untuk mengalihfungsikan rawa, kawasan di sepanjang sungai dan riparian atau tumbuhan yang hidup dan berkembang di tepi-tepi sungai harus dijaga.

“Dalam empat tahun terakhir, GMSS-SKM masih berusaha membantu Samarinda untuk menghindarkan dari bencana yang lebih besar, di antaranya adalah dengan menanam pohon yang saat ini sudah tertanam sekitar 10.000 pohon khas sungai,” katanya.

Pengungsi Butuh Perlengkapan Bayi dan Wanita

ARUS pengungsi korban banjir di Samarinda, Kalimantan Timur, terus meminta upaya evakuasi kepada tim SAR gabungan sampai malam ini. Banyaknya bayi, balita dan perempuan, memerlukan bantuan perlengkapan selain logistik makanan.

"Benar. Sampai sekarang ini, informasi kami terima permintaan bantuan untuk evakuasi ke sejumlah posko pengungsi, terus berdatangan," kata petugas Pusdalops BPBD Kalimantan Timur, Muriono, Senin(10/6) malam.

Di posko pengungsian simpang remaja misalnya, telah didirikan dapur umum, untuk keperluan logistik makanan siap makan. "Distribusi kepada korban banjir yang masih bertahan di rumah, dilakukan pendampingan TNI dan Polri," kata Muriono.

"Selain itu juga, dari pantauan kami, yang paling diperlukan adalah perlengkapan bayi dan perlengkapan kebutuhan khusus wanita," ujar Muriono.

Muriono juga menerangkan, banyaknya permintaan logistik makanan siap makan seperti nasi bungkus, memang belum terdistribusi maksinal. "Hari ini, sudah didistribusikan 20 ribu nasi bungkus di berbagai dapur umum," tambahnya.

Sementara itu, Camat Samarinda Utara Syamsu Alam melansir, di wilayahnya ada ada 3.974 Kartu Keluarga atau sekitar 9.328 terdampak banjir sedemikian parah dua hari ini. "Ini masih data sementara," kata Syamsu.

KLIK JUGA: Samarinda Masih Dikepung Banjir

Namun sayang, belum diketahui pasti jumlah korban banjir lainnya di kecamatan Sungai Pinang dan kecamatan Samarinda Ulu, yang juga terendam banjir hingga 2 meter. ***

Reporter : Inara Dafina    Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0