28 Februari 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kisah Mualaf Bontang (1); Awalnya Karena Cinta, Kini Hafal Al- Quran


Kisah Mualaf Bontang (1); Awalnya Karena Cinta, Kini Hafal Al- Quran
Dinel (paling kanan) saat berfoto dipernikahan adik Sumanti (paling kiri) bersama kedua anaknya

Liputan Khas klik fokus

Edisi I (28/6/2015)

Kisah Mereka yang ‘ Istimewa’ di Bulan Puasa

 

KLIKBONTANG – Tak gampang untuk berpindah agama. Banyak konsekuensi yang pasti akan dihadapi seseorang yang berpindah agama. Itulah yang kini dirasakan Dinel Limbong. Pria kelahiran 23 Juli 1972 itu mantap untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan agama yang sejak lahir sudah bersama dirinya.

Bulan puasa kali ini terasa spesial bagi dirinya. Dan terus selalu istimewa.

Karena di bulan inlah dirinya berupaya untuk terus meningkatkan keimanannya sebagai seorang muslim. Sebab, dia ingat betul, perjuangannya menjadi seorang muslim bukanlah hal yang mudah. Banyak rintangan dan rintangan yang justru terpaksa dia lakoni.

Sikap keluarga misalnya. Dia terpaksa harus rela makan hati dengan sikap keluarga yang menolak keputusannya untuk memeluk agama Islam.

Dinel Limbong yang kini mengganti namanya menjadi Muhammaddin mengaku menjadi seorang muallaf menjadi tekad bulatnya setelah bertemu sang pujaan hati yakni seorang guru mengaji di masjid Al-Falah di Kelurahan Kanaan yakni Sumanti asal Tanah Toraja Sulawesi Selatan.

Ia bertemu dengan perempuan pujaannya itu tepatnya di tahun 2008 lalu.

Seiring dengan waktu, melalui cinta pada pandangan pertamanya dengan Sumanti dan berpacaran hingga akhirnya Dinel memutuskan untuk menikahinya walau sebelumnya sudah sama-sama tahu ada tembok besar yang menghalangi mereka yakni beda keyakinan.

 "Sumanti tahu kalau saya  non Muslim pada waktu itu," kenang Dinel.

Dinel sempat dilempari dan dikucilkan keluarga besarnya selama setahun. Gara-garanya Dinel yang beda agama dengan Sumanti. "Kalau dia jemput aku dulu di warung, dia sering dilempari," kenang Sumanti.

Namun hal itu ternyata tidak membuat Dinel menyerah begitu saja. Dengan kemantapan diri untuk menikahi Sumanti, Dinel pun yakin untuk mengikuti ajaran agama yang dianut sang kekasih. Yakni agama Islam.

Namun jelas, hal itu pun mendapat tentangan dari keluarganya sendiri.

Dinel  Setelah 6 Bulan menikah mendapat cobaan yang berat. , Saat-saat itu pula adalah saat diujinya kesabaran Dinel atau Muhammaddin sebagai seorang muslim.

Ia menyadari posisinya sebagai anak dan adik dari 4 saudara, ia memberanikan diri mendatangi keluarga besarnya setiap bulannya yang berada di Kota taman.

Ternyata niat baik pasangan Muhammaddin dan Sumantri tidak mendapat respon yang baik. Setiap mereka mendatangi keluarga Mauhammaddin, pasangan tersebut tidak ada satu kata pun kata yang keluar dari keluarga Muhammaddin.

"Setiap bulan kami ke rumah keluarga suami saya tetapi tidak mendapat respon. Dan setiap saya pulang dari sana, saya pasti selalu menangis," ungkap Sumanti.

Kesabaran Mummaddin dan Sumanti pun akhirnya berbuah manis. Bersatunya kembali 2 keluarga besar yang berbeda keyakinan ini justru datang setelah Sumanti melahirkan Romasti seorang anak perempuan cantik yang kini berusia genap 16 tahun.

"Kami mulai rukun dengan keluarga sejak kelahiran Romasti," ucap DInel.

Dengan keberanian diri pasangan suami istri ini, mereka mendatangi keluarga besar Dinel. Kekuasaan Sang Pencipta mulai ditampakkan buat mereka, dengan kehadiran mereka membawa si buah hati yang masih balita. keluarga sang suami mulai luluh dan sadar bahwa cinta cinta tidak bisa dipaksanakan dan pilihan Dinel adalah pilihan yang paling tepat menurutnya. "Saat itu mereka sadar kalau pilihan saya ini, adalah langkah yang terbaik," tambahnya.

Meski awalnya, cinta yang membawa Muhammaddin membawa ke agama Islam bukan berarti dirinya tak istiqomah menjadi seorang mualaf. Seiring jalannya waktu, ia pelan-pelang terus belajar tentang Islam.

Kini Muhammaddin telah fasih melafalkan Ayat-ayat suci Al-Qur'an dan sudah bisa menghafalnya. Tatkala ia pun menjadi imam buat keluarganya dalam melaksanakan salat secara berjamaah.

"Kalau puasa saya kuat. Bahkan saya tidak makan nasi kalau sahur cuma air putih,” pungkasnya. (*)

Reporter : Andi Zachril    Editor : Dasrun Darwis



Comments

comments


Komentar: 0