19 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Dulu Pengedar Narkoba, Kini Tobat dan Jadi Petugas Koperasi


Dulu Pengedar Narkoba, Kini Tobat dan Jadi Petugas Koperasi
Umay, salah satu napi yang bekerja di koperasi Lapas. (Fitri W/Klikbontang)

"Remember, red. Hope is a good thing. Maybe the best of thing. And no good thing ever dies,”

KALIMAT  itu diucapkan Andy Dufresne pada kawannya Ellis Boyd "Red" Redding, dalam film The Shawsank Redemption (1994). Kala keduanya meringkuk dalam sesaknya tahanan The Shawsank.

Entah mengapa, kalimat di atas seketika menyeruak, saat reporter KlikBontang berbincang dengan Jumardin (28) atau acap disapa Umay. Salah seorang, dari 1.088 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Klas III A Bontang (Selanjutnya Lapas Bontang), Selasa (6/8/2019) pagi. Pagi itu, Umay berpenampilan demikian rapi. Rambut klimis, dipotong model mohawk. Mengenakan kemeja biru dongker yang disetrika licin, celana jeans. Semakin paripurna, dengan sepatu chuck taylor warna senada kemeja menutupi kakinya.

Saban hari, Umay berpenampilan demikian rapi. Setidaknya 6 bulan terakhir. Semenjak dirinya resmi bekerja untuk Koperasi Gemilang. Koperasi yang beroperasi dalam Lapas Bontang, untuk melayani kebutuhan WBP di Lapas terbesar di Kaltim itu. Seperti kebutuhan panganan ringan, atau panganan apapun yang dinikmati mereka yang hidup diluar jeruji besi.

Diceritakan Umay, dirinya mendekam di Lapas Bontang, lantaran dirinya terendus aparat mengedarkan narkotika di Bontang. Kejadian nahas itu terjadi pada 2016 silam.

"Saya di sini (Lapas Bontang) karena kasus narkotika. Ingat betul, saya masuk tahun 2016 bulan 3 (Maret)," jujurnya.

Proses hukum berjalan, Umay terbukti bersalah. Ia divonis 9 tahun penjara. Saat itu ia merasa dunia serasa hancur berkeping-keping, dalam tempo begitu singkat. Terang saja, kebebasannya kini terenggut.

"Saya menyesal," aku Umay lirih.

Tiga tahun mendekam dalam blok tahanan, tentu membuat Umay frustrasi. Dalam blok sederhana itu, kegiatannya monoton, repetitif. Ia merasa jam di dinding seperti tak berdetak. Dirasanya waktu terlalu lama berlalu.

"Kebanyakan diam aja kalau di kamar. Tidak ada dikerja," ujarnya.

Awal tahun 2019, kesempatan bekerja di Koperasi Gemilang terbuka. Ia mencoba peruntungan. Dari banyak pelamar, ia diterima. Singkat cerita, ia dilatih melayani pelanggan dengan baik dan ramah. Penampilanya berubah. Ia dituntut rapi. Perlahan ia membenahi diri. Baik penampilan dan perilaku.

"Ya kayak karyawan toko itu gimana sih. Harus ramah pokoknya," bebernya sembari tersenyum.

Di koperasi itu, ia ditugasi sebagai kasir. Dalam sehari, Koperasi Gemilang meraup pendapatan minimal Rp 4-5 juta. "Pernah sampai Rp 10 juta (sehari)," bebernya.

Bekerja untuk koperasi, beragam keuntungan diperoleh. Beberapa WBP menerima gaji bulanan, lainnya menerima fasilitas. Tergantung kesepakatan dengan pengelolan koperasi. Umay memilih yang kedua.

"Fasilitas makan sama pakaian kita ditanggung semua," ungkapnya.

Hingga kini (Agustus 2019) Umay telah bekerja selama 6 bulan. Dia mengaku senang. Setidaknya kini dia punya rutinitas baru. Yang mana, itu menghasilkan sesuatu bagi dirinya. Kata Umay, bila ia mendapat remisi, boleh jadi masa tahanan ia jalani hanya 6 tahun. Untuk memperoleh itu, barang tentu ia mesti berperilaku baik. Tunjukkan bahwa ia pantas menerima remisi.

"Sebenarnya mau dapat remisi atau tidak nantinya. Saya terus memperbaiki diri. Disini (Di Lapas) saya banyak belajar," jujurnya.

Disinggung soal rencana masa depan saat dirinya keluar dari tahanan. Umay mengaku belum terlalu memikirkan. Namun tentu, ia miliki pengharapan, dan pengharapan, tentulah yang indah-indah. Tak muluk-muluk untuk saat ini. Ia hanya berharap, dapat memperoleh kerja saat bebas kelak. Menata kembali hidupnya yang sempat berantakan. Merajut kembali mimpi-mimpi yang sempat tercerai berai.

"Saya mau cari kerja (Kalau keluar). Jalani hidup lebih baik," harapnya.

Tapi ada satu kekhawatiran Umay. Sejatinya itu bukan kekhawatirannya seorang. Namun bagi hampir seluruh mantan narapidana. Apalagi kalau bukan persepsi publik. Ia takut tidak diterima, ia takut.

"Tapi saya yakin. Kalau memang berperilaku baik. Semoga saya bisa diterima kembali," pungkas Umay dengan penuh pengharapan.

Sementara itu, kepada KlikBontang, Kalapas Bontang, Heru Yuswanto menuturkan. Selain melalui Koperasi Gemilang, beragam program pemberdayaan WBP lainnya ditawarkan Lapas Bontang. Diantaranya membuat kerajinan untuk WBP perempuan, budidaya lele, budidaya buah naga, peternakan sapi, pembuatan aneka furniture, dan budidaya sayur mayur organik.

Semua ini, ujar Heru, dilakukan agar WBP dapat mengerjakan kegiatan positif selama masa tahanan. Selain itu ini juga sebagai bekal bagi WBP bilamana kelak mereka bebas. Sedang untuk kompensasi dari seluruh kegiatan. Ada bagi hasil yang sudah disepakati bersama. Antara WBP dan pengelola.

"Mereka (WBP) kerjannya happy. karena semua yang dikerjakan, mereka pula yang nikmati hasilnua," beber Heru. (*)

Reporter : Fitri W    Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0