19 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

AJI dan Google News Initiative Gelar Workshop Cara Deteksi dan Tangkal Hoax


AJI dan Google News Initiative Gelar Workshop Cara Deteksi dan Tangkal Hoax
Revolusi Riza Zulverdi, Sekjen AJI Jakarta, menjelaskan tentang penetrasi internet dan merebaknya hoax, Jumat (23/8/2019) di Hotel Radja Samarinda.

KLIKBONTANG -- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama Google News Initiative dan Internews menggelar Halfday Basics Worshop : Hoax Busting and Digital Hygiene, di Hotel Radja, Samarinda, Jumat (23/8/2019). Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar pelatihan cara mendeteksi dan menangkal hoaks atau berita bohong, sejak 23 hingga 25 Agustus 2019 di Samarinda. Puluhan jurnalis, mahasiswa, NGO, dan warga umum menjadi peserta.

 

Hadir sebagai pembicara pertama dan kedua adalah Revolusi Riza Zulverdi yang merupakan Sekjen AJI Jakarta dan Muhammad Iqbal adalah anggota AJI Palu. Workshop ini mengangkat tema Perang Melawan Dis-Misinformasi.

 

Revolusi memaparkan bahwa di tengah masifnya penggunaan internet di Indonesia, hoaxpun ikut marak merebak. Revo –sapaan karib Revolusi –  mengutip tingginya penetrasi internet di nusantara. Daerah Jawa menduduki posisi tertinggi yakni penetrasi sebesar 55 persen dan selebihnya di luar Jawa antara 5 – 10 persen. Di dunia, pengguna internet terbesar masih diduduki India, sementara Indonesia berada di posisi keempat. Semakin tinggi penetrasi internet, hoax pun menjelma primadona.

 

“Tiap hari kita mendapat banyak informasi hoax,” cetus Revo sembari bertanya kepada audiens adakah diantara mereka yang sudah mendapat hoax hari ini. Ia menambahkan, kecendrungan hoax booming karena adanya karakter manusia yang kepingin cepat dianggap yang pertama mendapat informasi. “Ada sindrom ingin dianggap yang pertama tahu sehingga merasa hebat karena pertama kali memposting atau menyebarkan,” ucapnya.

 

Revo yang bertugas sebagai jurnalis di CNN Indonesia ini memberikan contoh di India ada seorang warganya harus meregang nyawa akibat hoax. Iapun menambahkan contoh hoax di Indonesia yang ramai jadi wacana perbincangan di media massa adalah kasus Ratna Sarumpaet dimana dia menyatakan wajah lebamnya karena dirinya dianiaya, padahal merupakan hasil operasi plastik. “Hoax dalam KBBI adalah berita bohong,” tukas Revo.

 

Penyebab mudahnya masyarakat termakan hoax kata Revo seraya mengutip psikolog, adalah karena orang sudah memiliki opini tertentu. Ketika ada berita yang sesuai dengan opininya maka dia akan langsung percaya. Lain halnya ketika ada berita yang tak sesuai dengan opininya meskipun beritanya benar, maka dia akan bersikap ragu-ragu.

 

“Dalam konteks politik kita bisa lihat pertarungan wacana antara yang mendukung Jokowi dan mendukung Prabowo. Banyak pendukung mereka yang saling bertarung informasi. Begitupun dalam konteks agama. Juga mengalami hal yang sama. Menggunakan kata-kata berkaitan dengan agama kemudian meminta untuk disebarkan kalau tidak disebarkan akan mendapat apalah. Nah orang yang punya opini sama cenderung percaya,” tutur Revo.

 

Pada sesi kedua Muhammad Iqbal memberikan tips agar terhindar dari hoax. Tipsnya adalah harus mengecek kebenaran berita atau foto tersebut. Memastikan alamat situs yang digunakan pembuat berita yang diragukan melalui domainbigdata.com atau google image. “Cek alamat situsnya, kalau ragu-ragu lakukan riset. Ada juga yang gunakan situs abal-abal yang cuma beralamat blogspot,” terang Trainer Google News Initiative,  Muhammad Iqbal di, Kota Samarinda, Minggu, 25 Agustus 2019.

 

Lebih lanjut Iqbal memaparkan, “Hoaks dapat kita temukan sejak kita bangun. Saat bangun, apa yang pertama di buka? Handphone? Kita bisa menemukan banyak hoaks.”

 

Selain mudah ditemui, hoaks juga dapat menimbulkan keresahan dan kegaduhan. Untuk itu, peserta diharap mampu mendeteksi dan menangkal hoaks yang kerap beredar di media sosial, dan dapat memberikan dampak hingga di dunia nyata. Terutama para jurnalis, agar dapat menjadi garda terdepan memverifikasi hoaks.

 

"Semakin kuat verifikasi yang dilakukan jurnalis, semakin minim warga terpapar hoaks, Bahkan karya jurnalistik bisa meredam segala potensi buruk dari hoaks," ujar Sekertaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Revolusi Riza.

 

Revo dan Iqbal memulai pemaparan dari cara mengetahui akun palsu. Peserta diberikan contoh-contoh akun palsu yang nyaris serupa dengan akun asli. Kebanyakan akun palsu menggunakan nama-nama orang yang terkenal atau memiliki pengaruh terhadap publik.

 

Para trainer juga memaparkan tentang cara memverifikasi foto dan video. Agar tidak keliru ketika mencatat lokasi dan waktu peristiwa dari hasil tangkapan kamera yang beredar. Peserta juga diarjarkan cara memverifikasi website atau domain yang sekiranya dapat dipercaya.

 

Tak hanya teori, peserta juga langsung diberikan soal dari materi yang telah dipaparkan untuk menguji apakah bisa mendeteksi dan menangkal hoaks.

 

Materi lain yang tak kalah penting ialah tentang keamanan digital. Peserta dijelaskan agar akun media sosial dan data media sosial yang dimiliki aman dari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak diinginkan.

 

Di tahun ke dua ini, AJI, Google, dan Internews menargetkan 3000 jurnalis, mahasiswa dan kalangan umum dari puluhan kota di Indonesia mengikuti pelatihan ini. Di tahun sebelumnya, 3 ribu orang dari berbagai kalangan juga mengikuti pelatihan yang sama. Untuk kegiatan di Samarinda, pelaksana kegiatan ialah AJI Balikpapan Biro Samarinda.

 

 

 

Reporter :     Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0