19 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Penutupan Erau Pelas Benua Guntung 2019 Meriah


Penutupan Erau Pelas Benua Guntung 2019 Meriah
Erau Pelas Benua Guntung 2019 ditutup dengan prosesi belembur (Foto : Fanny/KLIKBONTANG)

KLIKBONTANG -- Erau Pelas Banua Guntung 2019 akhirnya resmi ditutup, Minggu (8/9/2019). Pesta adat khas Kutai yang dihelat sejak 3-8 September 2019 di Komplek Rumah Adat Guntung itu secara simbolis ditutup Wakil Wali Kota Bontang, Basri Rase.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Erau Pelas Benua Guntung 2019, Bambang Darmawi menghaturkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut mendukung pesta adat yang dihelat lima hari itu. Baik kepada masyarakat Bontang, khususnya Guntung; Pemkot Bontang; Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda); dan perusahaan.
Menurutnya, tanpa dukungan segenap elemen masyarakat, pesta adat yang dihelat sejak Selasa (3/9/2019) lalu itu tak akan berjalan lancar, dan meriah seperti saat ini.
"Saya atas nama seluruh panitia berterima kasih atas dukungan seluruh pihak," ujar Bambang Darmawi dari atas panggung adat.
Dia berharap, Erau Pelas Benua terus jadi agenda tahunan Kota Bontang. Selain Erau, warisan budaya kutai lain dapat dilestarikan. Yang mana, selain budaya tetap lestark, pun dapat dikembangkan untuk menghidupkan sektor, pariwisata di Kota Bontang.
Adapun rangkaian penutupan Erau Guntung dimulai tarian kreasi tari Jepen yang dibawakan demikian anggun oleh delapan penari perempuan perwakilan Kelurahan Lok Tuan.
Tidak berhenti disitu. Tarian lain kembali dibawakan. Kali ini oleh tujuh orang penari lelaki-perempuan, yang juga jawara ke dua kreasi tari Jepen dari Kelurahan Api-Api.
Lepas tari-tarian. Wakil Wali Kota Bontang, Basri Rase naik ke atas panggung kehormatan. Di kesempatan itu ia menyampaikan terima kasih dan selamat kepada Lembaga Adat Kutai Bontang yang berhasil menghelat Erau Guntung dengan apik dan meriah.
Ia sepakat bahwa warisan budaya harus dilestarikan. Karena agar budaya itu tak mati, pun dapat dimanfaatkan guna menggerakkan sendi-sendi ekonomi warga, dalam hal ini di sektor pariwisata.
Pria yang bergelar Tumenggung Mangkupraja ini menegaskan, Pemkot Bontang senantiasa mendukung upaya pelestarian budaya. Itu tidak saja berlaku bagi budaya kutai, pun budaya suku lain yang turut membentuk kehidupan di Bontang menjadi kota yang memiliki banyak wajah, multietnik, beragam.
"Pemkot Bontang sangat berkomitmen dalam melestarikan budaya," tegasnya.
Usai itu, rombongan Wakil Wali Kota Bontang diarahkan menuju rumah adat Bentong. Disana mereka melakukan prosesi merobohkan rondong ayu.
Selanjutnya, acara puncak yang dinantikan akhirnya tiba. Dua tangki air dari mobil pemadam kebakaran disiagakan. Para hadirin membungkus seluruh peralatan elektronik dengan plastik.
Satu, dua, tiga, air mengucur dari selang mobil pemadam. Jangkauan semburan air cukup jauh, dan debitnya cukup cepat. Seluruh hadirin seketika basah kuyup. Namun bukannya kesal, mereka justru hanyut dalam kegembiraan. Ini tepancar di wajah mereka yang tak kunjung berhenti tertawa dan tersenyum, sembari menari sembarang. Mengikuti alunan musik traidisional Kutai yang ceria.
Sementara, di antara ratusan orang yang tumpah di venue utama Erau Guntung. Ada empat orang cukup mencolok dari lainnya. Sebab mereka adalah turis asing yang ikut memeriahkan pesta adat kutai itu.
Diantaranya adalah Marco turis asal Italia. Dikatakan pria berusia 30 tahun itu, ini kali perdana dirinya mengikuti Erau, atau perayaan budaya khas Kutai. "This is first for me to see Erau, because this is first time for me coming to Kalimantan," ujarnya.
Dia datang ke Erau bersma tiga kawan lainnya; dua dari Italia, satu dari Spanyol. Dia mengaku cukup antusias dan penasaran dengan pesta adat ini. Kendati sudah beberapa kali keliling Indonesia, hal-hal soal budaya di Kalimantan memang cukup menarik minatnya.
"I'm very happy to be here, and i think its (Erau Guntung) amazing," pungkasnya.
Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0