19 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Demi Hidupi Anak-Anaknya, Sakiah Rela Bertaruh Nyawa


Demi Hidupi Anak-Anaknya, Sakiah Rela Bertaruh Nyawa
Rumah Sakiah, Korban terkaman buaya yang menghidupi anaknya dengan berjualan kangkung dan makan sehari-hari

KLIKBONTANG -- Bertaruh nyawa demi anak, itulah yang kerap dilakukan Sakiah (54). Kendati bahaya menghadang ketika mencari sesuap nasi, tak ia pedulikan asalkan anak-anaknya dapat tetap makan.

Tak pelak, perempuan paruh baya ini akhirnya harus menjadi korban serangan buaya, ketika akan memetik kangkung di kompleks perumahan karyawan PT Badak NGL dimana ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Saat itu, Minggu (8/92019) Sakiah yang libur kerja, pergi ke area lapangan golf PT Badak NGL untuk mencari kangkung yang biasa dia konsumsi  sehari-hari bersama kedua anaknya.
 
Meskipun sudah diperingatkan oleh petugas bahwa ada buaya di lokasi itu, Sakiah tetap tidak memperdulikan karena mengingat penghasilannya yang sedikit membuat dia harus mencari alternatif lain untuk menambah penghasilan.
 
Selain untuk kebutuhan lauk pauk kedua anaknya, kangkung liar yang biasa Sakiah petik di lokasi itu juga sering dijual untuk menambah biaya sekolah.
 
Anto, panggilan akrab anaknya masih di bangku kelas 2 SMP sedangkan Tuti anak bungsu Sakiah kelas  1 SMP.
 
Sejak ditinggal suami yang meninggal karena sakit delapan tahun yang lalu, Sakiah harus bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga. Penghasilannya sebagai asisten  rumah tangga jauh lebih rendah tiga kali lipat  dari standar hidup di Bontang.
 
"Bu Sakiah hanya dapat Rp 800 ribu perbulan sebagai ART, dia cari kangkung disana untuk menambah penghasilan," kata tetangga korban, Hasnia saat ditemui di Jalan Jamrud 8, kelurahan Berebas Tengah, Bontang Selatan  Minggu (9/9/2019) siang.
 
Hasnia menuturkan tetangganya itu dikenal sebagai pekerja keras, statusnya sebagai single parent menuntutnya harus bekerja tanpa kenal lelah demi menghidupi kedua anaknya.
 
Sakiah sebenarnya memiliki lima orang anak, empat perempuan dan satu laki-laki. Tiga anak perempuannya sudah menikah dan tinggal bersama suami.
 
"Anak perempuannya yang sudah menikah sering datang kerumahnya, cuma karena kondisi keluarga anaknya yang juga tidak berkecukupan membuat Sakiah sering menolak pemberian dari anaknya itu," ujar Hasnia.
 
Pantauan media ke rumah korban yang berada di Jalan Jamrud 8, RT 47 kelurahan Berebas Tengah, rumah berukuran 4x10 meter berwarna biru dan  bermodel rumah panggung itu  terlihat sangat memprihatikan. Dinding rumah dari seng, lantai yang terbuat dari kayu terlihat sudah lapuk dimakan usia.
 
Saat menaiki rumah Sakiah, lantai berderit karena beberapa papan pakunya terlepas. Selain itu,  bagian atap yang terbuat dari tripleks terlihat  bolong dan memungkinkan air hujan membasahi bagian dalam rumah.
 
Bagian dalam rumah pun jauh dari kesan mewah. Ruang tamu hanya diisi sofa yang lusuh, lemari yang catnya terkelupas serta 2 kamar yang dicat seadanya dan satu TV berukuran 14 inch yang menjadi hiburan satu-satunya keluarga kecil Sakiah.
 
Sakiah dikenal sebagai pekerja keras. Sebagai tulang punggung keluarga, dia tak pernah mengeluh demi menghidupi kedua anak yang masih tinggal seatap dengannya. Sakiah pun dikenal sebagai pribadi yang baik di lingkungannya dan jauh dari kabar miring.
 
"Bu Sakiah itu orangnya baik ramah ke sesama tetangga, kami tetangganya disini sangat prihatin atas musibah yang menimpanya". Kata Hasnia.
Reporter : Safril D    Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0