21 Oktober 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

TKW asal Ternate Meninggal di Malaysia, Jasadnya Penuh Jahitan


TKW asal Ternate Meninggal di Malaysia, Jasadnya Penuh Jahitan
Kedua anak dari Lily dan Mahrus. Mereka tampak memegang bingkai foto orang tuanya. Foto: Rizal Syam/cermat

KLIKBONTANG -- Lily Wahidin (28) diketahui meninggal di Malaysia. Di tubuhnya terdapat jahitan yang memanjang dari leher hingga organ vital. Suaminya, Mahrus Adam mendesak pihak kepolisian agar lekas melakukan autopsi.

Suara Mahrus Adam terhenti sejenak, kepalanya menunduk, lelaki paruh baya itu seperti menunggu waktu yang pas untuk bercerita tentang nasib istrinya, Lily Wahidin. Dari wajahnya tampak Mahrus menahan tangis. Kepergian Lily masih menjadi pukulan baginya.

Sabtu 13 Juli 2019 adalah kali terakhir Lily bertemu dengan keluarganya. Pada hari itu, dengan menumpangi maskapai Lion Air, Lily berangkat menuju Jakarta. Keberangkatannya ini bukan tanpa tujuan, melainkan untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia.

Kepada awak media, Mahrus berkisah di rumahnya, Senin (16/9). Suatu ketika Lily menyampaikan niatan hendak mengikuti tes pada sebuah perusahaan. Perusahaan yang dimaksud Lily adalah PT Maharani Tri Utama Mandiri, sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja yang berdomisili di Kelurahan Marikurubu, Ternate Tengah.

Niatan itu disetujui oleh Mahrus, dengan alasan karena istrinya mendesak. Mahrus mengakui, Lily memang sejak lama berkeinginan pergi ke luar negeri, sehingga lowongan kerja ini dianggap sebagai berkah.

Mendapati persetujuan dari sang suami, Lily lantas mendaftarkan dirinya ke PT Maharani Tri Utama Mandiri. Berbagai persyaratan ia sanggupi, mulai dari tes kesehatan, hingga kelengkapan administrasi.

“Waktu itu Tri Cahyo Edy Prasetyo (kepala cabang PT Maharani Tri Utama Mandiri) bilang kalau istri saya sehat,” kata Mahrus dengan nada yang kini terdengar geram.

Singkat cerita, Lily dinyatakan lolos tes dan akan diberangkatkan ke Malaysia. Namun sebelum itu, kata Mahrus, Lily diwajibkan mengikuti pelatihan selama 200 jam di Bekasi. Salah satu hal yang dipelajari dalam pelatihan ini adalah tentang bahasa. Ini penting agar nanti komunikasi pekerja dengan majikan tidak menjadi kendala.

Pada 22 Agustus, Lily dibawa dari Bekasi menuju ke Tangerang untuk persiapan lanjutan hingga 26 Agustus. Di sini, kata Mahrus, mulai ditemui kejanggalan. Surat kontrak yang semula dijanjikan bakal diteken ketika Lily sampai di rumah majikan, ternyata telah ditandatangani entah oleh siapa. Bahkan pada kolom yang seharusnya dibubuhi paraf calon majikan Lily juga telah terisi.

Lily mulai merasa ada yang tak beres. Ia kemudian memotret dokumen kontraknya dan kemudian dikirimkan kepada saudaranya.

“Ia suruh simpan (gambar berkas), katanya penting. Dia juga bilang nanti kalau sampai Malaysia berkas itu sudah tak akan dipegang olehnya,” kata Mahrus. Dan prediksi Lily benar, sesampainya di Malaysia, berkas-berkas tersebut tak diberikan kepadanya.

28 Agustus, Lily bersama dengan dua orang temannya yang merupakan calon TKW asal Ambon berangkat menuju Pulau Penang, sebuah wilayah di semenanjung barat Malaysia.

Ketika sampai di sana, Lily sempat berkomunikasi dengan suaminya lewat panggilan video. Hampir satu jam berkomunikasi, pihak agensi datang untuk menjemput Lily bersama dua temannya itu. Mahrus bilang, setelah istrinya keluar dari bandara menuju kantor agensi, saat itu, pihak keluarga sudah tak dapat lagi menghubungi Lily.

Namun besoknya, Lily masih sempat mengontak Mahrus dengan menggunakan nomor ponsel berkode Malaysia.

“Pak, saya sudah tiba di rumah majikan,” ucap Lily saat itu kepada Mahrus.

Besoknya lagi, atau pada 30 Agustus 2019, Mahrus kembali menerima panggilan telepon dari Malaysia. Kali ini bukan suara Lily yang ada di seberang, melainkan pihak agensi. Mereka menyampaikan kepada Mahrus bahwa Lily dalam keadaan sakit.

Mendengar hal itu, Mahrus meminta agar istrinya dipulangkan saja ke Indonesia. Namun pihak agensi malah mengatakan bahwa Lily hanya berpura-pura sakit. Pihak agensi yang dalam hal ini adalah PT Maharani Tri Utama Mandiri yang berada di Malaysia mengatakan jika ingin dipulangkan, Mahrus harus menyediakan uang sebesar Rp 30 juta sebagai ganti rugi. Mahrus menyanggupinya.

Khawatir atas keadaan istrinya, Mahrus meminta agar dapat berbicara dengan Lily. Ponsel pun diberikan kepada perempuan berusia 28 tahun itu. Saat itu, Lily mendesak ke sang suami agar ia segera dipulangkan. Ia sempat pingsan dan merasa lemas. Tak sempat berbicara lama, ponsel kembali diambil oleh pihak perusahaan.

Saat itu, Lily telah dibawa ke kantor PT Maharani Tri Utama Mandiri. Ini yang kemudian disesalkan Mahrus. Harusnya, kata dia, orang sakit dibawa ke Rumah Sakit bukan malah ke kantor agensi. Informasi tentang istrinya kembali macet.

Mahrus mulai gelisah, ia kemudian mengontak kantor pusat PT Maharani Tri Utama Mandiri yang berada di Jakarta guna menanyakan keadaan istrinya. Jawaban yang ia peroleh justru mengecewakan. Mereka justru tak mengetahui bahwa istrinya sedang sakit.

Sejak saat itu, kepanikan mulai melanda diri Mahrus. Ia terus berusaha menelepon Lily namun tak juga berhasil.

Tak kunjung mendapati kabar sang istri, pada Senin 2 September 2019, Mahrus mengajak orang tua Lily pergi ke kantor cabang PT Maharani Tri Utama Mandiri. Di sana mereka bertemu dengan Tri Cahyo Edy Prasetyo. Mahrus meminta Prasetyo segera mengontak bosnya di pusat.

Mahrus mengaku, saat itu memang Prasetyo sempat menelepon seseorang, namun ia tak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Dia (Prasetyo) cuma bilang hhmm… hhmm kepada orang di seberang telepon,” kata Mahrus.

Prasetyo lantas menyuruh keluarga Lily kembali ke rumah, nanti sore atau malam ia akan segera menginformasikan terkait keadaan Lily. Namun hari itu Prasetyo tak kunjung mengunjungi rumah Mahrus, kendati telah ditunggu.

Baru pada besok hari atau 3 September 2019, pria kelahiran Surabaya itu mengunjungi rumah orang tua Lily yang terletak di Kelurahan Jati, Ternate Selatan.

Saat itu, Prasetyo berkali-kali mengucapkan permohonan maaf. Mahrus dan orang tua Lily bingung. Hingga pada akhirnya Prasetyo menyampaikan kegetiran itu.

“Ibu Lily sudah tinggalkan kitorang (kita) semua,” ucap Prasetyo.

Masih diliputi keheranan, Mahrus lantas mengontak kantor pusat PT Maharani Tri Utama Mandiri. Ia mencari kejelasan. Jika memang benar istrinya telah tiada, setidaknya ia tahu kapan Lily meninggal dan sebabnya apa. Jawaban yang diterima Mahrus, istrinya sudah meninggal pada Senin 2 September 2019, atau hari yang sama saat Mahrus dan orang tua Lily pergi ke kantor cabang perusahaan.

Jasad Penuh Jahitan

Kematian Lily yang tiba-tiba itu menggemparkan sanak keluarganya. Terutama ibunda Lily, Sarah Asi. Air mata sudah tak terbendung lagi. Terlebih sang ibunda mengaku pada mulanya tak mengizinkan anak keduanya itu pergi ke Malaysia.

“Saya takut, karena sering lihat kasus TKI di televisi,” ucap Sarah. Sama seperti Mahrus, Sarah luluh ketika Lily ngotot pergi dan berjanji akan baik-baik saja. Ia bahkan menitipkan kedua anaknya kepada sang ibunda.

Kegetiran itu tambah menyayat tatkala jasad Lily tiba di Ternate pada 5 September 2019. Tubuh perempuan itu dipenuhi jahitan rapi. Yang paling panjang terdapat di sisi bagian depan; dari leher hingga organ vital. Jahitan juga terdapat di bagian pinggul dan wajah korban.

Pihak perusahaan mengatakan bahwa Lily meninggal karena jatuh dari ketinggian. Namun Mahrus meragukan hal itu. Pasalnya, tak masuk akal jatuh dari ketinggian dengan kondisi jasad yang seperti telah dibedah.

Alasan bahwa jasad Lily telah diautopsi kala masih berada di Malaysia juga dibantah Mahrus. Ia bilang, tindakan autopsi haruslah dilakukan setelah ada persetujuan dari pihak keluarga. Tapi selama ini ia tak merasa mengizinkan hal itu.

“Kalau orang jatuh, kok dibelah perutnya. Tangannya normal, kedua tungkai kakinya juga normal. Hanya salah satu paha yang tampak ada tanda luka. Jadi terus terang saja, dugaan kami ada penganiayaan. Dan ini sudah ditarget,” kata Mahrus.

Maka ia meminta kepada Polda Malut agar lakukan autopsi terhadap jasad istrinya. Pihak keluarga rela makam Lily kembali digali untuk kepentingan autopsi. Mahrus memang telah melaporkan kasus ini kepada pihak Polda Malut.

Kabid Humas Polda Malut, AKBP Hendri Badar, saat ditemui awak media di ruangannya, mengatakan kemarin tiga penyidik telah dikirim ke Jakarta untuk mengidentifikasi sekaligus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan kepolisian Malaysia.

Prasetyo Menghilang

Dalam surat keterangan domisili perusahaan yang terdaftar di Disnaker Kota Ternate, diketahui PT Maharani Tri Utama Mandiri beralamat di RT 11/RW 06, Kelurahan Marikurubu, Ternate Tengah. Di sana Kepala cabang perusahaan tersebut, Tri Cahyo Edy Prasetyo mengontrak sebuah rumah. Namun, hanya bagian depannya saja.

Saat kru cermat mengunjungi rumah tersebut pada Senin (16/9), tak ditemukan papan nama yang menunjukkan bahwa di situ terdapat sebuah kantor.

Menurut salah satu warga yang indekos di sisi belakang rumah itu, Prasetyo terakhir dilihat pada Senin 9 September 2019 atau seminggu lalu. Selama ini, kata warga lain, yakni Jein, ia tak melihat bahwa di sana ada aktivitas kantor. Saat terakhir bertemu, Prasetyo sempat mengatakan bahwa ia hendak ke Mapolda Malut.

Sementara itu, menurut Hendri Badar, pihaknya sampai saat ini belum memanggil yang bersangkutan, karena masih menunggu hasil penyidikan di Jakarta dan Malaysia.

PT Maharani Tri Utama Mandiri sendiri terdaftar dengan akta pendirian bernomor C-344.03.01-Th. 2002 dan terdaftar secara resmi di Disnaker Kota Ternate.

Sekretaris Dinas Ketenagakerjaan Kota Ternate, Lamadi Misila, menegaskan jika ditemukan kesalahan dari perusahaan tersebut maka pihaknya akan segera mencabut izin operasinya.

“Kalau memang dia bersalah kita akan langsung menyurat ke provinsi, bahwa dia tidak bisa lagi beroperasi di sini,” tukasnya.

Sumber : kumparan.com

Reporter :     Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0