20 November 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Keasrian Pulau Beras Basah yang Dikepung Beton Industri


Keasrian Pulau Beras Basah yang Dikepung Beton Industri
Wali Kota Neni dan Kepala DLH Bontang, Agus Amir ikut melepasliarkan tukik di Pulau Beras Basah

KLIKBONTANG.com -- Citra sebagai kota industri sudah terlalu lekat pada Bontang, Kalimantan Timur. Bagaimana tidak, dengan luas hanya 497,57 km2, sisi utara dan selatan kota ini "Dibenteng" deretan beton-beton besi. Alias korporasi raksasa. Dengan luas kota demikian mini, namun dengan aktivitas industri besar didalamnya, publik kerap sangsi dengan kualitas lingkungan hidup di Bontang. Kota industri namun selaras dengan lingkungan hidup yang berkelanjutan, mungkinkah?
 
Suatu hari, seorang pedagang asongan yang kebetulan bermalam di Pulau Beras Basah, yakni Herman, sontak dikagetkan dengan kehadiran ratusan penyu di pulau kebanggan warga Bontang itu.
 
Awalnya Herman tak tahu bila hewan yang menyeruak dari balik pasir putih itu adalah penyu sisik. Sebab fenomena langkah itu belum pernah ia saksikan sebelumnya, pun kejadiannya terjadi malam hari. Sementara cahaya dari balon lampu 7 watt yang dipasangnya di warung tak cukup untuk menerangi lebih jauh.
 
Dalam temaran, Herman saksikan ratusan penyu menetas. Tukik (bayi penyu) dengan tergontai namun pasti, menjauh dari bibir pantai. Melebur bersama lautan, menikmati kebebasannya.
 
Dalam kombinasi bingung dan kalut yang menyelimuti dirinya, Herman masih sempat berinisiatif segera mengamankan beberapa ekor tukik. Dia hendak menunjukkan itu kepada orang lain. Bahwasanya di pulau yang bersinggungan langsung dengan hamparan Selat Makassar itu, ternyata menjadi tempat bertelur Penyu. Itu sebuah pertanda bagus, pikirnya.
 
Selang sebulan usai peristiwa itu, tepatnya pada Juli 2019, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni bertandang ke Pulau Beras Basah. Untuk memastikan keberadaan penyu di pulau berpasir putih itu. Singkat kata, akhirnya Wali Kota Neni percaya. Usai menyaksikan langsung 4 ekor penyu yang berhasil diselamatkan Herman, berikut cerita awal penemuannya.
 
Diantara kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas pabrik. Ternyata penyu masih bisa hidup, dan bahkan memilih kota industri ini sebagai tempat untuk menitipkan telur-telur mereka. Di mana, telur itu lantas menetas, dan lahir menjadi tukik (bayi penyu). 
 
Ini mengindikasikan lingkungan Bontang --dalam hal ini kawasan pesisir-- masih cukup terawat. Terbukti, penyu merasa "aman" membenamkan telurnya di Beras Basah. Padahal pulau itu merupakan ikon wisata Bontang, yang barang tentu disambangi pelancong saban hari. Khususnya di hari libur.
 
Hewan sejenis penyu tentu tak ingin hidup di lautan kotor penuh limbah. Dengan "Dipilihnya" lautan Bontang sebagai lautan awan tukik menatap laut lepas, ini menunjukkan ekosistem laut Bontang masih cukup bersih. Kendati itu, kembali lagi, kota ini adalah kota industri. Ternyata, perkembangan industri tak serta merta membuat ekosistem laut rusak. Lautan masih bisa terjaga, asal seluruh elemen masyarakat berkomimen untuk itu. Pemkot Bontang, perusahaan dan seluruh warga kota amat paham soal itu.
 
Beras Basah yang Jauh Dari Lampu Sorot
 
Bila berbicara tentang Pulau Beras Basah, sebagian besar pelancong sepakat bila pulau ini indah. Pulau ini adalah berliannya Bontang, namun kurang mendapat lampu sorot. Alias kurang tenar ketimbang pulau destinasi wisata lain sekelasnya di Kaltim. Katakalah Pulau Derawan, Kabupaten Berau.
 
Kurang disorot, bukan berati kurang indah. Jangan salah, keindahan alam yang ditawakan pulau seluas 1,5 hektar ini tak kalah memukau.
 
Ketika menginjakkan kaki ke pulau kebanggan warga Bontang ini, pelancong akan disambut jembatan kayu ulin yang menjulang sekira 80 meter dari bibir pantai. Sementara di sisi kiri jembatan, terdapat landmark huruf-huruf besar bertuliskan "Selamat datang di Pulau Beras Basah." Yang dibungkus cat warna warni, seakan menyambut wisatawan penuh suka cita.
 
Tiba di pantai, wisatawan disambut hamparan pasir putih dengan kombinasi ranting-ranting kering bertebaran di beberapa bagian. Selain itu, deretan nyiur melambai di sepanjang bibir pantai seakan menggoda pelancong, meminta mereka masuk, menikmati panorama alam yang disuguhkan Beras Basah.
 
Tak banyak mampu pengunjung saksikan di luar pulau. Yang ada hanya hamparan laut lepas, dan puncak tabung kilang pencairan gas alam PT Badak LNG, yang nampak kecil di kejahuan. Sesekali juga terlihat perahu nelayan yang membelah lautan.
 
Salah satu momen untuk menikmati panorama alam terbaik Beras Basah ialah ketika senja.
 
Kilau emas cahayanya yang hendak pulang, begitu memukau mata siapapun yang menyaksikannya. Adapun lagi, suara debur-debur ombak yang menghantam bibir pantai, mampu mendamaikan suasana hati.
 
Akses menuju Beras Basah yang tidak sulit, serta waktu menempuhnya yang relatif singkat --lebih kurang hanya 35 menit-- membuat pulau ini cocok sebagai tempat untuk rehat atau berhenti sejenak, dari rutinitas harian yang berat dan melelahkan.
 
Saya lelah terus membayangkan saat-saat terbaik di pulau ini. Pulau ini dengan mudahnya mampu membangun suasana nan romantis, sungguh. Namun sialnya, suasana penuh romantisme itu saya nikamti dengan seorang yang disebut mantan. Sungguh, menyedihkan.
 
 
Reporter : Priya Sapto Riyadi    Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0