19 Januari 2020

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Perempuan Korban KDRT Enggan Melapor, Ini Penjelasan DPPKB Bontang


Perempuan Korban KDRT Enggan Melapor, Ini Penjelasan DPPKB Bontang
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. (Sumber: Republika).

KLIKBONTANG.com -- Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap menolak atau enggan melaporkan tindakan buruk yang dialaminya. Banyak alasan melatarbelakangi penolakan tersebut.

Namun paling sering ditemui sebab si korban beranggapan bila KDRT cukup dia yang menanggung pedihnya. Pun, KDRT tak perlu diekspos pada siapapun, cukup jadi rahasia internal (keluarga). Sebab itu (KDRT) merupakan aib.

Padahal, tindakan KDRT tidak boleh dibiarkan, dan ketika terjadi mesti segera dilaporkan. Pasalnya, selain melukai si korban, pun berpotensi memberi dampak negatif pada orang-orang sekitar, utamanya anak.

"Akibat KDRT bisa membuat si korban [istri] secara fisik dan mental sakit. Sementara orang terdekat, misalnya anak bisa meniru tindakan orang tuanya. Dia pikir begitulah cara menyelesaikan masalah. Padahal kan tidak," urai Kabid Perlindungan Perempuan (PA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bontang, Dedy Nugraha.

Dijelaskannya, tentu ada pemicu yang membuat KDRT itu terjadi. Sebabnya ketika kadung terjadi, korban (Sebagian besar perempuan) mesti segera melapor, jangan diam. Harus ada pemecahan masalah dari pemicu terjadinya itu. Dan DPPKB Bontang sangat siap bila perempuan korban KDRT membutuhkan bantuan atau pendampingan.

"Kami sangat terbuka, bahkan ada call center kami sediakan untuk menerima aduan," terang Dedy.

"Intinya jangan takut, atau khawatir mengadu. Kami bahkan mendorong agar KDRT segera dilaporkan," pungkasnya.

Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0