27 Maret 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Teater Suara SMAN 2 Bontang Lahir dari Sang Profesor Kata


Teater Suara SMAN 2 Bontang Lahir dari Sang Profesor Kata
Musafa (duduk) bersama siswi SMA Negeri 2 Bontang sekaligus anggota Teater Suara berfoto bersama. (KLIKBONTANG/FAJAR)

KLIKBONTANG- Tahun 3000 semua warga di Negara Kata-Kata, diwajibkan terus bicara bersama-sama agar tidak ada satu orangpun yang mendengar. Semua Harus berbicara meskipun pembicaraan sangat tidak penting dan sangat dilecehkan maknanya.

Jika ada orang yang tertangkap 'mendengarkan' pembicaran akan dikenai sanksi tembak 9 kali gendang telinganya. Karena kekhawatiran itu, orang-orang terus bicara bagai kumbang yang terus mendengung tanpa mempedulikan hasil bunyi yang keluar dari mulut-mulut mereka. Demikian yang terjadi di Negara Kata-Kata yang dikuasai orang-orang tak ber-akta.

Hingga suatu waktu sepasang suami istri (Kamso Atmojo dan Nyonya) mengalami trauma yang maha dahsyat dengan kondisi itu. Nyonya tidak mau melahirkan anak dengan alasan tidak mau menciptakan generasi yang sia-sia.

Di sisi lain, Kamso sangat menginginkan anak untuk menciptakan generasi baru yang bertujuan memperbaiki negeri. Karena perbedaan pandangan itu, mereka tersus bertengkar saling mengedepankan ego masing-masing. Sampai pada akhirnya, mereka lari tunggang langgang dan seketika berhenti bertengkar ketika tiba-tiba terdengar bunyi sirene yang meraung-raung memekakkan telinga.

Itulah sebait kisah Orde Mangab yang pernah menjadi pementasan Teater Suara yang ditulis Untung Erha yang syarat dengan muatan politik Pentas disutradarai Musafa' dan didukung para aktor/aktris dari siswa-siswi SMAN 2 Bontang. Pemanggungan Teater Suara yang  nakal, kritis namun jenaka ini akan membuat penonton terhibur.



Reporter : I Ketut Noer Fajar    Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0