12 Ekor Buaya Ditangkap Kurun Tiga Tahun

DPRD Bontang - Zaenul Fanani
28 November 2017
12 Ekor Buaya Ditangkap Kurun Tiga Tahun Rapat komisi gabungan membahas intensitas kemunculan buaya di Kota Bontang di Gedung DPRD Bontang, Selasa, 28 November 2017. (FOTO: FANNY/KLIKBONTANG)

KLIKBONTANG.COM- Fenomena kemunculan buaya di lima kelurahan se-Kota Bontang, Kalimantan Timur mendapat atensi serius dari anggota DPRD Bontang. Komisi I dan Komisi III DPRD menggelar rapat kerja dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) khusus membahas solusi kemunculan satwa buas ini di areal pemukiman warga. 

Rapat komisi gabungan ini dipimpin, Ketua Komisi III, Rustam HS didampingi anggota komisi yang mengurusi urusan lingkungan ini diantaranya, Suhut Harianto, dan Sulhan. Sedangkan Komisi I turut hadir, Sekretaris Komisi Yandri Dasa, Anggota komisi Bilher Hutahean, Kaharuddin Jafar

Anggota Komisi I, Setiyoko Waluyo mengatakan, warga di tiga RT, Kelurahan Lok Tuan, Kecamantan Bontang Utara mengeluhkan intensitas kemunculan buaya akhir-akhir ini cukup sering. 

“Saat reses saya terima laporan dari warga dari RT 14,17 dan 18 bahwa ada buaya berukuran cukup besar kerap muncul di kawasan pemukiman warga yang berada di atas laut ini,” kata Setyoko di hadapan forum yang dihadiri Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Perwakilan Camat Bontang Utara, Kelurahan Lok Tuan. 

Bahkan baru-baru ini, masyarakat setempat menangkap buaya berukuran 5 meter. Buaya tersebut ditangkap warga dengan menggunakan alat sederhana. Warga mengaku khawatir kemunculan buaya akan membahayakan keluarga mereka. 

Menurut Politisi partai amanat nasional (PAN) itu, rusaknya habitat buaya menjadi pemicu satwa ini keluar mencari makan di kawasan pemukiman. Dia mengaku, degradasi lingkungan, seperti rusaknya habitat mangrove, eksplorasi industri membuat stok makanan buaya menipis dan memaksa mereka keluar dari habitat alaminya. 

Suhut Harianto Anggota Komisi III menyarankan agar pemerintah memasang papan imbauan bahaya. Ini sebagai langkah awal, sembari mencari solusi terkait penyelesaian kasus ini. “Kalau plang itu bisa dilihat seluruh warga, kalau sosialisai ini nanti hanya bisa didatangi beberapa warga saja,”

Sementara itu, Kepala Bidang Konservasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pujo Kuncoro mengatkan fenomena kemunculan buaya pertama kali terjadi pada 2003 lalu. Namun, tahun ini merupakan kasus tertinggi kemunculan buaya di Bontang sejak pertama kali dilaporkan. 

Tercatat, pihaknya telah menangkap 12 ekor buaya sejak 2014 lalu. Buaya yang ditangkap kemudian diserahkan ke Balai Taman Nasional Kutai (TNK) untuk dilepasliarkan di habitanya. KLIK JUGA: DPRD Bakal Panggil Perusahaan Bahas Buaya

“Masyarakat diminta untuk tidak khawatir, namun harus waspada. Warga jangan membangun kandang unggas di bantaran sungai, maupun membuang sampah ke laut karena ini memicu hewan ini senang mencari makan di areal pemukiman,” pungkasnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR