Adu Racik Dua Jenius di Final Liga Champion

Editorial - Ikram al Qodrie
28 Mei 2019
Adu Racik Dua Jenius di Final Liga Champion

KLIKBONTANG.com - Publik bola dunia sedang bersiap menjadi saksi sejarah. Dua tim Britania Raya akan saling berebut tahta di kancah Eropa. Bagi Liverpool, ini adalah final kedua mereka secara beruntun. Pemilik lima gelar Liga Champion itu kembali mencuri perhatian sejak ditangani Juergen Klopp. Namun, kuda hitam Liga Champion musim ini adalah Totenham Hotspur. Tim utara London itu menyingkirkan lawan-lawan besar dalam perjalanan berat mereka ke puncak. 

Perjalanan berat The Lilywhites sudah dimulai sejak babak grup. Hugo Lloris dkk bergabung bersama tiga tim besar. Ada Barcelona, Inter Milan dan PSV Eindhohen. Hebatnya, tim berlogo ayam jago itu berhasil finish di peringkat dua, di bawah Barcelona. Mereka mengemas 8 poin hasil dua kali menang, dua seri dan dua kalah. 

Selanjutnya, di babak knock out, tim-tim yang dihadapi mereka adalah Borussia Dortmund, Manchester City dan terakhir Ajax Amsterdam. Tim terakhir yang mereka hadapi di babak semifinal adalah pembunuh raksasa. Ajax lolos ke semifinal setelah menumbangkan dua monster, Juventus dan Real Madrid. Kesimpulannya, ini adalah perjalanan terjauh Spurs sejak klub itu berdiri 1882 silam. 

Spurs memang berbeda sejak beberapa tahun terakhir. Di Liga Inggris, tim tersebut mengubah susunan big four. Mereka hampir selalu berada di zona Liga Champion. Kunci utama peningkatan perfoma mereka adalah Mauricio Pochettino. Pelatih berkebangsaan Argentina itu memoles Spurs dengan sepenuh hati. Dalam salah satu wawancara setelah timnya menembus partai final, Pochettino berkomentar bahwa dirinya akan menangis selama satu minggu bila timnya juara. 

“Ibu saya menjuluki saya, IIorona, yang artinya suka menangis. Saya menangis untuk semua hal. Musik, film atau hal lain. Kalau Totenham juara, saya tak tahu, mungkin saya akan menangis selama satu minggu,” katanya. 

Di Totenham, Pochettino memang sedang merajut jalan sebagai legenda. Sejak menandatangani kontrak 2014 lalu, pria kelahiran 1972 itu sudah menolak tawaran menggiurkan dari tim raksasa. Mulai dari Real Madrid hingga Manchester United. Ketika memulai perjalanan di dunia sepakbola, sejak masih menjadi pemain Neweld Old Boy’s, Pochettino menunjukkan bahwa dirinya tak mudah tergiur dengan godaan. 

“Saya tak akan menodai kesetiaan saya di sini (Totenham),” katanya. 

Ungkapan yang sama bisa disematkan ke Juergen Klopp. Pelatih berusia 51 tahun itu pernah menjadi batu sandungan paling besar bagi Bayern Muenchen. Ketika masih melatih Borusia Dortmund, Klopp menghentikan dominasi Muenchen di Bundesliga. Klopp membawa Dortmund menjadi Juara Bundesliga dua musim berturut-turut. Musim 2010-2011 dan 2011-2012. Tak bosan memberi kejutan, di musim berikutnya Klopp juga membawa Dortmund hingga ke puncak Liga Champion. Tahu siapa lawannya di final? Bayern Muenchen! 

Klopp bukan tipe pelatih yang mendapatkan kemudahan setelah lama menjadi asisten pelatih top. Karir kepelatihannya dimulai dari divisi 2 Liga Jerman, FSV Mainz O5. Tujuh tahun melatih, Klopp akhirnya membawa timnya ke Bundesliga. Satu musim di kancah tertinggi Liga Jerman, Mainz degradasi lagi di musim 2006-2007. Itu terjadi karena migrasi besar-besaran para penggawa utamanya. Ketika itu Klopp tetap bertahan dan berjanji akan membawa kembali klubnya naik kasta. Di akhir musim, Mainz gagal promosi dan Klopp mengundurkan diri. Pertengahan tahun 2008, Klopp berlabuh di Dortmund dan memulai karir gemilangnya. 

Ingat ketika Liverpool kalah dari Barcelona di leg 1 semifinal. Juergen Klopp menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih jempolan. Dia tak memberikan waktu bagi para penggawanya untuk kecewa. Komentar yang keluar dari mulutnya adalah pujian. Dia menganggap The Reds bermain dengan baik. Hanya, hasilnya yang mengecewakan. 

“Kami mengancam mereka dengan luar biasa. Tim menguasai bola dengan baik,” katanya. 

Untuk tim yang baru saja dilumat dengan skor 3-0, itu adalah komentar yang paling tenang. Dia menunjukkan bahwa masih ada harapan. Dia juga mengingatkan, Barcelona pernah tersingkir ketika telah memimpin dengan agregat 3 gol. 

Klopp adalah motivator yang jenius. Dia menyulap tim dengan pemain level menengah menjadi pasukan yang menakutkan. Di laga semifinal, Liverpool turun tanpa pemain lengkap. Tak ada Mo Salah dan Roberto Firmino di daftar line up. Padahal, keduanya adalah kartu truf rentetan kemenangan The Reds. Tetapi, Klopp adalah kartu joker bagi Liverpool. 

Kapten Liverpool Jordan Henderson menyebut, Klopp menjadi pembeda bagi mereka saat melawan Barcelona di leg kedua. Motivasinya di ruang ganti membuat para pemain tampil di atas 100 persen. Ketika semua tampil maksimal, tidak ada yang tidak mungkin di dalam lapangan. 

“Saya pikir pelatih bisa membuat pemain percaya apa yang dia katakan kepada kami,” katanya. 

Final Liga Champion 2019 ini adalah pertarungan dua pelatih dengan kemampuan di atas rata-rata. Keduanya menyulap deretan pemain dengan kemampuan menengah menjadi sebuah tim pembunuh. Ketika Barcelona hanya butuh Messi untuk mendapatkan kemenangan, maka Pochettino atau Klopp akan memoles para pemain dari bangku cadangan untuk menjadi pahlawan. (Ikram al Qodrie)

TINGGALKAN KOMENTAR