Andai Saya Walikota, Bukan Seragam, Tas dan Buku Program Unggulan

Editorial - Ichwal Setiawan
03 Mei 2017
Andai Saya Walikota, Bukan Seragam, Tas dan Buku Program Unggulan Ichwal Setiawan, Redaktur KlikBontang.com

ANDI berjalan gontai usai keluar dari ruang ujian di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Bontang. Ujung sepatunya masih mengkilat seusai mengikuti ujian 2 jam lamanya. Tangan kanannya sedikit kotor akibat coretan pensil, ujung telunjuknya tampak menghitam.

Andi salah satu siswa tingkat SMP di Bontang yang masih mengikuti ujian nasional manual atau paper based test. Sekolahnya belum memiliki unit komputer lengkap untuk mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Berbeda dengan 10 sekolah SMP di Bontang yang sudah mengikuti UNBK, kendati sedikit terkesan dipaksakan dengan  meminjam unit komputer jinjing ke orang tua murid.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang, Akhmad Soeharto mengaku bangga dengan peningkatan jumlah sekolah SMP yang mengikuti UNBK. Di tahun sebelumnya, jumlah SMP yang mengikuti UNBK hanya 6 sekolah, lalu meningkat 10 tahun ini.

Prestasi ini justru membuat pilu, pasalnya alokasi anggaran pendidikan di tiap daerah telah ditetapkan 20 persen dari porsi belanja daerah. Jika berkaca dari APBD 2016 lalu, sebesar Rp 1,3 Triliun artinya sekitar Rp 260 milliar, rupiah diploting untuk pendidikan di Bontang.

Nilai yang cukup besar untuk pendidikan, apabila dikonversikan untuk pengadaan laptop seharga Rp 5 juta per unit. Pemkot Bontang mampu membeli 52 ribu unit laptop, jumlah ini jauh lebih banyak dari total pelajar di Bontang. Jumlah pelajar dari tingkat dasar hingga menengah atas hanya 38  ribu lebih, masih ada selisih 14 ribu untuk dibagikan ke sejumlah tenaga pengajar di Bontang.

Berbicara teknologi, saya mengingat Kishore Mahbubani, peraih nobel Ekonomi asal Singapura. Di dalam bukunya Asia Hemisfer Baru Dunia mengulas detail pengaruh teknologi dalam peningkatan kesejahteraan negara maju. Di bukunya tersebut, ia mencontohkan pengaruh televisi berwarna di India periode 90-an, mampu meningkatkan jumlah perdagangan dalam negerinya (Gross Domestik Product).

Korelasi antara televisi dan peningaktan angka GDP sekilas membingungkan. Namun, Kishore menjelaskan alasannya, bahwa televisi menunjukan bagi warga India yang masih konservatif tentang gambaran kehidupan warga Amerika saat itu. Dimana tiap warganya, hidup dalam kemapanan secara ekonomi, tiap rumah memiliki halaman rumput luas, kawasan perumahan yang teratur.

Secara psikologis tayangan tersebut memacu  warga India untuk mendapatkan hal serupa. Tayangan televisi lebih menarik dibandingkan  telivisi hitam putih, ini membuat masyarakat lebih sering menonton tayangan inspiratif. Jumlah peningkatan ekonomi di India pun melejit, menyusul  penggunaan ponsel di anak benua tersebut. Warga di desa sudah bisa berkomunikasi dengan masyarakat kota, mereka pun lincah mengakses perkembangan pasar dengan ponsel mereka.  

Bahkan, India mengirimkan pelajarnya untuk belajar ke negara maju di Eropa, dan Amerika. Jumlahnya pun meningkat dari tahun ke tahun. Hasilnya kini, India menjadi salah satu negara maju demokratis di kawasan Asia Selatan dengan jumlah penduduk terbanyak.

Apa yang dilakukan India, memberi contoh kasus, bahwa peran teknologi dalam peningkatan sumber daya manusianya. Di Negara ini, pemerintah tak memberikan TAS, SERAGAM dan SEPATU sekolah untuk muridnya.

Program bantuan Tas, Seragam dan Sepatu paradoks dengan kondisi saat ini. Dana Rp 18 milliar dari APBD Bontang 2017digelontorkan untuk memuluskan program kampanye, sedangkan apabila dibelajakan untuk pengadaan laptop, sekitar 3400 unit bisa terbeli. Setidaknya sekolah dapat melaksanakan UNBK walaupun, unit harus digilir bergantian sesuai jadwal ujian di masing-masing tingkatan sekolah.

Idealnya, pemerintah saat ini harus menyadari program peningkatan SDM warganya bukan melalui bantuan praktis, seperti seragam, tas dan sepatu. Mungkin lebih bijak, ketika anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan komputer jinjing, Selain membantu pihak sekolah untuk mengikuti UNBK. Pengadaan laptop pun memberikan kemudahan pelajar untuk mengakses informasi yang jumlahnya miliaran dari dunia maya.

Pemerintah menggaungkan Smart City, pengadaan spot internet akan tersebar di beberapa titik di Bontang. Ironi rasanya,  ketika sumber titik hotspot banyak tersebar, namun para pelajar tak memiliki alat untuk mengakses internet.(*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR