5 Agustus, Gubernur Isran Diundang Bappenas Bahas Pemindahan Ibu Kota

Kaltim - Inara | berbagai sumber
02 Agustus 2019
5 Agustus, Gubernur Isran Diundang Bappenas Bahas Pemindahan Ibu Kota Presiden Jokowi (kedua kiri), didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kanan), dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung (ketiga kanan), mendengarkan penjelasan Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kanan) saat mengunjungi Bukit Soeharto, di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (7/5/2019). - Setkab/Anggun

KLIKBONTANG.com -- Pembahasan pemindahan ibu kota Indonesia ke Pulau Kalimantan semakin mengerucut. Presiden Joko Widodo, Agustus ini berjanji bakal mengumumkan Ibu Kota Baru di wilayah Pulau Kalimantan, sejauh ini ada 3 kandidat provinsi di Pulau Kalimantan. Tiga provinsi tersebut ialah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Terkait hal itu, rencananya Gubernur Kaltim Isran Noor mendapat undangan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas. Kabarnya, undangan tersebut memuat agenda pembahasan soal Ibu Kota Baru Republik Indonesia.

Di undangan ini, Gubernur Kaltim Isran Noor sebagai orang yang diundang, untuk melakukan presentasi mengenai pemindahan ibu kota Indonesia ke Pulau Kalimantan Timur. Tentu saja dalam hal ini Gubernur Kaltim Isran Noor sebagai tuan rumah dari Provinsi Kalimantan Timur.

Mengutip dari Antara, terungkap Gubernur Kaltim Isran Noor, menuturkan, dirinya akan mewakili Pemprov Kalimantan Timur untuk mempertunjukkan kesiapan Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Baru Republik Indonesia.

Kata Gubernur Kaltim Isran Noor, mendapat undangan 5 Agustus 2019. Diundang untuk menjelaskan soal kesiapan Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Baru. \"Di antaranya terkait kesiapan pemerintah dan masyarakatnya,\" ungkap Gubernur Kaltim Isran Noor pada Rabu (31/7/2019).

Selain itu, tambah Gubernur Isran Noor, pihaknya juga akan membeberkan mengenai kondisi lingkungan alam serta demografi dari Kalimantan Timur.

\"Kemudian terkait lingkungan dan terakhir terkait aspek keamanan dan ketertiban, sedangkan terkait hal yang teknis semua data sudah diserahkan ke Pemerintah Pusat,\" kata Gubernur Kaltim Isran Noor.

Tentu saja, rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan Timur, Gubernur Kaltim Isran Noor akan membeberkan fakta yang sesungguhnya, kondisi realitas di Kalimantan Timur.

Pastinya, tegas Gubernur Kaltim Isran Noor, tidak akan membandingkan Kalimantan Timur dengan Kalimantan yang lainnya. \"Karena ini untuk kepentingan yang lebih besar,\" tutur Gubernur Kaltim Isran Noor, yang merupakan mantan Bupati Kutai Timur.

Soal Ibu Kota Baru di Pulau Kalimantan sudah dinyatakan secara pasti oleh Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu bersama Bappenas RI. Tentu saja pemindahan ibu kota Indonesia ke Pulau Kalimantan pun disambut baik dari kalangan ekonomi seperti Sibarani Sofian, Founder Urban+

Mengutip dari Tribunnews.com, Sibarani Sofian, sejauh ini Pulau Kalimantan dikenal punya khas istimewa, alam rayanya yang asri dan hijau menjadi eksotis tersendiri yang tentu saja ini bisa menjadi modal bagi dunia pariwisata saat nanti Ibu Kota Baru di Pulau Kalimantan tertata secara bagus.

Dia pun berharap banyak, pembangunan Ibu Kota Baru RI di Pulau Kalimantan tetap harus mengindahkan estetika dan ramah terhadap lingkungan alam, tetap menjaga ekosistem asli khas Kalimantan. \"Terdorong sendiri pariwisata akan ikut maju, bisa menarik para investor untuk berinvestasi bidang properti maupun hotel nantinya,\" ujarnya pada Rabu (31/7/2019).

Soal ketersediaan modal membangun Ibu Kota Baru RI di Pulau Kalimantan tentu saja kata dia perlu dana yang sangat besar. Angka Rp 400 triliun pun dianggap kurang untuk bangun Ibu Kota Baru di Kalimantan. “Untuk wilayah 400.000 kilometer persegi dan 2.000 hektare kawasan inti, itu kecil,” tuturnya.

Secara hitung-hitungan, tegas dia, uang Rp 400 triliun dianggap belum mencakup semua, hanya baru sekitar di kawasan inti saja yang informasinya berkisar 2 ribu hektare. Karena itu perlu ada tambahan dari pihak lainnya, seperti di antaranya kalangan swasta.

“Lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) serta melibatkan swasta yang memiliki pengalaman,” tutur Sibarani.

Mengambil pelajaran dari Brasil, saat itu pembiayaan bangun Ibu Kota Baru hanya mengandalkan dari pemerintah semata. Sementara kalangan investor swasta ditiadakan. Sebaliknya, yang terjadi bagi Brasil jadi petaka nestapa, pemerintahnya pun memiliki utang yang bertumpuk-tumpuk.

Semestinya bisa berkaca pada Korea Selatan dalam membuat Sejong City, sukses menjadikan Ibu Kota Baru. Di dalam kawasan Sejong City ini ada campur tangan dari pihak swasta, maka tidak heran kini pun ada berbagai tempat komersial, perkantoran dan pusat residensial.

Perencanaan kota di Sejong City, Korea Selatan, sangat matang, membuat hal ini pun tempatnya menjadi hidup. “Sejong City itu seperti plug and play karena perencanaan matang,” tuturnya.

Di tempat terpisah, kepercayaan diri Kalimantan Timur jadi Ibu Kota Baru tentu saja ada alasan mendasar, bukan aspirasi yang sebatas tanpa faktor pendukung.

Keberadaan Kalimantan Timur jadi Ibu Kota Baru tentu saja melihat dalam kaca mata kemampuan bukan karena kenginan yang sebatas omong kosong. Sebab Kalimantan Timur itu secara nyata, ada daya dukung yang maksimal jadi Ibu Kota Baru.

Hal ini diungkapkan oleh Aji Sofyan Effendi, ahli ekonomi Kalimantan Timur dari Universitas Mulawarman Samarinda, yang belum lama ini pernah bersua dengan Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko dan Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Pertemuan Aji Sofyan Effendi bersama Staf Kepresidenan dan Pimpinan Bappenas tersebut membahas soal pemindahan ibu kota Indonesia yang wacananya akan ke Kalimantan Timur.

Saat dalam pembahasan, dari Bappenas sendiri menyatakan, Kalimantan Timur memang ideal jadi lokasi Ibu Kota Baru Indonesia. Dibandingkan dengan Kalimantan Tengah, jelas Kalimantan Timur lebih pas jadi tempat Ibu Kota Baru.

Secara infrastruktur Kalimantan Timur, di antaranya, ada pelabuhan laut yang memadai dan besar, termasuk ada bandara internasional di Kota Balikpapan. Kemudian ada lajur jalan tol Balikpapan Samarinda dan daya dukung kegiatan ekonomi pun sudah mulai lebih bagus.

“Sempat terungkap dari pusat, yang memberi penilaian kepada Kalimantan Timur, jika Kalimantan Timur itu punya sisi lebih ketimbang Kalimantan Tengah,” ungkap Aji Sofyan Effendi. ***

TINGGALKAN KOMENTAR