5 Hari Tersesat di Belantara Kalimantan, Pria Ini Selamat dari Hutan Usai Didatangi Sosok Misterius

Mozaik -
14 Februari 2020
5 Hari Tersesat di Belantara Kalimantan, Pria Ini Selamat dari Hutan Usai Didatangi Sosok Misterius 5 Hari Tersesat di Belantara Kalimantan, Pria Ini Selamat dari Hutan Usai Didatangi Sosok Misterius

KLIKBONTANG.com -- Setelah memasang pancingan, saya makan.

Setelah makan, saya coba mendatangi Su Bedil, namun tidak ada lagi,” kata Deki mengawali kisahnya.

Lelah mencari rekannya namun tak membuahkan hasil, Deki lantas mengemaskan perlengkapan pancing dan kembali mencari rekannya.

Deki kemudian pulang ke tempat semula, namun tidak bertemu Su Bedil.

Dalam kebingungan, Deki menemukan pokok pohon dengan tanda berpahat.

Hanya saja, tanda pahat menunjuk ke berbagai arah sehingga membuatnya kian bingung.

Deki pun memilih berenang di Sungai berharap menemukan jembatan.

Jembatan yang diharap tak ketemu, Deki justru menemukan pondok tak berpenghuni.

Ia melanjutkan berenang hingga sekitar 500 meter, namun tidak menemukan jembatan.

Hari menjelang malam, Deki tak putus asa dan tidak mengenal lelah mencari rekannya.

Meski sudah memberi tanda perjalanan, namun ia tak menemukannya lagi.

\"Selama berenang saya memakai sepatu bot, belum lagi pakai celana jeans.

Berenang sekitar 500 meter dan sudah tidak mampu lagi, akhirnya saya naik ke daratan.

Pergilah saya ke tepi pasir, menunggu dan semalaman tidak bisa tidur nyenyak,\" kata Deki.

Kamis (05/02/2020), Deki kembali berjalan menyusuri pinggir Sungai.

Ia terus berjalan dan menemukan tumpukan papan di pinggir Sungai tersebut.

Deki sempat berencana tidur di situ, berharap pemilik papan datang.

Namun, ia mengurungkan niatnya dan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan kecil.

\"Hari kedua Kamis, berjalan lagi dan menemui tumpukan papan, rencananya mau tidur di situ, tapi masih pagi.

Maksud saya kapan orang mau mengangkutnya soalnya di tepi Sungai.

Dalam hati mau ditunggu, tiba-tiba kaki ingin melangkah mengikuti jalan tempat orang mendorong kayu, jadi diikutin dari Sungai saya masuk ke hutan,” kata Deki.

Dalam perjalanan, Deki melihat dua orang pemancing mengenakan baju hitam dan bertopi.

Anehnya saat dipanggil, orang tersebut tidak merespons.

Dari sinilah mulai terjadi hal-hal mistis.

Deki bermaksud minta tolong kepada dua orang yang ditemuinya di hutan tersebut.

Hingga memohon-mohon bisa ditunjukkan jalan pulang.

Namun kedua orang tersebut malah berlalu.

\"Sekitar jam 3 sore ketemu dua orang mancing, saya bicara tapi mereka tidak membalas.

Malah jalan terus, saya dekati, tapi makin jauh, laki-laki, sampai saya memohon carikan jalan keluar.

Kalau kalian tidak mau mengantar tidak masalah, yang penting tunjukkan jalan keluar, namun keduanya jalan terus, jadi saya tinggalkan saja,\" kisah Deki.

Ia melanjutkan perjalanan dan menemukan orang lain yang sedang mencari burung.

Anehnya, orang yang dipanggilnya sempat merespon mendekati Deki, namun semakin mendekat, malah menghilang.

\"Berjalan lagi saya, bertemu orang menjerat burung sekitar pukul 4 sore, minta tolong lagi.

Saya minta tolong, kemudian dia mendekat, namun saat mendekat kok tidak ada orangnya,\" ujarnya.

\"Setelah itu bertemu semacam bukit atau gunung dan naiklah saya ke situ, saya melihat banyak pohon yang sudah ditebang.

Saya kira sudah jalan besar, saya pantau di atas apakah jalan besar, ternyata bukan,” katanya.

Lantas saat malam hari tiba, ia kemudian bermalam lagi di dalam hutan dengan menjadikan lokasi bekas penebangan pohon untuk menginap.

Namun lagi-lagi antara sadar dan tidak ia mengaku didatangi sosok gadis kecil yang memberikannya penawaran untuk menandatangani sebuah kontrak.

Tidak jelas kontrak tentang apa, namun si gadis kecil mengatakan jika ia bersedia menandatanganinya maka ia akan mendapatkan kemudahan pulang.

\"Bermalam lagi di hutan, ada tempat orang menebang kayu beberapa pohon sehingga tempatnya agak terang, tidurlah di situ.

Didatangi perempuan kecil, rambutnya panjang.

Bang mau tidak tanda tangan kontrak, kontrak apa?

Pokoknya kalau abang mau tanda tangan, abang mau keluar mudah, memangnya sudah dekat jalan besar kah ini, pokoknya kalau abang tanda tangan, abang mudah mau keluar,\" kenang Deki menjelaskan sosok yang mendatanginya.

Tak serta merta mengiyakan tawaran si gadis kecil tersebut, Deki lantas meminta untuk ditunjukkan jalan keluar dulu dan membawa naskah kontrak ke rumahnya untuk disepakati bersama istrinya.

Namun si gadis kecil menyerah dan kemudian sang ibu yang mendatanginya dan menawarkan hal serupa.

Namun apa yang dialaminya tersebut saat didatangi sosok anak kecil dan sang ibu ternyata hanyalah di bawah alam sadar.

Deki lantas terbangun dari tidurnya dan saat itu, memasuki, Jumat (7/2/2020).

Ia merasakan tempat ia berada serasa bukan di hutan melainkan di perkampungan lantaran bunyi aktivitas warga kampung seperti biasa.

Seperti suara warga menoreh getah, senda gurau anak kecil, hingga aktifitas berburu warga.

Padahal ia menyadari saat itu tengah berada di hutan belantara.

Ia kemudian berteriak lagi meminta pertolongan namun tak ada satu pun orang yang menanggapinya.

Tak putus asa, ia pun melanjutkan perjalanannya untuk mencari jalan keluar dari hutan.

\"Pagi hari sekitar jam 5.30, bunyi suara anak kecil seperti di kampung padahal di hutan, rasanya ada orang pergi noreh getah, anak kecil bermain dan orang pergi berburu.

Saya berteriak tapi tidak ada yang mendekat, hingga habis suara tidak ada yang mendatangi.

Matahari terbit, saya berjalan lagi,\" katanya.

Ia kemudian meneruskan perjalanannya mencari celah hutan untuk jalan pulang.

Deki kembali ke tepi Sungai dan menelusuri mengikuti alur Sungai.

\"Melalui jalan itu, kukira sudah mau sampai ke jalan besar, namun tiba-tiba sampai ke Sungai lagi, hari ke-3.

Saya menelusuri Sungai lagi sampai hari ke-4,\" ujarnya.

Ia pun menghabiskan malam di tepi Sungai.

Namun di tengah menelusuri air Sungai, ia mendengar suara mesin penebang pohon.

Deki lantas mencari sumber suara meski harus mengalahkan rasa takut menerobos derasnya arus Sungai.

Hingga kemudian pukul 5 sore, ia terus mendatangi bunyi suara tersebut.

Namun lantaran masih terasa jauh, ia pun lelah.

Ia kemudian mendengar suara orang naik motor, sehingga ia beranggapan sudah mendekati jalan besar.

Namun karena lelah, ia terlelap sore itu.

Sempat terbangun, Deki kembali mencari sumber suara pekerja menebang pohon dengan suara mensin penebang kayu.

Namun karena sudah larut malam, ia tak mendengar suara itu lagi.

Untuk ke empat kalinya, Deki menghabiskan malam menakutkan di tengah hutan belantara.

Saat tiba dekat lokasi penebangan pohon, ia berkali-kali memanggil orang-orang yang sedang bekerja menebang pohon namun tidak dihiraukan.

Hingga ia harus menggerakkan pohon sambil berteriak kembali meminta pertolongan sehingga baru dihiraukan.

Meski dengan cemas, orang-orang yang bekerja menebang pohon kemudian menanyainya.

Ia lantas mengatakan jati dirinya hingga menyebut bahwa dia adalah orang yang sudah tersesat 5 hari di hutan.

Seolah sudah mengetahui kabar berita kehilangan pria ini, para pekerja ini lantas menyambut Deki dengan sambutan yang sangat baik.

“Pas tiba disitu, sampai puluhan kali saya memanggilnya namun tidak dihiraukan, hingga menggoyangkakan kayu, pak pak saya memanggilnya baru dilihatnya dengan cemas.

Kemudian ku bilang aku orang yang hilang 5 hari tersesat, kamu kah orangnya katanya, sini makab dulu, minum dulu,\" kenangnya.

\"Diberinya makan pun saya tidak makan, karena saking senangnya dengan orang, sehingga dibawanya ke pondoknya, rupanya dipondoknya ada kawannya berdua,\" ujarnya.

Padahal sejak tersesat di dalam hutan, Deki masih belum pernah makan.

Mengingat segala perbekalan yang dibawanya saat ingin memancing sudah ditinggalkannya dan ada pula yang hilang entah kemana.

Ternyata lagi, saat Deki tiba di pondok para pekerja ini, para anggota Tim SAR menurut para pekerja ini baru saja lewat mencari Deki.

Deki tak berhenti menangis senang saat bisa menemui kembali orang yang akan menolongnya pulang setelah nyaris sepekan tersesat di hutan tanpa makan.

Bahkan dengan kedinginan karena mengarungi Sungai untuk menemukan jalan pulang.

“Rupanya Tim SAR baru saja lewat setengah jam lalu, selisih.

Alhamdulillah, kalau mengangis setiap malam di hutan,”ujarnya.

Ia kemudian ditawari para pekerja ini apakah diantarkan pulang atau akan menunggu kembali Tim SAR.

Ia lantas memilih langsung diantarkan saja oleh para pekerja penebang kayu ini kerumahnya.

Keluarga dan masyarakat pun tak henti-hentinya mengucap syukur atas kepulangan Deki yang memang sudah dicari-cari keberadaannya oleh warga setempat. (*)

 

Sumber : tribunnews.com

TINGGALKAN KOMENTAR