Awan Pun Berpihak kepada Para Pemberi Sedekah

Mozaik - Republika
16 November 2018
Awan Pun Berpihak kepada Para Pemberi Sedekah Ilustrasi.

KLIKBONTANG.com -- Ada banyak kisah tentang keutamaan bersedekah. Dalam beragam cerita itu, Allah SWT memberikan ganjaran melimpah bagi siapa pun pemberi sedekah selama disertai keihlasan, tanpa mengungkit dan menggunjing, serta tak diikuti perbuatan riya dan atau syirik.

Kisah berikut ini mengajarkan kita pentingnya mengeluarkan sebagian harta dari pendapatan yang kita peroleh. Baik sebagai seorang petani, pengusaha, maupun seorang profesional yang memiliki penghasilan lebih dari cukup. Dengan bersedekah, Allah akan menjaga dan memberikan keberkahan harta yang dimilikinya.

Seperti dikisahkan dalam buku Kisah-Kisah yang Menunjukkan Keutamaan Amal karangan Dr Umar Sulaiman al-Asqor, cendekiawan Muslim asal Yordania. Ia mengisahkan, ada seorang petani yang kebunnya telah dijaga oleh Allah SWT dari kekeringan hanya karena dia ikhlas dan istiqamah mengeluarkan hasil taninya sesuai yang diperintahkan-Nya.

Kisah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam bab Zuhd wa ar-Raqaq, pasal sedekah ini, membeberkan suatu ketika ada seorang petani yang sedang berteduh di sebuah pohon untuk menghindari sengatan matahari. Ini ia lakukan setelah menggarap lahannya yang sudah lama tidak dialiri air.

Tanah-tanah di wilayah itu terbengkalai karena kekeringan. Sudah hampir satu setengah tahun tidak turun hujan. Dalam keadaan lelah dan penuh harap, setelah menggarap lahannya, hujan turun. Dalam istirahatnya itu, kedua matanya pun terpejam, ia tertidur. Belum lama ia memejamkan mata, tiba-tiba ada suara, Siramilah kebun si fulan. Ia terperanjat dan berpikir terhadap seruan, Siramilah kebun si fulan.

Nama si fulan memang asing di telinganya, tapi merupakan satu profesinya sebagai seorang petani yang setiap hari sama-sama berangkat pada pagi hari menggarap lahan yang masing-masing dimilikinya.

Di tengah harapannya akan turun hujan, ia bertanya-tanya mengapa mesti kebun si fulan yang mesti disirami dan bukan kebunnya seperti kondisi sekarang ini. Tentunya semua petani di sini membutuhkan siraman air, katanya menggerutu dalam hatinya.

Tanpa banyak kata, ia mencari sumber suara dengan nada seruan itu. Hingga akhirnya ia menemukan suara dari gumpalan awan hitam menuju suatu daerah yang tidak jauh dari tempatnya beristirahat tadi.

Atas izin Allah, awan itu menumpahkan air dengan bebatuan hitam. Batu-batu hitam itu seketika membentuk saluran air. Petani itu terus menelusuri jalan air itu dan ternyata ada seorang laki-laki, sama-sama petani, sedang mengurai-urai tanah yang teraliri air dengan cangkulnya.

 Petani yang mengikuti awan tadi itu langsung bertanya kepada petani yang sedang mengaliri air dengan cangkulnya. \"Wahai hamba Allah, siapa namamu?\" tanyanya.

Petani yang sedang mengaliri itu menjawab, Saya fulan bin fulan. Wahai hamba Allah, mengapa kamu bertanya tentang namaku, katanya balik bertanya sambil menghentikan sesaat kegiatan mencangkulnya.

\"Sungguh aku mendengar suara di awan di mana airnya adalah yang mengalir ke lahanmu dan sebelumnya awan itu berkata, Siramilah kebun fulan, yaitu namamu, katanya. O, seperti itu yang kamu dengar. Apakah Anda wahai hamba Allah tidak salah mendengar? katanya.

\"Demi Allah, saya tidak salah mendengar. Untuk itu, saya sampai ke lahan milikimu ini,\" katanya.

Jika demikian, mungkin itu kebetulan, kata si fulan itu. Si petani yang mengikuti awan itu bertanya lagi. Memang apa yang kamu lakukan padanya? katanya.

Lalu si fulan itu spontan menjawab, Karena kamu mengatakan itu, aku melihat hasil kebunku yang cukup baik. Sepertiganya aku sedekahkan, sepertiganya aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga sisanya aku kembalikan kepadanya (ditanam), katanya.

Kita sebagai umat Muslim mengetahui bahwa sedekah menjaga harta, menumbuhkannya, dan memberkahinya. Si fulan ini telah memberikan nafkah kepada keluarganya yang telah menjadi kewajiban di samping telah memelihara kebun dengan pengolahan yang baik.

Setelah membagi hasil taninya untuk keluarga, sedekah, dan ditanam kembali pemilik kebun yang namanya disebut awan ini adalah petani Muslim yang telah mengetahui hak Tuhan atasnya. Sehingga, Allah meridhainya sebagai petani yang tidak pandai mengolah lahan, tapi juga pandai membagi harta untuk diberikan kepada keluarga dan disedekahkan. 

Allah SWT menyebut sedekah sebagai pinjaman yang baik (qardh al- hasan). Orang bersedekah hakikatnya meminjamkan harta kepada Allah dan Dia pasti akan mengembalikan pinjaman dengan pengembalian yang berlipat ganda.

Para mufasir menerjemahkan pinjaman yang baik itu dengan makna menafkahkan harta di jalan Allah, yakni menyumbangkan harta meringankan beban orang lain, seperti kaum dhuafa, mendanai syiar dakwah, dan jihad di jalan Allah.

Dalam surah al-Baqarah, Allah telah memberikan petunjuk serta penjelasan tentang keutamaan sedekah, mulai bertambahnya harta kekayaan hingga keajaiban sedekah yang mampu menyembuhkan penyakit atas izin Allah.

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS al-Baqarah [2]: 245)

Allah juga akan membebaskan seorang hamba dari kerugian dalam menjalankan usahanya seperti telah Allah janjikan dalam surah an-Nisaa\' 39. Dan apakah (kerugian) yang akan menimpa mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mereka mendermakan (sedekah) sebagian harta yang telah dikurniakan Allah kepada mereka?

Pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari kisah ini, pertama, Allah pasti menjaga dan memelihara hamba-hamba-Nya yang saleh dan berjalan di atas perintah-Nya. Seperti yang telah Allah lakukan dengan memerintahkan awan itu agar memberi air kepada kebun laki-laki saleh yang telah menyedekahkan sepertiga hasil kebunnya.

Pelajaran dan hikmah kedua adalah Allah menyukai seorang hamba yang berimbang dalam segala urusan dan tindakannya, yang memberikan hak kepada yang berhak. Pada kisah di atas bahwa petani tadi telah membagi haknya dengan adil tanpa mengabaikan hak yang lain. Jika Allah meridhai seorang hamba-Nya, niscaya Allah menunjukkan langit dan bumi untuk orang yang diridhainya. Seperti, salah satunya Allah telah memerintahkan awan agar menyiram kebun laki-laki saleh itu.

Dalam hal ini betapa mahalnya harga amal saleh sehingga Allah telah mengekalkan seorang hamba-Nya, dalam hal ini petani, seperti yang dikisahkan di atas, berkat amal dan sedekahnya yang ikhlas dan istiqamah.

Orang saleh bukanlah orang yang hanya sibuk beribadah meninggalkan pekerjaannya, yang alergi menikah atau menelantarkan keluarga, sebagaimana anggapan sebagian orang. Tetapi, kesalehan adalah bagaimana kita juga mampu berbagi kenikmatan dan rezeki serta kebahagiaan kepada sesama. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR