Menolak Pasrah, Kisah Gadis Tuli Berkarya dengan Desain Gambar

Mozaik - Redaksi
23 November 2020
Menolak Pasrah, Kisah Gadis Tuli Berkarya dengan Desain Gambar Sasmitha Winda Yanti salah satu binaan inkubator bisnis Permata Bunda, di Kampung Aren, Bontang Utara

KLIKBONTANG.com -- Namanya Sasmitha Winda Yanti atau yang biasa disapa Mitha, gadis manis yang memiliki kekurangan sejak  lahir, pendengaranya tak normal alias tuli.

Ia memilih dipanggil tuli ketimbang tuna rungu. Pemilihan diksi itu dinilai lebih sopan ketimbang tuna rungu. Kendati demikian, dia tetap  syukuri karena telinga sebelah kiri masih bisa mendengar walau samar-samar.

"Telinga sebelah kanan tidak bisa mendengar, kalau sebelah kiri bisa mendengar sedikit," ujar Nurul, selaku pendamping Mitha.

Kekurangan Mitha dialami sejak lahir. Walau ia memiliki kekurangan, namun tidak membuat dirinya minder dan tetap berkreasi di tengah keterbatasanya.

Mitha tetap berkarya dengan bekerja sebagai disainer sablon di Inkubator Bisnis (Inbis) Permata Bunda, yang letaknya di daerah Kampung Aren Bontang Utara.

Ia mulai bekerja di Inbis sejak tahun 2017, setelah lulus Sekolah Menengah Akhir. Di tengah keterbatasannya, ia membuat disainer dari berbagai jenis sablon seperti desain mug gelas, baju, topi dan lainnya.

Untuk jenis desain sendiri tergantung kemauan konsumen. Dan ada beberapa desain dari ide Mitha sendiri. "Untuk desain tergantung konsumen, seperti warna yang diinginkan konsumen akan disesuaikan," ujarnya.

Walau Mitha hanya belajar desain dari temannya, dan beberapa model desain lainnya dari internet. Ia mampu menghasilkan kreativitas desain yang terbilang sangat banyak.

Dari hasil kreativitasnya Mitha sebagai disainer, sudah berbagai jenis yang ia desainkan, misal baju. Ia pun sudah langganan di perusahan-perusahaan besar, serta Pemerintah Kota Bontang.

"Banyak, biasa kami langganan PKT dan dari Dinas mesannya di sini (Inbis),"jelasnya.

Awal Mula Anak Difabel Diterima di Kampung Aren

Inkubator Bisnis Permata Bunda, dibangun terkhusus untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Namun keberadaan anak difabel di kampung aren masih terabaikan oleh masyarakat sekitar. Bahkan beberapa anak-anak lainnya sering membuli anak difabel.

Anak difabel perlahan mulai diperkenalkan keberadaannya. Bahwa anak difabel sama seperti anak lainnya yang keberadaannya ingin diakui di kalangan masyarakat tanpa dikucilkan.

Pendamping difabel Nurul menjelaskan, perlahan mereka memperkenalkan anak difabel kepada masyarakat sekitar kampung aren, dengan gerobak lingkar.

Tujuan gerobak lingkar dengan membawa anak difabel berkeliling membersihkan sampah disekitar jalan kampung dan perlahan masuk ke pekarangan warga.

"Kita masuk ke lingkungan itu, dan pelan-pelan kita perkenalkan adek difabel kepada masyarakat dengan cara gerobak lingkar," tandasnya.

Pun masyarakat sekitar mulai tergerak hatinya, dan mulai menerima keberadaan anak difabel di kampung aren sampai saat ini.

TINGGALKAN KOMENTAR