Dimana Kapal Roro Milik Bontang?

News - Noviyanto Rahmadi
25 Mei 2015
Dimana Kapal Roro Milik Bontang? Ketua Komisi II DPRD Bontang Ubayya Bengawan

KLIKBONTANG.com -- Keberadaan kapal Roro milik Bontang kembali dipertanyakan DPRD Bontang. Apalagi saat ini dewan mengaku, tak pernah tahu keberadaan aset milik Bontang itu saat ini.

Ketua Komisi II DPRD Bontang Ubayya Bengawan mengatakan, menyayangkan sikap Pemkot yang terkesan lambat dalam menyelesaikan persoalan kapal Roro.

“Jujur sebagai anggota DPRD kami saja tidak tahu dimana sekarang kapal Roro. Ada yang bilang sekarang lagi disewakan di Sumatera. Tapi ini gak tahu juga kebenarannya. Kalau sudah begini kan semua pihak jadi tidak tahu keberadaan sesungguhnya dimana,” kata dia, Senin (25/5/2015).

Harusnya kata Ubayya, persoalan kapal Roro bisa segera diselesaikan dengan cepat oleh Pemkot. Sebab, sampai saat ini tidak jelas seperti apa kontribusi kapal Roro ke PAD Bontang.

“Dulu kami sudah menyarankan ke pemkot agar kapal Roro itu dijual saja. Bukan sekadar fisiknya saja yang dijual. Tapi sama dengan sahamnya juga. Kalau tidak salah tahun lalu sudah kami usulkan. Bahkan ada yang berani beli dengan harga yang cukup menguntungkan Bontang. Tapi itu karena Pemkot lambat ya sekarang kami tidak tahu lagi kejelasan nasib Roro,” ungkapnya.

Apalagi kata dia, DPRD juga sudah mengingatkan pihak manajemen PT Perusda Aneka Usaha dan Jasa (AUJ) Bontang yang baru untuk meninjau ulang bisnis penyewaan kapal Roro kepada pihak ketiga.

Ubayya mengusulkan agar saham PT Bontang Transport, anak perusahaan Perusda AUJ yang mengelola kapal Roro, ditawarkan kepada pihak lain.

"Saya minta agar Direktur AUJ yang baru fokus menyelesaikan masalah kapal Roro. Usul saya lebih baik saham PT Bontang Transport, dijual saja," ujar Ubayya.

Bagi Ubayya, opsi penjualan saham PT Bontang Transport, lebih realistis ketimbang rencana penjualan langsung kapal Roro yang sudah diwacanakan Pemkot Bontang dan DPRD sejak 2012 lalu. Pasalnya, untuk menjual langsung kapal Roro diperlukan sejumlah persyaratan, seperti akta gross atau bukti dokumen kepemilikan kapal yang hingga kini tidak diketahui rimbanya.

Selain itu, Ubayya meyakini harga jual kapal Roro jika ditawarkan langsung kepada pembeli bakal dihargai rendah jika dibanding dengan skema penjualan dalam bentuk saham.

"Kalau dijual langsung, jelas harga kapal itu sangat rendah mengingat usianya sudah lebih 20 tahun. Tapi kalau modelnya jual saham, harganya bisa lebih menguntungkan," ujar Ubayya.

Menurut Ubayya, secara ekonomi bisnis penyewaan kapal Roro kepada pihak ketiga sebesar Rp 125 juta per bulan, sudah tidak laik dipertahankan. Sebab, meski tidak lagi membebani APBD, harga sewa sebesar Rp 125 juta per bulan diyakini tidak sebanding dengan nilai investasi pembelian kapal Roro menelan dana sekitar Rp 19,6 miliar.

Ubayya menyebut, dibutukan waktu sekira 13 sampai15 tahun untuk bisa mencapai posisi BEP atau Break Event Point alias balik modal.

"Kalau nunggu BEP, rasanya tidak mungkin. Apalagi setiap nilai penyusutan kapal ini sangat besar. Jadi lebih baik dijual sebelum nanti kapalnya jadi bangkai besi tua. Dalam waktu dekat ini kami akan memanggil Perusda," tutup Ubayya. (*)

Catatan Redaksi: Berita ini kami posting ulang karena telah terjadi gangguan teknis yang menyebabkan url berita dan database sebelumnya tidak aktif. 

TINGGALKAN KOMENTAR