Pedagang Tamrin Protes 'Kaltim Silent' Tebang Pilih, Ancam Gelar Lapak di Pinggir Jalan

News - Redaksi
08 Februari 2021
Pedagang Tamrin Protes 'Kaltim Silent' Tebang Pilih, Ancam Gelar Lapak di Pinggir Jalan Aksi protes pedagang Pasar Tamrin bertemu dengan UPTD Pasar, Senin, 8 Februari 2021.

KLIKKALTIM.COM - Sejumlah pedagang Pasar Taman Rawa Indah (Tamrin) menggelar aksi protes, terkait pemberlakuan 'Kaltim Silent' di UPT Pasar, Senin (8/2/21).

Penerapan Kaltim Silent pada tanggal 6-7 Februari 2021 lalu justru kembali menimbulkan konflik.

Salah satu pedagang pasar mengaku, pemberlakuan Kaltim Silent di anggap tidak merata. Lantaran masih banyak pedagang diluar pasar Tamrin yang masih berjualan.

"Kalau memang ikuti instruksi gubernur Kaltim, maka semuanya harus tutup, jangan tebang pilih," ujar Nasir salah satu pedagang ayam Pasar Tamrin.

Para pedagang pun mengancam, jika kebijakan ini dilanjutkan, mereka akan meninggalkan kios dan memilih berjualan di sepanjang Jalan KS Tubun, Tanjung Laut.

Aksi protes ini pun dilakukan pedagang dengan mendatangi kantor UPT Pasar di lantai 4 Pasar Tamrin sekira pukul 11.00 Wita.

Mereka bertemu Kepala UPT Pasar, Haedar untuk menyampaikan poin keberatan.

Namun saat hendak ditemui Haedar justru tidak berada di lokasi.

Kasubag TU UPT Pasar, Abdul Malik menyebutkan, saat ini dirinya tak bisa berkomentar banyak.

Seluruh tuntutan pedagang nantinya dilanjutkan ke kepala UPT Pasar.

"Jadi kami tampung dulu tuntuan bapak, ibu. Nanti kami lanjutkan ke atasan," ujarnya kepada pedagang.

Idris salah satu pedagang buah di Pasar Tamrin mengatakan,  pemberlakuan Kaltim Silent di Bontang terang saja membuat dirinya rugi secara materil akibat pasar ditutup.

"Coba lihat. Seperti jeruk ini yang sebelumnya hijau jadi tertinggal di jualan (Kios) kuning semua. Enggak akan begini kalau Sabtu-Minggu itu pasar buka," beber Idris sembari menunjuk barang dagangannya.

Menurutnya, kebijakan yang diterapkan selalu membuat pedagang pasar menjadikan pihak yang paling dirugikan. Pasalnya, setiap aturan yang dibuat, tidak pernah sampai kepada seluruh kalangan. Khususnya pedagang pasar.

Ia menilai kebijakan yang terapkan pemerintah tidak sensitif terhadap nasip warganya.

Pemerintah mestinya mengeluarkan kebijakan yang tidak membuat warga makin kesulitan hidup. 

Idris pun meminta kepada pemerintah untuk mengkaji ulang bila Kaltim Silent akan diberlakukan kembali.

Bila konsepnya masih sama seperti di pekan pertama lalu, yakni pasar ditutup total, pedagang mengancam akan meninggalkan kios mereka di Pasar Tamrin. Dan memilih berdagang di sepanjang Jalan KS Tubun.

Sebab, menurut idris, selama Kaltim Silent rupanya pedagang di pinggir jalan masih aman saja, bisa buka, dan tidak terkena razia. Beda halnya dengan pedagang di pasar yang dipaksa tutup oleh pemerintah.

"Kalau mau tutup, tutup semua. Jangan yang di pasar ditutup, yang di pinggir jalan boleh buka. Kalau begitu mending kami semua jualan di pinggir jalan juga," tukasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR