Batik Bontang Mampu Bersaing di Pasaran

Pemkot Bontang - Darwin Tri
20 Maret 2018
Batik Bontang Mampu Bersaing di Pasaran Para peserta pelatihan terlihat serius belajar membatik di Pondok Batik Etam Jalan Soekarno Hatta RT 25 Nomor 96 Kelurahan Gunung Telihan Kecamatan Bontang Barat, Senin, 19 Maret 2018. Foto: KLIKBONTANG/Darwin Tri

KLIKBONTANG.COM- Tumbuhkan minat warga sebagai pembatik, Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskop-UKMP) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bontang melatih sebanyak 20 wanita di Pondok Batik Etam Jalan Soekarno Hatta RT 25 Nomor 96 Kelurahan Gunung Telihan Kecamatan Bontang Barat, Senin, 19 Maret 2018.

Pelatihan berlangsung selama empat hari, 19-22 Maret 2018. Para peserta berasal dari Persatuan Ikatan Karyawan (PIKA) Pupuk Kaltim, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Persatuan Wanita Patra (PWP) Badak LNG, serta beberapa Kelurahan seperti Gunung Telihan, Lok Tuan, Kanaan, Bontang Baru, Berebas Tengah, dan Tanjung Laut.

\"Tujuannya melatih masyarakat agar mampu membuat motif batik khas daerah kemudian menekuni bidang kerajinan ini,\" Ujar Karlina, Plt Diskop-UKMP didampingi Hafidah, Ketua Dekranasda Bontang.

Karlina mengaku awalnya ide pelatihan rencananya hanya pada tingkat Rukun Tetangga (RT), namun pelaksanaannya dimulai di tingkat kelurahan. Adanya pelatihan ini guna menumbuhkan pengrajin terbaru dari empat pengrajin yang sudah lebih dulu merintis batik di Kota Taman seperti batik ewid, kuntul perak, etam dan pembatik di idonoaga--salah satu pusat oleh-oleh Kota Bontang.

Pada kesempatan kali ini, lanjut dia, Pondok Batik Etam menjadi tempat workshop karena memadai dan mampu menciptakan karya batik dengan menggunakan bahan alami yang berasal dari tumbuhan mangrove.

Diskop-UKMP berkomitmen akan membina dan membantu para pengrajin dalam memasarkan hasil karya batiknya. Jika memungkinkan, akan dibawa beberapa produk hasil pelatihan ini ke berbagai even misalnya Kaltim Fire yang dalam waktu dekat akan digelar.

\"Jika memungkinkan, rencananya kami akan membawa salah satu peserta untuk tampil mendemonstrasikan proses membatik pada stan di Kaltim Fire nanti,\" tegasnya.

Kendati nilai pasaran batik lokal masih tergolong tinggi yaitu mencapai Rp 150 ribu ke atas per itemnya, Karlina yakin produk batik asli para pengrajin daerah ini mampu bersaing dengan produk batik dari luar yang harganya cukup terjangkau. Banyak faktor yang melatarbelakangi nilai jualnya. Misalnya kerumitan proses produksi, bahan baku, seni dan hal lain. Seperti Batik Etam yang menggunakan bahan alami berupa mangrove pada pembuatannya. Hal itu menjadi cipta karya inovasi produk.

Dengan adanya para pengrajin lokal, banyak peluang yang mampu diraih pengrajin. Misalnya menangani pembuatan batik Pemkot Bontang atau terbaru pembagian seragam sekolah yang rencananya akan dibuat dengan motif kuntul perak.

Karlina berharap dengan bekal membatik inilah para peserta kedepan mampu mengembangkannya menjadi seorang pengrajin batik.

Hadir sekaligus berdiskusi bersama para peserta, Walikota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan yang dilakukan Pemkot Bontang adalah membangun kapasitas perempuan agar mampu menjadi mandiri.

Adanya pelatihan membatik ini sebagai langkah menumbuhkan pengrajin batik khas daerah. Dengan demikian, ekonomi kerakyatan juga akan terkena dampak baiknya. Jika mereka sudah mengetahui bagaimana proses membatik, bekal ilmu dan pengetahuan itulah yang akan mereka ajarkan kepada rekan-rekannya.

\"Untuk bahan baku batik saat ini memang semuanya dari daerah jawa atau balikpapan. Untuk itulah diperlukan sinergisitas dengan Pemkot Bontang, pengusaha dan organisasi-organisasi kewanitaan yang ada di Kota Bontang,\" imbaunya.

Di tempat sama, instruktur pelatihan membatik ini menerangkan di Kota Bontang, karya motif batik khas daerah masih sangat minim. Atas dasar tersebut, dirinya memulai pelatihan dengan menggali potensi dari para peserta untuk membuat karya motif batik yang dapat menjadi tambahan motif unggulan daerah.

\"Peserta kami ajarkan untuk membuat motif baru dengan kreatifitas dan kemampuan asli mereka sendiri. Dari sini tadi saya lihat banyak muncul motif baru dari para peserta. Ini menjadi kebanggan tersendiri, rupanya disini ada potensi yang sepeti itu,\" terang Agus Sudarmanto, instruktur sekaligus owner Batik Broto Balikpapan.

Dirinya mengaku sudah beberapa kali melatih warga Bontang dalam proses pembuatan batik. Namun, baru kali ini menemukan antusias yang sangat baik dari para peserta yang dimulai sejak pagi.

Ia memberikan pelatihan mulai dari pembuatan pola motif, teknik canting, menutup pola, teknik cap, pewarnaanhingga menjadi sebuah karya batik yang memiliki nilai jual. Dalam pelatihan, Ia mengajarkan pembuatan motif batik berupa sulur-sulur dayak. Namun original hasil karya buatan para peserta.

\"Sekilas saya melihat tadi ada hasil para peserta yang memiliki daya jual. Kalau ini dipupuk dengan sinergitas antara Pemkot dan pengusaha lokal yang sudah lebih dulu menekuni bidang batik, InsyaAllah akan menjadi ekonomi kreatif yang cukup diperhitungkan,\" ucapnya.

Sebelum mengawali usaha dibidang batik, Ia menyarankan untuk memastikan ketersediaan bahan baku terlebih dahulu. Sebelum menjangkau pasar yang lebih luas. Melihat antusias para peserta, ia yakin di Kota Bontang akan tumbuh produsen-produsen kerajinan batik dengan motif batik terbaru khas daerah.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR